RADAR BANYUWANGI - Tenggorokan mulai gatal, hidung tersumbat, lalu segelas air es mendadak menjadi tersangka. “Jangan minum es, nanti batuk pileknya makin parah,” menjadi nasihat yang begitu akrab di banyak keluarga Indonesia.
Anggapan itu bahkan masih sering muncul setiap kali seseorang mulai bersin atau batuk. Namun, benarkah suhu minuman bisa membuat selesma atau common cold bertambah berat?
Jawaban singkatnya, air es bukan penyebab demam yang umum (common cold). Namun, pada sebagian orang, minuman yang sangat dingin dapat menimbulkan sensasi tidak nyaman atau memengaruhi saluran napas untuk sementara.
Kuncinya adalah membedakan antara penyebab infeksi dan pemicu gejala sementara.
Selesma disebabkan virus, bukan air es
Jika yang dimaksud adalah selesma atau common cold, penyebabnya adalah infeksi virus pada saluran pernapasan atas.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskannya secara lugas.
“Pilek adalah infeksi virus pada saluran pernapasan atas.”
Artinya, selesma merupakan infeksi virus pada saluran pernapasan atas. CDC mencatat lebih dari 200 virus pernapasan dapat menyebabkan common cold, dengan rhinovirus sebagai penyebab yang paling sering ditemukan di Amerika Serikat.
Dokter spesialis anak dr. Meta Hanindita, Sp.A., juga pernah menegaskan bahwa batuk pilek jenis common cold berkaitan dengan virus, bukan semata-mata karena anak minum sesuatu yang dingin.
“Common cold atau batuk pilek disebabkan virus, yang tersering Rhinovirus, tapi kondisi ini dapat sembuh sendiri,” terangnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Meta dalam pemberitaan Suara.com mengenai anggapan bahwa es krim menyebabkan anak batuk dan pilek.
Dengan demikian, seseorang tidak terserang common cold hanya karena baru minum air dingin atau es.
Hal yang juga perlu diluruskan, istilah “flu” dan “pilek” sering dipakai bergantian dalam percakapan sehari-hari. Secara medis, influenza dan common cold merupakan penyakit berbeda. Influenza hanya disebabkan virus influenza, sedangkan common cold dapat disebabkan oleh berbagai virus pernapasan.
Kalau bukan penyebab, mengapa setelah minum es kadang batuk terasa lebih berat?
Pengalaman itu tidak selalu sekadar sugesti.
Air dingin memang tidak menciptakan infeksi virus, tetapi penelitian menunjukkan suhu minuman dapat menyebabkan perubahan fisiologis sementara pada saluran pernapasan.
Sebuah uji acak silang yang diterbitkan dalam Respiratory Physiology & Neurobiology pada 2023 menguji 10 orang dewasa sehat. Peserta menjalani pemeriksaan fungsi paru sebelum dan setelah meminum 500 mililiter atau 1.000 mililiter air dingin sekitar 2 derajat Celsius, serta air bersuhu ruang sekitar 18 derajat Celsius.
Setelah konsumsi satu liter air dingin, peneliti menemukan penurunan sementara pada forced vital capacity (FVC) dan forced expiratory volume in one second (FEV1). Efeknya lebih kecil ketika volume air dingin hanya 500 mililiter.
Sebaliknya, peneliti menulis, “Air bersuhu ruang tidak berpengaruh terhadap fungsi paru-paru.”
Mereka juga menyimpulkan peserta sebaiknya menghindari air dingin dalam jumlah besar tepat sebelum pemeriksaan fungsi paru, karena dapat memengaruhi hasil spirometri.
Temuan ini penting, tetapi jangan ditarik terlalu jauh. Penelitian tersebut hanya melibatkan 10 orang sehat dan tidak menguji apakah air es memperlama atau memperberat infeksi common cold.
Dengan kata lain, penelitian itu menunjukkan adanya efek fisiologis sementara, bukan bukti bahwa air dingin membuat virus semakin banyak atau penyakit menjadi lebih lama.
Respons setiap orang pun bisa berbeda.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Raissa E. Djuanda, Sp.GK., mengatakan orang yang sedang mengalami flu atau batuk pilek pada dasarnya masih dapat mengonsumsi makanan dan minuman tertentu selama tidak menambah rasa tidak nyaman.
“Sebenarnya masih boleh dikonsumsi, asalkan tubuh terasa nyaman saja dan tidak memperparah gejala,” terangnya.
Raissa menyampaikan penjelasan tersebut kepada detikHealth pada Oktober 2025 ketika membahas konsumsi air es dan makanan tertentu saat batuk pilek. Ia menekankan bahwa makanan atau minuman tersebut bukan penyebab flu itu sendiri.
Prinsip praktisnya, bila minuman dingin membuat tenggorokan terasa semakin tidak nyaman atau memicu batuk pada seseorang, tidak ada salahnya beralih ke air bersuhu ruang atau hangat.
Sebaliknya, bila tidak menimbulkan keluhan, suhu dingin saja tidak dapat dianggap sebagai penyebab common cold.
Mengapa air hangat sering terasa lebih melegakan?
Ada pula bukti ilmiah bahwa minuman hangat dapat memberikan rasa nyaman saat seseorang sedang mengalami gejala saluran pernapasan.
Peneliti A. Sanu dan R. Eccles melakukan uji terhadap 30 orang yang mengalami gejala common cold atau flu. Peserta mendapatkan minuman buah dalam kondisi panas atau pada suhu ruang.
Hasilnya menarik. Minuman panas tidak menghasilkan perubahan objektif pada pengukuran aliran udara hidung, tetapi peserta melaporkan perbaikan subjektif pada sejumlah gejala.
Dalam abstraknya, peneliti menulis, “Minuman panas tersebut memberikan kelegaan segera dan berkelanjutan dari gejala hidung meler, batuk, bersin, sakit tenggorokan, rasa menggigil, dan kelelahan.”
Dengan kata lain, minuman panas membuat peserta merasa lebih lega dari keluhan seperti pilek, batuk, bersin, sakit tenggorokan, menggigil, dan rasa lelah.
Namun, hasil tersebut juga bukan bukti bahwa air hangat membunuh virus.
Faktanya, penelitian tidak menemukan perbaikan objektif pada aliran udara melalui hidung. Efek yang dirasakan kemungkinan berhubungan dengan rasa nyaman, produksi air liur, sekresi saluran napas, ataupun faktor lain yang dibahas oleh para peneliti.
Jadi, jika secangkir air hangat terasa membantu saat sakit, silakan diminum. Tetapi manfaat itu tidak otomatis berarti kebalikannya, air dingin, menjadi penyebab penyakit.
Air dingin bukan penyebab, tetapi kenyamanan tiap orang berbeda
Nasihat untuk menjauhi es ketika sakit sering kali lahir karena sebagian orang memang merasakan tenggorokan lebih sensitif setelah mengonsumsi sesuatu yang sangat dingin.
Itulah sebabnya pengalaman pribadi tidak sepenuhnya harus diabaikan.
Yang perlu diluruskan adalah hubungan sebab akibatnya.
Merasa batuk setelah minum es tidak otomatis berarti es menyebabkan infeksi. Bisa saja saluran napas memang sedang meradang atau sensitif sehingga rangsangan suhu membuat refleks batuk lebih mudah muncul.
Sebuah artikel kesehatan terbaru ANTARA pada 26 September 2026 juga mengangkat kembali mitos mengenai es dan batuk. Artikel tersebut menegaskan bahwa suhu air es tidak dengan sendirinya menciptakan infeksi atau virus dalam tubuh.
Topik serupa juga dibahas detikHealth pada Januari 2026 karena pengalaman masyarakat memang beragam, sebagian orang tidak mengalami masalah setelah minum es, sedangkan sebagian lainnya merasa batuknya lebih mudah terpicu.
Karena itu, pilihan suhu minuman dapat disesuaikan dengan respons tubuh masing-masing.
Yang lebih penting adalah menjaga kecukupan cairan
Daripada hanya memperdebatkan air hangat atau dingin, hal yang lebih penting ketika mengalami common cold adalah tetap memenuhi kebutuhan cairan.
CDC menyarankan penderita common cold untuk cukup beristirahat dan minum cairan sebagai bagian dari perawatan gejala di rumah. Common cold sendiri umumnya membaik tanpa pengobatan khusus, sedangkan antibiotik tidak efektif terhadap virus penyebabnya.
Namun, “cukup cairan” tidak berarti seseorang harus memaksa diri minum sebanyak-banyaknya.
Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan tubuh dan mencegah dehidrasi. Bila air dingin membuat seseorang lebih mudah minum dan tidak menimbulkan keluhan, tidak ada alasan untuk menjadikannya pantangan mutlak.
Sebaliknya, jika tenggorokan terasa lebih nyaman dengan air hangat, pilihan itu juga masuk akal.
Jadi, bolehkah minum air es saat batuk pilek?
Pada kebanyakan orang, boleh.
Air es bukan penyebab common cold dan tidak membuat virus penyebab selesma muncul atau berkembang biak hanya karena suhu minumannya rendah.
Namun, penelitian menunjukkan air yang sangat dingin dalam jumlah tertentu dapat menghasilkan perubahan sementara pada fungsi saluran pernapasan. Pada orang yang merasa suhu dingin memicu batuk, mengi, atau rasa tidak nyaman, memilih air bersuhu ruang atau hangat dapat menjadi pilihan yang lebih nyaman.
Yang tidak tepat adalah menyamakan rasa tidak nyaman sementara tersebut dengan penyebab infeksi.
Saat terserang batuk pilek, fokuslah pada istirahat, kecukupan cairan, dan perkembangan gejala.
Sebagian besar common cold akan membaik sendiri. Namun, CDC menyarankan mencari pertolongan medis jika muncul kesulitan atau napas cepat, dehidrasi, demam berlangsung lebih dari empat hari, gejala lebih dari 10 hari tanpa perbaikan, atau kondisi sempat membaik kemudian kembali memburuk. Penyakit kronis yang memburuk selama infeksi juga perlu dievaluasi tenaga kesehatan.
Jadi, ketika batuk pilek datang berikutnya, segelas air es tidak perlu otomatis menjadi tersangka utama. Yang lebih penting adalah memahami penyebab penyakit dan memperhatikan bagaimana tubuh merespons apa yang diminum.
Editor : Lugas Rumpakaadi