RADAR BANYUWANGI - Bertambahnya usia tidak otomatis membuat seseorang harus rutin mengonsumsi berbagai vitamin dan suplemen.
Kebutuhan zat gizi memang dapat berubah seiring proses penuaan. Namun, konsumsi suplemen tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, pola makan, obat-obatan yang digunakan, serta ada atau tidaknya kekurangan zat gizi tertentu.
Dokter Tirta Mandira Hudhi atau dr Tirta mengatakan, suplemen pada dasarnya hanya berfungsi sebagai tambahan.
“Tidak harus. Suplemen itu definisinya adalah tambahan, namanya tambahan bisa diminum, bisa tidak,” kata dr Tirta dalam video di kanal YouTube miliknya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga menegaskan bahwa suplemen bukan obat dan tidak ditujukan untuk menggantikan pola makan bergizi.
“Suplemen kesehatan bukan berfungsi mengobati, tetapi dapat melengkapi kebutuhan zat gizi, memelihara, serta meningkatkan atau memperbaiki fungsi kesehatan,” ujar Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Mohamad Kashuri.
Cek Kondisi Tubuh Terlebih Dahulu
Menurut dr Tirta, pemeriksaan kesehatan perlu menjadi perhatian ketika seseorang memasuki usia lanjut.
“Kalau sudah tua disarankan nge-check up. Check up itu mengetahui sejauh mana organ tubuh kita berada,” jelasnya.
Kondisi kesehatan setiap orang berbeda. Dua orang dengan usia sama belum tentu memiliki fungsi organ, pola makan, aktivitas fisik, penyakit penyerta, maupun kebutuhan nutrisi yang sama.
Karena itu, usia semata tidak cukup menjadi alasan untuk mengonsumsi suplemen tertentu.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga menekankan pentingnya pemeriksaan dan deteksi dini pada kelompok lanjut usia. Pemeriksaan berkala dapat membantu menemukan faktor risiko atau penyakit lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Jangan Asal Minum Kalsium
Dr Tirta mencontohkan seseorang berusia sekitar 50 tahun yang mulai khawatir mengalami pengeroposan tulang, lalu langsung mengonsumsi kalsium dalam jumlah banyak.
Menurut dia, keputusan itu sebaiknya tidak dilakukan tanpa mengetahui kondisi kesehatan terlebih dahulu, termasuk fungsi ginjal.
“Perlu tidaknya kalian konsumsi suplemen itu harus check up terlebih dahulu,” ujarnya.
Kalsium memang dibutuhkan untuk menjaga tulang dan mendukung sejumlah fungsi tubuh. Namun, konsumsi dalam jumlah berlebihan tidak otomatis memberikan manfaat lebih besar.
Office of Dietary Supplements di National Institutes of Health (NIH), Amerika Serikat, mencatat konsumsi kalsium berlebihan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Sejumlah penelitian juga mengaitkan penggunaan suplemen kalsium dengan risiko batu ginjal, meski hasil penelitiannya belum sepenuhnya konsisten.
Artinya, asupan kalsium perlu dihitung dari seluruh sumber, baik makanan maupun suplemen.
Ada Lansia yang Memang Membutuhkan Suplemen
Meski tidak semua lansia membutuhkan suplemen, ada kondisi tertentu yang membuat suplementasi diperlukan.
Dokter spesialis gizi klinik dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, dr. Rozana Nurfitri Yulia, M.Gizi, Sp.GK, menjelaskan bahwa penyerapan vitamin B12 dapat menurun seiring bertambahnya usia.
“Kalau itu berkurang karena faktor usia, suplementasi adalah solusinya,” kata Rozana.
Selain vitamin B12, vitamin D juga perlu mendapat perhatian. NIH menyebut orang lanjut usia memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan vitamin D karena kemampuan kulit memproduksi vitamin tersebut berkurang seiring usia.
Namun, kondisi itu bukan berarti seluruh lansia harus langsung mengonsumsi vitamin B12, vitamin D, kalsium, dan berbagai suplemen lainnya sekaligus.
Kebutuhan setiap orang tetap berbeda.
Makanan Tetap Jadi Fondasi
Pemenuhan nutrisi pada lansia tetap sebaiknya mengutamakan makanan bergizi seimbang.
Dokter spesialis gizi klinik Universitas Indonesia Dr. dr. Inge Permadhi, Sp.GK(K), menekankan pentingnya kecukupan energi dan nutrisi pada kelompok lanjut usia.
“Makanan itu harus mencukupi kebutuhan kalori dan bergizi, sehingga lansia mendapatkan berat badan yang ideal dan sehat,” kata Inge.
Menu juga perlu disesuaikan dengan kondisi lansia, termasuk kemampuan mengunyah, kesehatan gigi, penyakit penyerta, dan nafsu makan.
Kemenkes menganjurkan konsumsi makanan beragam, sayur dan buah, sumber protein, serta makanan yang mengandung kalsium. Kecukupan cairan dan aktivitas fisik juga perlu diperhatikan.
Multivitamin Bukan Jaminan Hidup Lebih Lama
Anggapan bahwa konsumsi multivitamin setiap hari otomatis membuat seseorang lebih sehat juga perlu dilihat secara hati-hati.
Penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open pada 2024 menganalisis data 390.124 orang dewasa di Amerika Serikat. Median usia peserta sekitar 61,5 tahun.
Hasil penelitian tidak menemukan hubungan antara konsumsi multivitamin setiap hari dan penurunan risiko kematian pada orang dewasa yang umumnya sehat.
Temuan tersebut tidak berarti semua suplemen tidak bermanfaat. Suplemen tetap dapat dibutuhkan pada orang yang mengalami kekurangan zat gizi atau memiliki kondisi tertentu.
Perhatikan Interaksi dengan Obat
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah interaksi suplemen dengan obat.
Lansia sering menggunakan lebih dari satu jenis obat untuk menangani penyakit kronis. Vitamin, mineral, suplemen, atau produk herbal tertentu dapat memengaruhi kerja obat.
NIH, misalnya, mencatat vitamin K dapat mengurangi efektivitas obat pengencer darah seperti warfarin.
Karena itu, dokter atau apoteker perlu mengetahui seluruh obat dan suplemen yang dikonsumsi pasien.
Kesimpulannya, usia lanjut bukan alasan untuk otomatis menambah berbagai suplemen.
Pola makan bergizi tetap menjadi dasar. Sementara itu, suplemen digunakan sebagai tambahan apabila memang diperlukan berdasarkan kondisi kesehatan, pola makan, penggunaan obat, serta penilaian tenaga kesehatan.
Pesan dr Tirta sederhana, jangan menentukan kebutuhan suplemen hanya berdasarkan usia. Ketahui kondisi tubuh terlebih dahulu sebelum memutuskan mengonsumsinya secara rutin.
Editor : Lugas Rumpakaadi