Sinusitis Sering Kambuh, Benarkah Tubuh Bisa Jadi Kebal? Ini Penjelasannya

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 12:01 WIB
Ilustrasi sinusitis. Peradangan pada rongga sinus dapat menimbulkan hidung tersumbat, keluarnya lendir, serta rasa nyeri atau tekanan di sekitar wajah. (Pexels/kaboompics)
Ilustrasi sinusitis. Peradangan pada rongga sinus dapat menimbulkan hidung tersumbat, keluarnya lendir, serta rasa nyeri atau tekanan di sekitar wajah. (Pexels/kaboompics)

RADAR BANYUWANGI - Sinusitis yang sering kambuh tidak membuat tubuh menjadi kebal. Sebab, gangguan pada sinus tidak selalu disebabkan oleh kuman yang sama, bahkan tidak semuanya dipicu infeksi bakteri.

Sinusitis atau rinosinusitis merupakan peradangan pada rongga sinus dan hidung. Kondisi ini dapat berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri. Pada kasus yang berlangsung lama atau berulang, alergi, polip hidung, gangguan anatomi, hingga masalah sistem imun juga dapat berperan.

Karena penyebabnya beragam, membiarkan sinusitis berulang bukan cara untuk "melatih" sistem kekebalan tubuh.

Kenapa Sinusitis Bisa Menimbulkan Nyeri Wajah?

Sinus merupakan rongga berisi udara yang berada di sekitar hidung, pipi, dahi, dan mata. Dalam kondisi normal, lendir dari sinus dialirkan menuju rongga hidung dengan bantuan silia, yakni struktur menyerupai rambut halus.

Ketika terjadi peradangan, jaringan di hidung dan sinus dapat membengkak. Aliran lendir pun terganggu sehingga muncul rasa penuh, tekanan, atau nyeri pada wajah.

Dokter sekaligus kreator konten kesehatan dr. Tirta menjelaskan bahwa gangguan tersebut dapat membuat lendir tertahan.

"Ketika terjadi infeksi pada sinus, akhirnya silia-silia ini berhenti mengalirkan lendir dan lendirnya terperangkap," ujar dr. Tirta dalam videonya.

Namun, sakit kepala atau nyeri wajah saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami sinusitis. Diagnosis perlu mempertimbangkan gejala lain dan pemeriksaan klinis.

Sering Kambuh Tak Berarti Makin Kebal

Sistem kekebalan tubuh memang dapat membentuk memori terhadap antigen tertentu setelah terpapar infeksi. Namun, mekanisme itu tidak membuat seseorang kebal terhadap semua penyebab sinusitis.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut virus menjadi penyebab sebagian besar infeksi sinus, meski sebagian kasus dapat disebabkan bakteri.

Selain infeksi, sejumlah kondisi dapat membuat masalah sinus terus berulang.

Karena itu, keluhan yang kerap muncul justru perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebabnya.

Pembaruan pedoman Clinical Practice Guideline: Adult Sinusitis yang diterbitkan American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery Foundation (AAO-HNSF) pada 2025 menekankan diagnosis yang akurat, penggunaan obat secara tepat, dan terapi berbasis bukti.

Ketua tim penyusun pedoman, Spencer C. Payne, MD, mengatakan pembaruan tersebut memberikan rekomendasi berbasis bukti yang diharapkan dapat menghasilkan penanganan lebih baik bagi pasien.

"Pembaruan pedoman ini memberdayakan pasien dan tenaga kesehatan dengan rekomendasi berbasis bukti yang dapat menghasilkan luaran lebih baik," kata Payne dalam pernyataan AAO-HNSF. Pernyataan tersebut diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Sinusitis Berulang Berbeda dengan Sinusitis Kronis

Istilah sinusitis "sering kambuh" juga perlu diperjelas. Sinusitis akut berulang tidak sama dengan rinosinusitis kronis.

Kriteria AAO-HNSF mendefinisikan recurrent acute rhinosinusitis sebagai empat atau lebih episode rinosinusitis bakterial akut dalam satu tahun, tanpa gejala rinosinusitis di antara episode tersebut.

Sementara itu, rinosinusitis kronis ditandai gejala yang berlangsung selama 12 minggu atau lebih. Gejalanya antara lain hidung tersumbat, keluarnya lendir, nyeri atau tekanan pada wajah, dan penurunan kemampuan mencium bau.

Diagnosis kondisi kronis juga membutuhkan bukti adanya peradangan melalui pemeriksaan hidung, endoskopi, atau pencitraan sesuai indikasi.

Karena itu, seseorang yang merasa sinusitisnya tidak kunjung sembuh sebaiknya tidak mendiagnosis kondisi kronis sendiri.

Dokter spesialis THT RSUD Liun Kendage Tahuna, dr. Nancy CH Simorangkir, Sp.T.H.T.K.L., juga mengingatkan pentingnya perawatan berkelanjutan untuk mencegah keluhan berulang.

"Setelah tindakan pun pasien harus tetap rajin kontrol, membersihkan hidung, dan menjaga kualitas hidup agar keluhan tidak kambuh," ujarnya seperti diberitakan RRI, 21 April 2026.

Tidak Semua Sinusitis Butuh Antibiotik

Sinusitis juga tidak otomatis harus ditangani dengan antibiotik.

CDC menyebut infeksi bakteri lebih dicurigai apabila gejala berat berlangsung lebih dari tiga hingga empat hari, menetap lebih dari 10 hari tanpa membaik, atau kembali memburuk setelah sebelumnya sempat membaik.

Pedoman AAO-HNSF 2025 juga memperluas pendekatan watchful waiting atau observasi sebagai pilihan awal pada banyak kasus sinusitis bakterial tanpa komplikasi, selama pasien dapat dipantau dengan baik.

Artinya, warna lendir atau hidung tersumbat saja tidak cukup menjadi alasan untuk mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan dokter.

Cuci Hidung Boleh, tetapi Jangan Pakai Air Keran Langsung

Irigasi atau cuci hidung dengan larutan saline dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu meredakan gejala.

Namun, keamanan air yang digunakan perlu diperhatikan.

CDC mengingatkan agar cuci hidung menggunakan air distilasi, air steril, atau air keran yang telah direbus kemudian didinginkan. Air keran tidak disarankan digunakan langsung untuk membilas sinus karena dapat mengandung mikroorganisme yang berbahaya apabila masuk melalui hidung.

Meski kasusnya jarang, infeksi serius akibat mikroorganisme seperti Naegleria fowleri dan Acanthamoeba pernah dikaitkan dengan penggunaan air yang tidak aman untuk membilas hidung.

Kapan Harus Periksa?

Pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan jika gejala berlangsung lebih dari 10 hari tanpa membaik, kembali memburuk setelah sempat mereda, atau infeksi sinus terjadi berulang kali dalam setahun.

Dr. Tirta juga mengingatkan agar masyarakat tidak mendiagnosis sinusitis sendiri.

"Sinusitis ini menjadi ranah dokter spesialis THT. Jika kalian mendapatkan perawatan sinusitis, itu harus dipantau sama dokter Sp.THT dan jangan pernah diagnosis diri sendiri!" kata dr. Tirta.

Jadi, sinusitis yang sering kambuh bukan tanda tubuh sedang membentuk kekebalan. Justru, keluhan berulang perlu dicari penyebabnya agar terapi dapat disesuaikan dan penggunaan obat yang tidak diperlukan, termasuk antibiotik, dapat dihindari.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Dokter THT sinusitis sinusitis kronis sinusitis berulang kesehatan hidung