RADAR BANYUWANGI - Radang atau inflamasi tidak selalu menandakan tubuh sedang melawan bakteri atau virus. Pada penyakit autoimun, peradangan justru bisa muncul karena sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan sehat milik tubuh sendiri.
Dalam kondisi normal, sistem imun berfungsi sebagai benteng pertahanan. Berbagai sel kekebalan mengenali dan melawan mikroorganisme atau zat asing yang dianggap berbahaya.
Pada saat yang sama, tubuh memiliki mekanisme agar sistem pertahanan itu tidak menyerang sel dan jaringan sendiri. Mekanisme tersebut dikenal sebagai toleransi imun.
Pentingnya mekanisme itu kembali menjadi sorotan setelah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2025 diberikan kepada Mary E. Brunkow, Fred Ramsdell, dan Shimon Sakaguchi atas penemuan mengenai toleransi imun perifer.
Penelitian mereka antara lain mengungkap peran sel T regulator yang membantu mengendalikan respons kekebalan agar tidak menyerang tubuh sendiri.
"Penemuan mereka sangat menentukan bagi pemahaman kita tentang cara kerja sistem imun dan alasan kita tidak semuanya mengalami penyakit autoimun yang serius," kata Ketua Komite Nobel Olle Kämpe dalam keterangan Nobel Assembly.
Ketika mekanisme pengendalian tersebut terganggu, sistem kekebalan dapat kehilangan toleransi terhadap jaringan tubuh sendiri. Dari sinilah proses autoimun dapat berkembang.
Dokter Gia Pratama Putra menggambarkannya seperti pasukan keamanan yang kehilangan ketepatan sasaran.
"Pasukan kita yang luar biasa itu, senjatanya dahsyat, disiplinnya luar biasa, tiba-tiba salah sasaran. Rakyat sendiri yang diserang oleh tentaranya. Tentara dan polisi yang seharusnya melindungi malah menyerbu rakyat sendiri," ujar dr. Gia dalam podcast bersama Raditya Dika.
Analogi tersebut menggambarkan salah satu karakter utama autoimunitas. Sistem yang seharusnya melindungi tubuh justru mengarahkan serangan kepada bagian tubuh sendiri.
Sistem Imun Salah Mengenali Target
Autoimun bukan satu jenis penyakit. Istilah tersebut mencakup lebih dari 100 kondisi yang dapat menyerang bagian tubuh berbeda.
Pada rheumatoid arthritis, misalnya, peradangan terutama menyerang persendian. Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan menghancurkan sel beta pankreas yang menghasilkan insulin.
Sementara itu, lupus dapat memengaruhi berbagai organ, mulai kulit dan sendi hingga ginjal, paru-paru, pembuluh darah, dan organ lainnya.
Kunci sistem kekebalan yang sehat adalah kemampuan membedakan benda asing dengan bagian tubuh sendiri. Dalam imunologi, kemampuan itu disebut toleransi.
Ketika sel atau antibodi yang bereaksi terhadap jaringan tubuh sendiri lolos dari mekanisme pengendalian tersebut, proses autoimun dapat terjadi.
Respons tersebut juga tidak hanya melibatkan antibodi. Sel B, sel T, autoantibodi, sitokin, dan berbagai komponen sistem imun dapat terlibat dengan pola yang berbeda pada setiap penyakit.
Serangan imun itu kemudian dapat memicu peradangan. Bila terjadi terus-menerus, inflamasi dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Artinya, seseorang dengan penyakit autoimun dapat mengalami peradangan meski tidak ada bakteri atau virus yang sedang menginfeksi jaringan tersebut.
Mengapa Tubuh Bisa Menyerang Diri Sendiri?
Hingga kini, belum ditemukan satu penyebab yang dapat menjelaskan seluruh penyakit autoimun.
"Ada gabungan faktor risiko, tidak berdiri salah satu, ya. Bisa dari genetiknya, bisa karena hormonal, bisa karena pengaruh lingkungan, banyak faktor. Sampai sekarang tidak ada penyebab spesifik, sama seperti kanker," jelas dr. Gia.
Pemahaman ilmiah saat ini juga menunjukkan bahwa penyakit autoimun bersifat multifaktorial.
Faktor genetik dapat membuat seseorang lebih rentan. Namun, memiliki kerentanan genetik tidak berarti seseorang pasti akan mengalami penyakit autoimun.
Faktor lain, termasuk paparan lingkungan, kemudian dapat ikut berperan. Sejumlah penelitian antara lain mempelajari kaitan penyakit autoimun dengan infeksi tertentu, asap rokok, polutan, silika, dan bahan kimia tertentu.
Namun, faktor pemicu berbeda pada setiap penyakit. Karena itu, infeksi, stres, polusi, maupun gaya hidup tidak dapat disebut sebagai penyebab tunggal seluruh penyakit autoimun.
Mengapa Autoimun Lebih Banyak Dialami Perempuan?
Ada fakta lain yang sejak lama mengundang perhatian peneliti. Sebagian besar penderita penyakit autoimun adalah perempuan.
National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat menyebut sekitar empat dari lima orang yang didiagnosis penyakit autoimun adalah perempuan.
Selama bertahun-tahun, hormon dianggap menjadi salah satu faktor yang mungkin menjelaskan perbedaan tersebut. Namun, penelitian terbaru menunjukkan jawabannya kemungkinan jauh lebih kompleks.
Selain hormon, ilmuwan kini mempelajari peran genetik, epigenetik, sistem imun, serta kromosom X.
Salah satu penelitian yang menarik perhatian diterbitkan dalam jurnal Cell pada 2024. Penelitian itu menyoroti molekul RNA bernama XIST atau Xist.
Perempuan umumnya memiliki dua kromosom X. Untuk mencegah sel menghasilkan produk gen dalam jumlah berlebihan, salah satu kromosom X perlu dinonaktifkan. XIST memiliki peran penting dalam proses tersebut.
Tim peneliti yang dipimpin ilmuwan Stanford University, Howard Chang, menemukan Xist berinteraksi dengan banyak protein. Sejumlah protein itu ternyata dapat menjadi sasaran autoantibodi.
Dalam percobaan pada tikus jantan yang direkayasa untuk menghasilkan Xist, peneliti mendapati penyakit menyerupai lupus menjadi lebih berat pada tikus yang memang memiliki kerentanan genetik.
Peneliti juga memeriksa sampel manusia.
"Pasien dengan penyakit autoimun menunjukkan autoantibodi yang bermakna terhadap berbagai komponen kompleks XIST RNP," tulis Diana R. Dou dan tim dalam penelitian tersebut.
Temuan itu memberikan petunjuk baru mengenai kemungkinan peran kromosom X dalam tingginya kasus penyakit autoimun pada perempuan.
Namun, hasil penelitian tersebut tidak berarti XIST telah terbukti menjadi satu-satunya penyebab penyakit autoimun pada perempuan.
Chang menilai penelitian tersebut membuka cara lain untuk melihat perbedaan risiko penyakit autoimun antara perempuan dan laki-laki.
"Ini seperti penjelasan yang benar-benar berbeda dan baru mengenai mengapa penyakit imun lebih banyak terjadi pada perempuan," kata Chang seperti dikutip STAT.
Penelitian itu juga menyoroti satu persoalan dalam sejarah riset biomedis.
"Setiap sel dalam tubuh perempuan menghasilkan Xist. Namun, selama beberapa dekade, kami menggunakan lini sel laki-laki sebagai standar acuan," ujar Chang dalam publikasi Stanford University.
Dengan demikian, tingginya kasus penyakit autoimun pada perempuan tidak tepat jika hanya disebut sebagai akibat ketidakseimbangan hormon.
Kemungkinan ada interaksi yang jauh lebih kompleks antara hormon, kromosom, genetik, regulasi gen, sistem imun, hingga faktor lingkungan.
Penelitian Terbaru Temukan Titik Sasaran Autoantibodi
Riset mengenai XIST terus berkembang.
Dalam penelitian lanjutan yang diterbitkan di Journal of Clinical Investigation pada 2026, tim peneliti dari Stanford dan Johns Hopkins meneliti bagian kompleks XIST yang menjadi sasaran autoantibodi.
Mereka menemukan sasaran autoantibodi tidak tersebar secara acak. Ada sejumlah bagian tertentu yang menjadi titik utama serangan.
"Autoantibodi baru menargetkan titik-titik tertentu pada kompleks ribonukleoprotein XIST dalam penyakit autoimun yang lebih banyak dialami perempuan," tulis peneliti dalam abstrak studi tersebut.
Penelitian juga menemukan hubungan salah satu autoantibodi dengan manifestasi klinis pada pasien systemic sclerosis atau sklerosis sistemik.
Selain itu, protein yang berhubungan dengan XIST ditemukan pada neutrophil extracellular traps (NET), yakni struktur yang dilepaskan oleh neutrofil dalam proses tertentu.
Temuan tersebut membuka jalur penelitian baru untuk memahami bagaimana komponen di dalam sel dapat terekspos kepada sistem imun dan akhirnya dikenali sebagai target.
Meski demikian, penelitian ini belum berarti pemeriksaan antibodi terhadap komponen XIST bisa digunakan sebagai tes rutin untuk mendiagnosis penyakit autoimun.
Radang Tidak Selalu Berarti Ada Infeksi
Salah satu kesalahpahaman yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa setiap peradangan berarti terdapat kuman di dalam tubuh.
Padahal, infeksi dan inflamasi merupakan dua hal berbeda.
Infeksi terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit masuk dan berkembang di dalam tubuh.
Sementara itu, inflamasi merupakan respons biologis tubuh terhadap berbagai gangguan. Penyebabnya dapat berupa infeksi, cedera, kerusakan jaringan, paparan zat tertentu, hingga gangguan sistem kekebalan.
Dengan demikian, infeksi memang dapat menyebabkan peradangan. Namun, peradangan tidak selalu terjadi akibat infeksi.
Pada penyakit autoimun, inflamasi dapat terjadi karena sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri.
Di sisi lain, hubungan infeksi dan autoimun juga tidak selalu sederhana. Infeksi tertentu diduga dapat menjadi salah satu pemicu proses autoimun pada individu yang memiliki kerentanan.
CRP Bisa Mendeteksi Radang?
Ketika mencurigai adanya proses peradangan, dokter dapat menggunakan sejumlah pemeriksaan laboratorium. Salah satunya C-Reactive Protein atau CRP.
CRP adalah protein fase akut yang terutama diproduksi hati. Kadarnya di dalam darah dapat meningkat ketika terjadi proses inflamasi.
Pemeriksaan CRP dapat membantu dokter melihat adanya respons peradangan sekaligus memantau perubahan inflamasi pada kondisi tertentu.
Namun, CRP tidak secara khusus mendeteksi penyakit autoimun.
Kadar CRP dapat meningkat pada berbagai kondisi, mulai infeksi hingga penyakit inflamasi lainnya. Karena itu, hasil CRP yang tinggi tidak dapat secara langsung menunjukkan penyebab maupun lokasi peradangan.
Respons CRP juga berbeda pada setiap penyakit autoimun.
Salah satu penelitian dalam Arthritis Research & Therapy yang melibatkan 160 pasien systemic lupus erythematosus (SLE) dan 30 pasien ANCA-associated vasculitis menunjukkan kondisi tersebut.
"Meski terjadi inflamasi dan peningkatan interleukin-6, kadar CRP biasanya tetap rendah atau hanya sedikit meningkat pada SLE," tulis Jesper Karlsson dan tim.
Temuan tersebut menunjukkan hasil CRP tidak dapat dibaca secara terpisah.
Dokter harus menggabungkannya dengan keluhan pasien, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan lain.
Bila dokter mencurigai penyakit autoimun, pemeriksaan tambahan dapat berupa laju endap darah atau ESR, antinuclear antibody (ANA), serta autoantibodi yang lebih spesifik sesuai dengan penyakit yang dicurigai.
Dengan demikian, CRP dapat menjadi salah satu petunjuk adanya proses peradangan. Namun, pemeriksaan tersebut bukan jawaban akhir mengenai penyebabnya.
Radang tidak sama dengan infeksi.
Sistem imun memiliki mekanisme rumit untuk membedakan ancaman dari luar dengan bagian tubuh sendiri. Ketika mekanisme pengendalian itu gagal, sistem pertahanan yang seharusnya melindungi justru dapat menjadi sumber peradangan.
Itulah sebabnya tubuh bisa mengalami radang meski tidak ada kuman yang sedang menyerang.
Editor : Lugas Rumpakaadi