RADAR BANYUWANGI - Diabetes melitus bukan sekadar persoalan kadar gula darah yang tinggi. Jika tidak terkendali, penyakit ini dapat memicu komplikasi pada saraf, mata, kaki, ginjal, hingga jantung.
Masalahnya, sebagian kerusakan tersebut bisa berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas berdasarkan diagnosis dokter sebesar 2,2 persen. Namun, berdasarkan pemeriksaan gula darah, angkanya mencapai 11,7 persen.
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan menilai kesenjangan itu menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui status diabetesnya.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono juga mengingatkan bahwa penanganan diabetes tidak boleh berhenti pada pengendalian gula darah.
“Pengelolaan diabetes tidak berhenti pada pengendalian gula darah. Pencegahan komplikasi, termasuk retinopati diabetik, harus menjadi bagian dari penguatan pelayanan kesehatan yang terintegrasi,” kata Dante.
Dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi menyampaikan pesan serupa. Menurut dia, penyakit metabolik dapat berdampak luas pada tubuh.
“Diabetes, hipertensi, dan obesitas itu termasuk trio penyakit metabolic syndrome, alias penyakit terkait metabolisme di dalam tubuh yang bisa menyebar ke mana-mana,” ujar dr. Tirta.
Secara medis, diabetes tidak benar-benar “menyebar” dari satu organ ke organ lain seperti infeksi. Kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah, saraf, dan jaringan tubuh sehingga memicu berbagai komplikasi.
Kaki Kesemutan Bisa Jadi Tanda Gangguan Saraf
Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah neuropati diabetik atau gangguan saraf akibat diabetes.
“Kalau sarafnya terganggu karena kurang energi, terjadinya diabetes neuropati, orangnya gampang kesemutan, gampang baal di daerah kaki,” kata dr. Tirta.
Keluhannya dapat berupa kesemutan, rasa terbakar, nyeri, kebas, atau mati rasa, terutama pada kaki.
Namun, neuropati tidak selalu menimbulkan gejala. American Diabetes Association (ADA) dalam Standards of Care in Diabetes 2026 menyebut hingga sekitar 50 persen kasus neuropati perifer diabetik dapat tidak bergejala.
Hilangnya sensasi membuat penderita terkadang tidak menyadari adanya lecet atau luka pada kaki.
Luka Kaki Jangan Dianggap Sepele
Luka kecil pada kaki penderita diabetes perlu mendapat perhatian. Neuropati dapat membuat luka tidak terasa. Pada saat yang sama, gangguan aliran darah dapat memperlambat penyembuhan.
“Kalau terjadinya pembusukan, nah itu jadi nekrosis. Jadi ada luka terbuka gara-gara gula darahnya terlalu tinggi, proses penyembuhannya jadi terhambat,” ujar dr. Tirta.
Dokter spesialis bedah vaskular Andrew Jackson Yang menjelaskan, persoalan luka kaki pada penderita diabetes tidak hanya terjadi di permukaan kulit.
“Diabetes tidak hanya berkaitan dengan gula darah, tapi juga menyerang pembuluh darah. Luka pada kaki itu bukan masalah kulit semata,” katanya.
Gangguan pembuluh darah dapat mengurangi suplai darah ke jaringan. Jika disertai infeksi berat dan kerusakan jaringan, risiko amputasi ikut meningkat.
Mata Bisa Rusak Tanpa Terlihat dari Luar
Diabetes juga dapat menyebabkan retinopati diabetik, yakni kerusakan retina akibat diabetes.
“Kalau terganggu di retina jadinya diabetes retinopati, terganggunya penglihatan dikarenakan kadar gula terlalu tinggi,” jelas dr. Tirta.
Yang perlu diwaspadai, retinopati bisa berkembang ketika penderita belum merasakan gangguan penglihatan.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Universitas Gadjah Mada Prof. Muhammad Bayu Sasongko mengatakan, kerusakan tersebut berada di bagian belakang bola mata.
“Retinopati diabetik lokasinya ada di dalam bola mata bagian belakang, sehingga dari luar tidak kelihatan sama sekali,” kata Bayu.
Karena itu, kondisi retina tidak cukup dinilai hanya dari keluhan atau tampilan mata. Pemeriksaan mata berkala diperlukan untuk mendeteksi perubahan lebih dini.
Ginjal Juga Bisa Rusak Diam-Diam
Komplikasi diabetes juga dapat mengenai ginjal.
“Diabetes tidak terkontrol itu bisa menyebar dan merusak semua organ tubuh, yang akhirnya merusak pada ginjal,” kata dr. Tirta.
Dalam konteks medis, diabetes dapat merusak pembuluh darah kecil dan sistem penyaringan ginjal secara bertahap.
ADA menyebut penyakit ginjal kronis ditemukan pada sekitar 20–40 persen orang dengan diabetes. Kondisi tersebut dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
Dokter spesialis penyakit dalam RS Universitas Indonesia dr. Anindia Larasati menekankan pentingnya memeriksa fungsi ginjal pada pasien diabetes.
“Jangan hanya mengobati diabetesnya saja atau jangan hanya mengobati tensinya saja, tapi juga fungsi ginjalnya juga harus kita evaluasi,” kata Anindia.
Pemeriksaan fungsi ginjal antara lain dilakukan melalui estimated glomerular filtration rate (eGFR) serta pemeriksaan albumin dalam urine.
Risiko Jantung dan Stroke Ikut Meningkat
Dampak diabetes tidak berhenti pada pembuluh darah kecil. Diabetes juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Risikonya dapat semakin besar jika penderita juga mengalami hipertensi, gangguan kolesterol, obesitas, atau memiliki kebiasaan merokok.
Karena itu, pengelolaan diabetes tidak cukup hanya berfokus pada angka gula darah.
Tekanan darah, kolesterol, berat badan, kondisi ginjal, mata, kaki, serta faktor risiko penyakit jantung juga perlu dipantau.
Jangan Tunggu Gejala Muncul
Kesemutan atau mati rasa yang menetap, luka kaki yang sulit sembuh, serta perubahan penglihatan perlu diperhatikan oleh penderita diabetes.
Namun, tidak adanya keluhan bukan berarti tubuh bebas dari komplikasi.
Neuropati dapat terjadi tanpa gejala. Retinopati tidak terlihat dari luar. Gangguan ginjal pun dapat berkembang tanpa keluhan pada tahap awal.
Itulah sebabnya pemeriksaan rutin tetap penting.
Mengendalikan gula darah sesuai target yang ditetapkan bersama dokter, menjaga tekanan darah dan kolesterol, aktif bergerak, mengikuti terapi, serta melakukan pemeriksaan mata, kaki, dan ginjal secara berkala dapat membantu mencegah atau memperlambat komplikasi.
Diabetes bukan hanya soal menurunkan angka gula darah. Tujuan pengelolaannya juga menjaga saraf, mata, kaki, ginjal, jantung, dan pembuluh darah tetap terlindungi dalam jangka panjang.
Editor : Lugas Rumpakaadi