RADAR BANYUWANGI - Penggunaan ponsel, komputer, dan perangkat digital kini sulit dipisahkan dari keseharian pelajar. Gawai dipakai untuk belajar, mencari informasi, menonton video, bermain gim, hingga berkomunikasi.
Namun, waktu di depan layar yang terlalu panjang perlu diimbangi dengan aktivitas fisik. Penelitian terbaru yang terbit di JAMA Pediatrics pada 28 September 2026 kembali menyoroti hubungan penggunaan layar dengan perkembangan anak dan remaja.
Penelitian tersebut merupakan umbrella review terhadap 23 meta-analisis yang mencakup 2.817.252 anak dari 64 negara. Hasilnya menunjukkan paparan media berbasis layar berkaitan dengan pencapaian akademik dan perkembangan bahasa yang lebih rendah, serta lebih tingginya sejumlah masalah emosional dan perilaku.
Meski demikian, temuan tersebut menunjukkan hubungan atau asosiasi. Bukan membuktikan bahwa layar menjadi penyebab langsung.
Peneliti juga tidak menemukan hubungan signifikan pada semua aspek. Nilai matematika, sains, dan membaca, misalnya, tidak menunjukkan asosiasi yang signifikan dalam data yang dianalisis.
Pakar sosiologi dari University of Zaragoza, Tatiana Íñiguez Berrozpe, mengingatkan bahwa konteks penggunaan layar perlu diperhitungkan.
“Penggunaan layar saja tidak menjelaskan mengapa seorang remaja mengalami tekanan emosional atau berprestasi lebih buruk secara akademik,” ujarnya dalam tanggapan yang dihimpun Science Media Centre.
Menurut dia, yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah jam. Jenis perangkat, tujuan penggunaan, usia anak, dan aktivitas yang tergantikan juga penting. Mengerjakan tugas dengan komputer, misalnya, tidak sama dengan berjam-jam menggulir konten hiburan.
Duduk Terlalu Lama Perlu Dibatasi
Selain isi dan tujuan penggunaan gawai, lamanya waktu duduk perlu mendapat perhatian. WHO menyebut perilaku sedentari sebagai aktivitas dengan pengeluaran energi rendah saat seseorang terjaga, seperti duduk, bersandar, atau berbaring.
Pada anak dan remaja, tingginya perilaku sedentari berkaitan dengan peningkatan lemak tubuh, kebugaran dan kesehatan kardiometabolik yang lebih buruk, serta durasi tidur yang lebih pendek.
WHO menganjurkan anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat per hari sepanjang pekan.
Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, dr. Lulus Hardiyanti, SpKFR(K), juga menyoroti kebiasaan malas bergerak pada anak.
Dalam artikel yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Lulus menulis, “Anak dengan pola hidup sedenter akan mudah lelah saat beraktivitas, memiliki kebugaran dan daya tahan yang kurang.”
Ia juga menjelaskan bahwa paparan screen time berlebihan dapat mengganggu konsentrasi, performa akademik, dan kemampuan mengelola emosi.
Aktivitas fisik dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana. Mulai bermain di luar rumah, bersepeda, bermain bola, hingga melakukan olahraga yang lebih terstruktur pada anak yang lebih besar dan remaja.
Beri Jeda untuk Bergerak
Raka, seorang pengguna gawai, mengaku terkadang tidak menyadari berapa lama waktu yang dihabiskannya dengan ponsel.
“Kalau sedang menonton video atau bermain HP, kadang tidak sadar sudah lama duduk. Sekarang saya mencoba berhenti sebentar untuk berjalan atau melakukan kegiatan lain,” ujarnya.
Jeda seperti itu dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi waktu sedentari. Pelajar bisa menyelingi kegiatan belajar dan penggunaan gawai dengan berjalan, melakukan peregangan, bersepeda, bermain di luar rumah, atau berolahraga.
Mengurangi waktu sedentari bukan berarti meninggalkan perangkat digital. Gawai tetap penting untuk pendidikan, komunikasi, dan hiburan.
Yang perlu dijaga adalah keseimbangan agar penggunaan layar tidak terus-menerus menggantikan waktu untuk bergerak, tidur, dan berinteraksi langsung.
Editor : Lugas Rumpakaadi