Sebelum Pesan Boba, Perhatikan Gula dan Topping Tambahannya

Balquisse Kayla Putri • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 15:23 WIB
Minuman boba mengandung gula dalam jumlah yang berbeda-beda, bergantung pada ukuran, tingkat kemanisan, bahan dasar, dan topping yang digunakan. Penelitian terhadap satu porsi milk tea dengan tapioka menemukan kandungan sekitar 38 gram gula. (Pexels/Vitor Diniz)
Minuman boba mengandung gula dalam jumlah yang berbeda-beda, bergantung pada ukuran, tingkat kemanisan, bahan dasar, dan topping yang digunakan. Penelitian terhadap satu porsi milk tea dengan tapioka menemukan kandungan sekitar 38 gram gula. (Pexels/Vitor Diniz)

RADAR BANYUWANGI - Boba masih menjadi pilihan minuman favorit banyak orang. Rasanya manis, dingin, dengan bola tapioka yang kenyal. Namun, di balik kenikmatannya, ada asupan gula yang perlu diperhatikan.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 47,5 persen penduduk berusia 3 tahun ke atas mengonsumsi minuman manis setidaknya sekali sehari. Sebanyak 43,3 persen lainnya mengonsumsi minuman manis satu hingga enam kali seminggu.

Boba memang bukan satu-satunya sumber minuman manis. Namun, perpaduan teh atau susu, pemanis, serta aneka topping membuat kandungan gula dalam satu gelas bisa cukup tinggi.

Satu Gelas Bisa Mengandung 38 Gram Gula

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Food Science & Nutrition memberikan gambaran kandungan gula minuman boba.

Peneliti Jae Eun Min, David B. Green, dan Loan Kim menganalisis milk tea dan sejumlah topping yang dibeli dari gerai boba di Los Angeles, Amerika Serikat.

Hasilnya, satu porsi milk tea ukuran 473 mililiter dengan 60 gram bola tapioka mengandung sekitar 38 gram gula dan 299 kilokalori. Penambahan jelly dan puding membuat kandungan gula dan kalorinya semakin besar.

Angka tersebut tidak berarti semua boba mengandung tepat 38 gram gula. Resep, ukuran gelas, kadar kemanisan, dan topping setiap produk berbeda.

Namun, angka itu bisa menjadi gambaran betapa besar kontribusi satu minuman terhadap asupan gula harian.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menganjurkan konsumsi gula tidak lebih dari 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari.

Artinya, apabila satu gelas minuman mengandung 38 gram gula, jumlahnya sudah setara dengan sekitar 76 persen dari angka 50 gram tersebut.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes saat itu, Eva Susanti, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap enteng konsumsi gula berlebihan.

“Kesadaran akan bahaya konsumsi gula berlebihan sangatlah penting agar orang dapat terhindar dari penyakit serius,” kata Eva.

Bukan Sekadar Soal Boba

Yang perlu diwaspadai bukan boba sebagai satu jenis makanan atau minuman. Persoalannya adalah pola konsumsi gula secara keseluruhan.

Gula juga bisa datang dari kopi susu, teh manis, minuman bersoda, kue, makanan ringan, hingga saus. Karena itu, konsumsi satu gelas boba perlu dilihat bersama dengan makanan dan minuman lain yang masuk sepanjang hari.

WHO pada Januari 2026 menyoroti tingginya konsumsi minuman berpemanis di Indonesia. Organisasi itu menyebut hampir separuh penduduk berusia di atas 3 tahun mengonsumsi lebih dari satu minuman berpemanis setiap hari.

Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang menjadi perhatian karena berkaitan dengan peningkatan asupan energi, berat badan, obesitas, dan risiko penyakit tidak menular.

Namun, minum satu gelas boba tidak serta-merta menyebabkan diabetes atau obesitas. Risiko penyakit dipengaruhi pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, berat badan, faktor genetik, dan kondisi kesehatan.

Ada Nutri-Level, Minuman Manis Jadi Sorotan

Pemerintah kini mulai memperkuat informasi kandungan gizi pada pangan siap saji.

Pada 14 April 2026, Kemenkes menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang Pencantuman Label Gizi dan Pesan Kesehatan pada Pangan Olahan Siap Saji.

Salah satu instrumennya adalah Nutri-Level. Sistem tersebut mengelompokkan kandungan gula, garam, dan lemak jenuh dalam kategori A hingga D. Penilaian untuk minuman dihitung per 100 mililiter.

Pada tahap awal, penerapannya menyasar minuman berpemanis.

“Mayoritas kelebihan gula, kelebihan lemak itu ada minuman berpemanis,” ujar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar saat peluncuran kebijakan tersebut.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga meminta masyarakat memanfaatkan label tersebut sebelum memilih makanan dan minuman.

“Pastikan nanti kalau makan dan minum, pilih produk yang sehat, pilih yang A sama B,” kata Budi.

Tidak Harus Berhenti Minum Boba

Menikmati boba bukan berarti harus dihentikan sama sekali. Yang perlu dikendalikan adalah porsi dan total asupan gulanya.

Konsumen bisa memilih ukuran gelas lebih kecil, mengurangi tingkat kemanisan, serta tidak menambahkan terlalu banyak topping. Bila tersedia, informasi nilai gizi atau label Nutri-Level juga bisa menjadi pertimbangan sebelum membeli.

Perlu diingat, pilihan “less sugar” belum tentu membuat sebuah minuman rendah gula. Gula masih bisa berasal dari bahan dasar minuman, sirup, susu, pearl, maupun topping.

Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan tanpa menambah asupan gula.

Pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar seberapa sering boleh minum boba. Konsumen juga perlu bertanya: berapa banyak gula yang sudah masuk ke tubuh hari ini?

Editor : Lugas Rumpakaadi
Nutri-Level boba kandungan gula boba batas konsumsi gula minuman manis