RADAR BANYUWANGI - Wajah terasa lengket dan berminyak setelah seharian beraktivitas di luar rumah. Apalagi bagi mereka yang berkendara di jalan, terpapar debu dan polusi, berkeringat, serta menggunakan tabir surya atau riasan.
Kondisi tersebut kerap membuat seseorang ingin segera mencuci muka. Kebiasaan itu memang dapat membantu membersihkan kotoran, minyak, keringat, dan sisa produk yang menempel pada kulit. Namun, mencuci wajah terlalu sering atau menggosoknya terlalu keras justru berisiko memicu iritasi.
American Academy of Dermatology (AAD) merekomendasikan penggunaan pembersih wajah yang lembut dan tidak abrasif. Wajah umumnya cukup dibersihkan dua kali sehari serta setelah banyak berkeringat. Pembersih juga sebaiknya diaplikasikan menggunakan ujung jari, bukan spons atau waslap.
Polusi dan Jerawat Tidak Sesederhana Sebab-Akibat
Debu dan polusi kerap dianggap sebagai penyebab langsung jerawat. Padahal, jerawat merupakan kondisi multifaktor. Produksi minyak, penyumbatan folikel, peradangan, hormon, hingga berbagai faktor individual dapat berperan.
Meski demikian, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara polusi udara dan kondisi jerawat.
Studi yang dipublikasikan dalam Skin Pharmacology and Physiology menganalisis 59.325 kunjungan pasien jerawat di Beijing pada 2012–2014. Peneliti menemukan peningkatan konsentrasi PM2.5, PM10, dan nitrogen dioksida (NO₂) berkaitan dengan meningkatnya jumlah kunjungan pasien karena jerawat.
Namun, peneliti tidak menyebut polusi sebagai penyebab tunggal.
“Studi ini memberikan bukti tidak langsung mengenai hubungan antara acne vulgaris dan polusi udara.”
Dengan demikian, paparan polusi dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang perlu diperhatikan. Namun, seseorang yang terkena debu atau asap kendaraan tidak otomatis akan mengalami jerawat.
Perlukah Langsung Cuci Muka setelah Pulang?
Tidak ada aturan bahwa wajah harus selalu dicuci sesaat setelah seseorang tiba di rumah. Kebutuhannya bergantung pada aktivitas dan kondisi kulit.
Mencuci muka lebih relevan ketika wajah banyak berkeringat, terasa sangat berminyak atau kotor, atau masih menggunakan riasan dan tabir surya pada akhir hari.
Sebaliknya, terlalu sering mencuci muka belum tentu memberikan manfaat tambahan.
Uji klinis acak yang dipublikasikan dalam Pediatric Dermatology membandingkan kebiasaan mencuci wajah satu, dua, dan empat kali sehari pada pria dengan jerawat ringan hingga sedang. Secara keseluruhan, tidak ditemukan perbedaan statistik yang signifikan antarkelompok. Meski demikian, kelompok yang mencuci wajah dua kali sehari menunjukkan perbaikan pada komedo terbuka dan lesi noninflamasi.
Peneliti menyimpulkan terdapat sedikit dukungan terhadap anjuran mencuci wajah dua kali sehari menggunakan pembersih yang lembut.
Jangan Menggosok Wajah agar Terasa Kesat
Cara mencuci muka sama pentingnya dengan frekuensinya.
AAD menyarankan menggunakan air suam-suam kuku dan pembersih yang lembut. Wajah tidak perlu digosok menggunakan spons atau waslap karena gesekan dapat menyebabkan iritasi. Setelah dibilas, kulit dapat dikeringkan perlahan menggunakan handuk lembut.
Jika menggunakan riasan, AAD juga menyarankan membersihkannya sebelum tidur. Penghapus riasan dapat digunakan sebelum mencuci wajah jika diperlukan.
Pemilik kulit berminyak pun tidak perlu mengejar sensasi sangat kesat setelah mencuci muka. Kulit yang terasa tertarik, perih, atau sangat kering dapat menjadi tanda bahwa produk atau cara membersihkan wajah terlalu keras.
Dokter spesialis kulit Fatima Fahs, MD, FAAD, mengingatkan bahwa penanganan jerawat tidak dapat disamaratakan.
“Kulit setiap orang berbeda, dan penanganan jerawat bukan solusi yang bisa disamaratakan,” kata Fahs dalam keterangan AAD pada Mei 2025.
Ia menyarankan rutinitas perawatan kulit tetap lembut ketika seseorang menggunakan obat jerawat. Sebab, sejumlah produk antijerawat dapat menimbulkan kulit kering dan iritasi.
Studi 2026 Soroti Suhu Air
Penelitian terbaru juga menyoroti suhu air saat membersihkan wajah.
Uji klinis acak yang terbit pada 10 September 2026 melibatkan 52 orang dewasa. Peserta menggunakan air dingin atau hangat saat membersihkan wajah selama 10 hari.
Hasilnya, kelompok air hangat mengalami peningkatan transepidermal water loss (TEWL) sekitar 3,4 gram per meter persegi per jam pada hari ke-10. Peningkatan TEWL dapat menunjukkan terganggunya fungsi lapisan pelindung kulit.
Menariknya, kemampuan menghapus riasan tidak berbeda secara signifikan antara penggunaan air dingin dan air hangat.
Meski demikian, temuan tersebut belum menjadi alasan untuk mewajibkan penggunaan air dingin. Penelitian hanya melibatkan 52 peserta, berlangsung selama 10 hari, dan menggunakan satu produk pembersih tertentu. Sebagian peneliti juga berafiliasi dengan produsen produk yang digunakan dalam studi.
Untuk penggunaan sehari-hari, AAD masih menyarankan air suam-suam kuku.
Mencuci Muka Bukan Obat Jerawat
Mencuci wajah merupakan bagian dari perawatan kulit, tetapi bukan pengobatan tunggal untuk jerawat.
Karena itu, munculnya jerawat tidak serta-merta menunjukkan seseorang malas membersihkan wajah. Menggosok wajah lebih keras atau mencucinya berkali-kali juga bukan solusi.
Prinsipnya, bersihkan wajah dengan lembut, terutama setelah banyak berkeringat atau pada akhir hari. Hindari menggosok kulit, gunakan produk sesuai kebutuhan, dan perhatikan reaksi kulit setelah pemakaian.
Jika jerawat semakin berat, terasa nyeri, meninggalkan bekas luka, atau tidak membaik dengan perawatan mandiri, pemeriksaan ke dokter kulit dapat dipertimbangkan.
Editor : Lugas Rumpakaadi