8 November 1895, Eksperimen Röntgen yang Mengubah Cara Dokter Melihat Tubuh Manusia

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 08:56 WIB
Potret Wilhelm Conrad Röntgen. (Wikimedia Commons)
Potret Wilhelm Conrad Röntgen. (Wikimedia Commons)

RADAR BANYUWANGI - Pada 8 November 1895, fisikawan Jerman Wilhelm Conrad Röntgen sedang bereksperimen dengan tabung sinar katoda di Universitas Würzburg.

Di tengah eksperimen, ia melihat layar fluoresen di dekat peralatannya berpendar meskipun tabung telah ditutup sehingga cahaya tampak tidak seharusnya mengenainya.

Röntgen menduga ada jenis radiasi yang belum dikenal keluar dari tabung.

Pengamatan tersebut kemudian membuka jalan bagi teknologi yang memungkinkan dokter melihat struktur di dalam tubuh tanpa harus melakukan pembedahan.

Radiasi itu kemudian dikenal sebagai sinar-X atau X-rays.

Berawal dari eksperimen di ruangan gelap

Pada akhir abad ke-19, sejumlah fisikawan sedang mempelajari fenomena yang muncul ketika listrik bertegangan tinggi dialirkan melalui tabung kaca bertekanan rendah.

Röntgen melakukan eksperimen serupa.

Ia menutup tabung dengan bahan hitam, tetapi sebuah layar yang dilapisi bahan fluoresen di dekatnya tetap berpendar.

Ia kemudian menempatkan berbagai benda di antara tabung dan layar.

Radiasi tersebut ternyata mampu melewati beberapa material yang tidak dapat ditembus cahaya biasa.

Temuannya dituangkan dalam laporan Über eine neue Art von Strahlen atau On a New Kind of Rays, yang disampaikan kepada Physical-Medical Society of Würzburg pada akhir Desember 1895.

Dalam laporan tersebut, Röntgen menjelaskan hasil ketika tangan ditempatkan di depan layar fluoresen.

“Jika tangan diletakkan di depan layar fluoresen, bayangan tulang terlihat gelap, sementara jaringan di sekitarnya hanya tampak samar.”

Kutipan tersebut merupakan terjemahan dari laporan asli Röntgen dan menjadi salah satu deskripsi awal mengenai kemampuan sinar-X menampilkan struktur di dalam tubuh.

Huruf “X” digunakan untuk menandai sesuatu yang ketika itu belum diketahui sifatnya.

Tangan Anna Bertha menjadi gambar ikonik

Salah satu eksperimen paling terkenal dilakukan menggunakan tangan istrinya, Anna Bertha Röntgen.

Röntgen menempatkan tangan Anna Bertha di antara sumber radiasi dan pelat fotografi.

Setelah pelat dikembangkan, tulang-tulang tangan dan cincin yang dikenakannya terlihat jelas.

Menurut arsip Nobel Prize, gambar tersebut menjadi salah satu radiograf awal yang menunjukkan potensi besar sinar-X.

Bagi masyarakat akhir abad ke-19, melihat tulang manusia dari luar tubuh merupakan sesuatu yang sangat baru.

Foto tersebut menunjukkan bahwa teknologi baru ini bukan hanya menarik bagi fisikawan, tetapi juga berpotensi besar untuk kedokteran.

Berita penemuan menyebar cepat

Informasi mengenai eksperimen Röntgen dengan cepat menyebar ke luar Jerman.

Pada 5 Januari 1896, surat kabar Wina Die Presse menerbitkan berita mengenai penemuan tersebut.

Berdasarkan dokumentasi Nobel Prize, surat kabar itu bahkan telah melihat potensi medis sinar-X.

“Penemuan ini dapat memberikan bantuan yang tak ternilai dalam diagnosis berbagai penyakit.”

Beberapa pekan kemudian, jurnal Nature menerbitkan terjemahan penelitian Röntgen.

British Medical Journal juga membahas teknologi baru tersebut, sementara Scientific American mulai memuat eksperimen sinar-X di Amerika Serikat.

Di Yale, fisikawan Arthur W. Wright termasuk ilmuwan Amerika yang dengan cepat mencoba teknologi tersebut.

Yale School of Medicine mencatat bahwa pada Januari 1896 ia sudah menghasilkan gambar sinar-X.

Kecepatan penyebarannya menunjukkan betapa cepat sebuah eksperimen laboratorium berubah menjadi fenomena ilmiah internasional.

Mengapa tulang terlihat jelas?

Dalam radiografi, sinar-X diarahkan melewati tubuh.

Sebagian radiasi diserap atau dihamburkan, sementara sisanya mencapai detektor.

Jaringan dan material tubuh memiliki kemampuan berbeda dalam melemahkan sinar-X.

Tulang menyerap radiasi lebih kuat dibandingkan banyak jaringan lunak sehingga menghasilkan kontras yang berbeda pada gambar.

Menurut Food and Drug Administration atau FDA, prinsip tersebut memungkinkan radiografi digunakan untuk berbagai pemeriksaan, termasuk evaluasi tulang, gigi, dada, dan sejumlah kebutuhan medis lainnya.

Teknologi ini kemudian berkembang menjadi fluoroskopi dan computed tomography atau CT yang juga menggunakan sinar-X.

Namun tidak semua pencitraan medis menggunakan radiasi tersebut.

MRI memanfaatkan medan magnet dan gelombang radio, sedangkan ultrasonografi menggunakan gelombang suara.

Dari mendeteksi penyakit menuju memahami kesehatan

Lebih dari satu abad setelah temuan Röntgen, pencitraan medis terus berkembang.

Georges El Fakhri, profesor Radiology and Biomedical Imaging di Yale School of Medicine, menggambarkan perubahan arah tersebut.

“Salah satu perubahan paradigma adalah beralih dari pencitraan penyakit menuju pencitraan kesehatan.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pencitraan modern tidak hanya digunakan ketika penyakit telah muncul, tetapi juga semakin diarahkan untuk memahami kondisi tubuh secara lebih dini dan mendalam.

Keselamatan radiasi menjadi bagian penting

Pada masa awal penggunaan sinar-X, risiko paparan radiasi belum dipahami sebaik sekarang.

Kini sinar-X diketahui termasuk radiasi pengion.

Karena itu penggunaannya harus mempertimbangkan manfaat pemeriksaan dan meminimalkan paparan yang tidak diperlukan.

FDA menekankan prinsip optimasi dosis, yaitu menggunakan paparan serendah mungkin yang masih mampu menghasilkan gambar berkualitas untuk kebutuhan medis.

RSUD Genteng Banyuwangi juga menyampaikan pesan serupa dalam edukasi kesehatan yang diterbitkan pada Juni 2026.

“Rontgen aman jika dilakukan sesuai prosedur dan memiliki tujuan medis yang jelas.”

Dari laboratorium Röntgen hingga Banyuwangi

Lebih dari 130 tahun setelah eksperimen Röntgen, pemeriksaan berbasis sinar-X telah menjadi bagian pelayanan kesehatan di berbagai daerah, termasuk Banyuwangi.

RSUD Genteng mencantumkan radiologi sebagai salah satu layanan penunjang medisnya.

RSUD Blambangan juga memiliki Instalasi Radiologi dengan layanan seperti X-ray dan CT scan.

Sementara Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi mencantumkan layanan X-ray, CT scan, ultrasonografi, panoramic, dan pemeriksaan radiologi lainnya.

Perjalanannya sangat panjang.

Pada 1895, Röntgen masih mencoba memahami mengapa sebuah layar di laboratoriumnya tiba-tiba bercahaya.

Beberapa minggu kemudian, dunia mulai melihat potensi medis penemuannya.

Pada 1901, Röntgen menjadi penerima Nobel Fisika pertama.

Apa yang bermula dari eksperimen di sebuah ruangan gelap akhirnya mengubah cara dokter melihat tubuh manusia dan menjadi salah satu fondasi terpenting dalam sejarah pencitraan medis.

Editor : Lugas Rumpakaadi
sejarah sinar-X Wilhelm Conrad Röntgen penemuan sinar-X sejarah radiologi teknologi radiologi