Diet Tinggi Protein Bikin Asam Urat Naik? Ini Penjelasan soal Purin dan Ginjal

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 10:19 WIB
Ilustrasi makanan sumber protein. Jenis sumber protein dan kandungan purin, selain jumlah yang dikonsumsi, ikut berperan dalam kaitan pola makan dengan kadar asam urat. (Pexels/Iwan Wasyl)
Ilustrasi makanan sumber protein. Jenis sumber protein dan kandungan purin, selain jumlah yang dikonsumsi, ikut berperan dalam kaitan pola makan dengan kadar asam urat. (Pexels/Iwan Wasyl)

RADAR BANYUWANGI - Diet tinggi protein kerap dipilih untuk membantu membentuk massa otot atau menurunkan berat badan. Namun, pola makan ini juga sering dikaitkan dengan kenaikan kadar asam urat dan risiko gangguan ginjal.

Dokter Tirta Mandira Hudhi menyoroti hubungan antara konsumsi protein, asam urat, dan fungsi ginjal dalam salah satu video di kanal YouTube miliknya.

"Asam urat itu salah satu produk sampah atau limbah yang dihasilkan dari pengolahan protein," kata dr Tirta.

Secara medis, asam urat lebih tepat disebut sebagai produk akhir dari pemecahan purin. Purin terdapat secara alami di dalam tubuh dan juga ditemukan dalam berbagai jenis makanan.

Sejumlah makanan tinggi protein hewani, seperti jeroan, daging merah, dan beberapa jenis makanan laut, juga mengandung purin tinggi. Karena itu, kenaikan asam urat tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya protein yang dikonsumsi.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Ray Rattu, SpPD, juga menegaskan bahwa kaitan tersebut berhubungan dengan kandungan purin.

"Asam urat atau uric acid itu adalah hasil metabolisme terhadap protein yang mengandung kadar purin yang tinggi," ujarnya seperti dikutip detikHealth.

Studi Ungkap Perbedaan Sumber Protein

Sebuah studi prospektif yang diterbitkan di New England Journal of Medicine mengikuti 47.150 pria tanpa riwayat gout selama 12 tahun.

Peneliti mencatat 730 kasus baru gout. Kelompok dengan konsumsi daging tertinggi memiliki risiko gout 41 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah. Pada kelompok dengan konsumsi makanan laut tertinggi, risikonya 51 persen lebih tinggi.

Namun, peneliti tidak menemukan peningkatan risiko gout yang berkaitan dengan total asupan protein.

"Tingkat konsumsi sayuran kaya purin dan asupan protein total tidak berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit asam urat," tulis para peneliti.

Hasil serupa terlihat dalam analisis data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) terhadap 14.809 orang dewasa di Amerika Serikat.

Konsumsi daging dan makanan laut berkaitan dengan kadar asam urat yang lebih tinggi. Sebaliknya, konsumsi produk susu berkaitan dengan kadar yang lebih rendah.

"Asupan protein total tidak berhubungan dengan kadar asam urat serum dalam analisis multivariat," tulis peneliti.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sumber protein dan kandungan purin perlu diperhatikan, bukan hanya total protein harian.

Ginjal Berperan Membuang Asam Urat

Selain jenis makanan, kondisi ginjal turut menentukan kadar asam urat.

Ginjal berperan besar dalam membuang urat dari tubuh melalui urine. Ketika fungsi ginjal menurun, proses pembuangan asam urat dapat terganggu sehingga kadarnya lebih mudah meningkat dalam darah.

"Seberapa banyak protein yang bisa meningkatkan asam urat itu tergantung kesehatan ginjal," ujar dr Tirta.

Ia memberikan contoh bahwa toleransi terhadap protein dapat berbeda antara orang dengan ginjal sehat dan mereka yang fungsi ginjalnya terganggu.

"Kalau ginjalnya sehat, dia mau makan 2 gram per kg berat badan ya akan aman-aman aja. Tapi kalau ginjalnya enggak bagus kerjanya, makan 1 gram per kg berat badan aja asam uratnya bisa naik," katanya.

Meski demikian, angka tersebut tidak dapat dijadikan batas aman untuk semua orang.

Meta-analisis yang terbit pada 2026 dan mencakup 22 uji acak terkontrol pada orang dewasa tanpa penyakit ginjal kronis menemukan bahwa diet tinggi protein meningkatkan estimasi laju filtrasi glomerulus atau eGFR. Namun, tidak ditemukan bukti biokimia kerusakan ginjal yang konsisten.

"Diet tinggi protein dikaitkan dengan peningkatan eGFR tanpa bukti biokimia yang konsisten tentang cedera ginjal," tulis para peneliti.

Artinya, peningkatan kerja ginjal setelah konsumsi protein lebih tinggi tidak otomatis menandakan kerusakan ginjal. Kendati demikian, sebagian besar penelitian berlangsung dalam waktu relatif singkat sehingga dampak jangka panjang masih perlu diteliti.

Pasien Penyakit Ginjal Perlu Lebih Berhati-hati

Kondisinya berbeda pada penderita penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD).

Pedoman Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) 2024 menyarankan asupan protein sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan per hari pada orang dewasa dengan CKD stadium G3–G5.

KDIGO juga menyarankan pasien CKD yang berisiko mengalami progresi penyakit menghindari asupan protein tinggi di atas 1,3 gram per kilogram berat badan per hari.

Dokter transplantasi ginjal Dr Srivatsa A juga mengingatkan bahwa pola makan ekstrem perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.

"Pola makan yang ekstrem bisa menjadi masalah, tergantung pada jumlah protein, garam, cairan, dan nutrisi lain yang dikonsumsi, serta kesehatan ginjal seseorang," ujarnya dalam pemberitaan detikHealth.

Asam Urat Tinggi Bukan Otomatis Penyakit Ginjal

Dr Tirta juga menyarankan pemeriksaan fungsi ginjal ketika kadar asam urat berada pada angka yang sangat tinggi.

"Kalau batasnya naik sampai 10 sama 11, berarti yang masalah ginjalmu. Harus dicek fungsi ginjal," ujarnya.

Namun, kadar asam urat 10–11 mg/dL tidak otomatis membuktikan adanya gangguan ginjal. Hasil tersebut perlu dinilai bersama fungsi ginjal, pola makan, penggunaan obat tertentu, berat badan, riwayat gout, hingga kondisi metabolik lainnya.

Nefrolog Dr Udit Gupta mengatakan hasil pemeriksaan asam urat tidak boleh langsung dianggap sebagai diagnosis tunggal.

"Oleh karena itu, hasil yang sedikit meningkat tunggal harus dilihat sebagai temuan yang membutuhkan konteks, bukan sebagai diagnosis itu sendiri," ujarnya kepada The Indian Express.

Kadar asam urat yang terus tinggi dapat meningkatkan risiko pembentukan kristal monosodium urat pada persendian dan memicu gout. Pada sebagian orang, kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan pembentukan batu asam urat.

Jadi, Haruskah Diet Tinggi Protein Dihindari?

Tidak selalu.

Pada orang dengan fungsi ginjal normal, bukti yang tersedia belum menunjukkan bahwa total protein yang lebih tinggi otomatis menyebabkan gout atau kerusakan ginjal.

Hal yang perlu diperhatikan adalah sumber protein, kandungan purin, jumlah yang dikonsumsi, serta kondisi kesehatan masing-masing.

Orang dengan penyakit ginjal kronis, riwayat gout, kadar asam urat tinggi berulang, batu ginjal, diabetes, atau hipertensi sebaiknya tidak menjalani diet tinggi protein secara ekstrem tanpa berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

Dr Tirta juga menyarankan masyarakat meningkatkan aktivitas fisik, rutin memeriksakan kesehatan, dan mengatur pola makan.

"Cara mengontrolnya, tingkatkan aktivitas fisik, berobat rutin ke dokter atau puskesmas, kurangi minyak, kurangi makanan manis atau karbo berlebih, dan atur asupan protein sampai berat badan mencapai taraf ideal," jelasnya.

Intinya, kenaikan asam urat saat menjalani diet tinggi protein tidak hanya ditentukan oleh jumlah protein. Jenis sumber protein, kandungan purin, serta kemampuan ginjal membuang asam urat juga perlu diperhatikan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
dr Tirta gout diet tinggi protein penyakit ginjal asam urat