RADAR BANYUWANGI - Cuaca panas masih perlu diwaspadai pada penghujung September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum lebih dari 37 derajat Celsius di sejumlah wilayah pada 24–27 September 2026.
Suhu tinggi antara lain terjadi di Kalimantan Selatan, Lampung, Jawa Tengah, dan Sulawesi Barat. BMKG menyebut minimnya tutupan awan di wilayah yang masih kering turut mendorong kenaikan suhu maksimum pada siang hari.
Kondisi tersebut perlu diperhatikan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Paparan panas membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan melalui keringat. Jika cairan yang keluar tidak segera diganti, risiko dehidrasi meningkat.
“Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari,” tulis BMKG dalam prakiraan cuaca sepekan 29 September–5 Oktober 2026.
Dehidrasi Bisa Picu Pusing
Dokter spesialis gizi klinik sekaligus Presiden Perhimpunan Nutrisi Indonesia, dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK(K), menjelaskan bahwa tubuh lebih mudah kehilangan cairan saat cuaca panas.
“Jika kehilangan cairan tidak diimbangi dengan asupan yang cukup, dapat terjadi dehidrasi,” kata Luciana seperti dikutip ANTARA, 16 September 2026.
Tanda dehidrasi dapat berupa rasa haus, mulut kering, sakit kepala, mudah lelah, pusing, hingga konsentrasi menurun. Pada lansia, risikonya bisa lebih sulit dikenali karena sensasi haus dapat berkurang.
Karena itu, masyarakat dianjurkan minum secara teratur tanpa menunggu rasa haus, terutama sebelum, selama, dan setelah beraktivitas di luar ruangan. Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari.
Tekanan Darah Rendah Tidak Selalu Berbahaya
Kekurangan cairan juga dapat menurunkan volume darah dan memicu tekanan darah turun pada sebagian orang. Kondisi tekanan darah di bawah 90/60 mmHg umumnya dikenal sebagai hipotensi.
Kementerian Kesehatan menyebut hipotensi dapat menimbulkan pusing, lemas, mual, pandangan kabur, sulit berkonsentrasi, hingga pingsan. Namun, tekanan darah rendah tidak selalu berbahaya.
“Hipotensi umumnya tidak bergejala dan dapat dialami oleh siapa saja,” tulis Kementerian Kesehatan dalam laman resminya.
Artinya, satu kali hasil pemeriksaan tekanan darah rendah belum cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami penyakit tertentu. Kondisi tersebut perlu dilihat bersama gejala, riwayat kesehatan, obat yang dikonsumsi, serta faktor pemicunya.
Pingsan Saat Panas Belum Tentu karena Hipotensi
Pusing atau pingsan ketika cuaca panas juga tidak selalu disebabkan tekanan darah rendah.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mengenal kondisi heat syncope, yakni pusing atau pingsan singkat yang dapat terjadi setelah seseorang berdiri terlalu lama atau berdiri mendadak setelah duduk atau berbaring. Dehidrasi dan tubuh yang belum beradaptasi dengan panas dapat ikut memicu kondisi tersebut.
Dokter RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr. Fadhilla Umami, menjelaskan bahwa sinkop atau pingsan merupakan kehilangan kesadaran dan kemampuan mempertahankan postur tubuh yang terjadi mendadak dan bersifat sementara.
Penyebabnya beragam. Selain hipotensi ortostatik, sinkop dapat berkaitan dengan refleks vasovagal, gangguan irama atau struktur jantung, gangguan neurologis, hingga efek obat tertentu.
“Penderita dengan sinkop berulang perlu dikaji dan dicari tahu penyebabnya,” tulis Fadhilla dalam laman Kementerian Kesehatan.
Karena itu, pingsan berulang tidak sebaiknya dianggap hanya akibat kelelahan atau “darah rendah”.
Kenali Tanda Gangguan akibat Panas
Keluhan akibat cuaca panas juga dapat berkembang menjadi heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. Gejalanya antara lain keringat berlebih, haus, lemas, pusing, sakit kepala, mual, muntah, dan kram otot.
Kondisi yang lebih serius adalah heat stroke. Dokter spesialis penyakit dalam RS Universitas Indonesia, dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD, mengingatkan bahwa gangguan ini dapat memengaruhi fungsi otak.
“Pada heat stroke, mulai muncul gangguan fungsi otak,” kata Faisal seperti dikutip ANTARA, 13 Agustus 2026.
Tandanya dapat berupa kebingungan, bicara tidak jelas, perilaku tidak normal, kejang, hingga penurunan kesadaran. Heat stroke merupakan kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.
Apa yang Harus Dilakukan?
Jika mulai merasa pusing, berkunang-kunang, atau seperti akan pingsan, segera hentikan aktivitas. Duduk atau berbaring di tempat aman. Jika keluhan muncul di bawah terik matahari, pindah ke tempat yang lebih sejuk.
Bila masih sadar penuh dan dapat menelan dengan baik, minumlah cairan secara perlahan. Jangan langsung berdiri setelah keluhan mereda. Ubah posisi tubuh secara bertahap dari berbaring, duduk, kemudian berdiri.
Jika menemukan orang yang pingsan, periksa respons dan pernapasannya. Jangan memberikan makanan atau minuman kepada orang yang belum sadar penuh karena berisiko tersedak.
Pertolongan medis diperlukan apabila pingsan terjadi berulang, berlangsung lama, atau disertai nyeri dada, sesak napas, detak jantung tidak teratur, kejang, cedera serius, atau penurunan kesadaran berkepanjangan.
Masyarakat juga tidak disarankan sembarangan menambah konsumsi garam hanya untuk menaikkan tekanan darah. Asupan natrium berlebihan dapat berisiko bagi orang dengan hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau kondisi kesehatan tertentu.
Kuncinya adalah menjaga kecukupan cairan, menghindari paparan panas terlalu lama, mengubah posisi tubuh secara perlahan, serta tidak mengabaikan pusing atau pingsan yang terjadi berulang. Sebab, keluhan tersebut tidak selalu sekadar “darah rendah” dan dapat memiliki penyebab lain yang perlu diperiksa.
Editor : Lugas Rumpakaadi