RADAR BANYUWANGI - Bermain ponsel sebelum tidur sering membuat waktu istirahat molor tanpa terasa. Niat membuka media sosial atau menonton video sebentar bisa berujung begadang hingga larut malam.
Fajar, salah seorang pelajar, pernah mengalaminya. Ia mengaku kerap kehilangan waktu saat menggunakan ponsel pada malam hari.
“Kalau sudah bermain HP biasanya lupa waktu. Besoknya terasa mengantuk saat sekolah. Sekarang saya mencoba berhenti menggunakan HP sebelum tidur,” ujarnya.
Kebiasaan tidur terlalu larut perlu menjadi perhatian. Kementerian Kesehatan melalui RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro menyebutkan, remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 8–10 jam setiap malam.
Kurangnya kualitas dan kuantitas tidur dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari. Remaja dapat mengalami penurunan kewaspadaan, konsentrasi, motivasi belajar, hingga perubahan kondisi emosional.
Persoalan tidur pada remaja juga menjadi perhatian para peneliti di sejumlah negara. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics pada 2026 menganalisis data 401.160 remaja di Amerika Serikat yang dikumpulkan pada periode 1991–2023.
Penelitian itu menemukan kecenderungan penurunan durasi tidur dalam beberapa dekade terakhir. Pada periode 2021–2023, sekitar 37,2 persen responden berusia 12–13 tahun melaporkan tidur setidaknya tujuh jam. Pada kelompok usia 18–19 tahun, angkanya sekitar 22,3 persen.
Data tersebut berasal dari Amerika Serikat sehingga tidak dapat langsung digunakan untuk menggambarkan kondisi remaja di Indonesia. Namun, temuan itu menunjukkan bahwa kurang tidur menjadi persoalan yang juga mendapat perhatian secara global.
Peneliti utama dari University of Minnesota School of Public Health, Rachel Widome, menyoroti tren tersebut.
“Yang mencolok bukan hanya remaja tidak mendapatkan tidur yang cukup, tetapi juga bagaimana waktu tidur terus menurun selama lebih dari tiga dekade,” ujarnya.
Penggunaan Gawai hingga Malam Hari
Di Indonesia, penggunaan gawai telah menjadi bagian dari keseharian anak dan remaja. Perangkat digital digunakan untuk belajar, berkomunikasi, bermain gim, hingga mengakses media sosial.
Studi Save the Children Indonesia 2025 yang diberitakan ANTARA pada Januari 2026 mencatat hampir 40 persen anak usia SMP menghabiskan sekitar tiga hingga enam jam per hari di depan gawai. Puncak penggunaan terjadi pada pukul 18.00–21.00.
CEO Save the Children Indonesia Dessy Kurwiany Ukar mengatakan, pemahaman mengenai risiko digital perlu diikuti kemampuan mengambil tindakan yang tepat.
“Anak-anak tahu risiko di ruang digital, tapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup,” katanya.
Tingginya penggunaan gawai tidak serta-merta membuktikan bahwa ponsel menjadi penyebab utama kurang tidur. Namun, penggunaan perangkat hingga malam hari dapat mengurangi waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat.
Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, juga mengingatkan perlunya mengurangi penggunaan perangkat elektronik menjelang tidur.
“Satu jam sebelum tidur matikan semua gadget, handphone, layar monitor, TV, dll,” tulis Lahargo dalam artikel edukasi kesehatan Kementerian Kesehatan.
Ia menjelaskan, gangguan tidur dapat berdampak pada kondisi fisik maupun psikologis. Masalah tersebut juga dapat berkaitan dengan stres, kecemasan, dan depresi.
Ponsel di Kamar Tidur Turut Diteliti
Hubungan antara penggunaan smartphone dan tidur remaja juga diteliti dalam studi yang diterbitkan JAMA Pediatrics pada Juni 2026.
Penelitian terhadap 1.959 remaja di Amerika Serikat menemukan bahwa kepemilikan smartphone pada usia 13 tahun berkaitan dengan kemungkinan mengalami tidur kurang dari delapan jam pada usia 14 tahun.
Pada remaja yang telah memiliki smartphone, durasi penggunaan yang lebih lama juga berasosiasi dengan kemungkinan kurang tidur yang lebih tinggi.
Meski demikian, penelitian tersebut bersifat observasional. Artinya, hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan, bukan membuktikan bahwa smartphone menjadi penyebab langsung kurang tidur.
Salah satu temuan menarik berkaitan dengan tempat ponsel disimpan saat malam hari. Remaja yang meletakkan smartphone di luar kamar tidur dilaporkan memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami kekurangan tidur.
Penulis senior penelitian sekaligus psikiater anak di Children’s Hospital of Philadelphia, Ran Barzilay, mengatakan kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko.
“Kebiasaan sederhana tampaknya dapat mengurangi dampak buruk,” ujarnya.
Para peneliti juga mendorong keluarga untuk membuat batas penggunaan ponsel dan mempertimbangkan meletakkan perangkat di luar kamar tidur pada malam hari.
Mulai dari Kebiasaan Sederhana
Memperbaiki pola tidur dapat dimulai dengan langkah sederhana. Remaja disarankan memiliki jadwal tidur dan bangun yang relatif konsisten setiap hari.
RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro juga menyarankan penggunaan perangkat elektronik dikurangi menjelang tidur. Aktivitas yang lebih tenang, seperti membaca atau melakukan relaksasi, dapat menjadi pilihan.
Konsumsi kopi serta makanan dalam jumlah besar menjelang tidur juga sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu kualitas istirahat.
Bagi pelajar, ponsel memang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Perangkat tersebut memiliki banyak manfaat, termasuk menunjang kegiatan belajar. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar penggunaan teknologi, melainkan juga waktu dan cara menggunakannya.
Seperti yang mulai dilakukan Fajar, berhenti menggunakan ponsel sebelum tidur dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga waktu istirahat.
Apabila kesulitan tidur berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sekolah atau kehidupan sehari-hari, Kementerian Kesehatan menyarankan konsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Editor : Lugas Rumpakaadi