RADARBANYUWANGI.ID— Aqila Azzahra masih terlalu kecil untuk memahami panjangnya jalan pengobatan yang harus ditempuhnya. Di usianya yang baru tiga tahun, dunia Aqila semestinya hanya tentang bermain, berlari, dan tumbuh bersama anak-anak seusianya.
Namun, sejak lahir, balita asal Banyuwangi itu harus berhadapan dengan tumor mulut yang membuat perjalanan masa kecilnya berbeda.
Aqila lahir di Banyuwangi pada 25 Juli 2023. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di Lingkungan Kramat, Kelurahan Kertosati, Banyuwangi.
Di tengah keterbatasan yang ada, Aqila dikenal sebagai balita yang gesit dan tangkas. Keceriaannya tetap tumbuh meski sejak kecil ia harus menjalani rangkaian pengobatan.
Perjuangan itu mulai memasuki babak penting sekitar Maret 2024. Saat itu, Aqila menjalani operasi pertama untuk mengangkat tumor di RSUD dr. Soetomo Surabaya.
Operasi tersebut berjalan sukses. Biaya tindakan medis juga ditanggung BPJS Kesehatan karena kedua orang tua Aqila merupakan penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Namun, keberhasilan operasi pertama belum menjadi akhir perjalanan.
Kini, Aqila bersiap menjalani tahapan menuju operasi kedua di Surabaya. Di sinilah persoalan lain muncul. Bukan semata tentang tindakan medis, melainkan biaya yang harus disiapkan keluarga untuk menjalani seluruh rangkaian pengobatan.
Jarak Banyuwangi-Surabaya menjadi salah satu tantangan. Setiap kali harus menjalani pemeriksaan atau kontrol, keluarga Aqila harus menyiapkan biaya perjalanan sekaligus kebutuhan selama berada di Kota Pahlawan.
“Sekali ke Surabaya butuh biaya tidak sedikit. Ada tujuh poli yang menangani kasus penyakit Aqila. Minimal Rp3 juta sampai Rp5 juta. Di sana bisa sampai seminggu, bahkan 10 hari. Bahkan kalau pengalaman operasi pertama, bisa sampai sebulan di Surabaya,” beber Mohamad Maulana Ishaq, ayah Aqila Azzahra.
Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, angka tersebut bukan jumlah kecil.
Penghasilan keluarga sebagian besar ditopang dari pekerjaan orang tua Aqila sebagai pengemudi ojek online (ojol). Penghasilan itu harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai perjalanan pengobatan putri mereka.
Pengalaman saat menjalani operasi pertama membuat kedua orang tua Aqila mencoba mencari jalan lain. Mereka merintis usaha makanan berbasis daring sejak setahun terakhir.
Harapannya sederhana. Ada tambahan pemasukan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus biaya pengobatan Aqila.
Namun, usaha tersebut akhirnya tidak mampu bertahan.
Kebutuhan pengobatan Aqila yang terus berjalan, mulai dari kontrol hingga pemeriksaan sebelum operasi kedua, ikut menggerus modal dan keuntungan usaha. Pemeriksaan seperti CT scan dan berbagai kebutuhan lainnya membuat biaya yang dikeluarkan semakin besar.
Modal usaha dan keuntungan dari berjualan makanan secara daring pun akhirnya terserap untuk kebutuhan akomodasi selama menjalani perawatan dan kontrol di Surabaya.
Kini, menjelang operasi kedua, kekhawatiran kembali menghampiri kedua orang tua Aqila.
Sebelum menjalani operasi lanjutan, tim dokter yang menangani penyakit Aqila merekomendasikan sejumlah pemeriksaan awal. Salah satunya adalah polisomnografi.
Pemeriksaan tersebut harus direkomendasikan tim dokter untuk dilakukan dengan biaya mandiri.
Berdasarkan informasi dari tim medis, keluarga diminta menyiapkan biaya pemeriksaan yang berada di kisaran Rp7 juta hingga Rp10 juta.
Bagi keluarga Aqila, kebutuhan biaya tersebut kembali menjadi persoalan besar. Di satu sisi, ada tahapan medis yang harus dilalui sebelum operasi kedua. Di sisi lain, kemampuan ekonomi keluarga memiliki batas.
Kondisi itu membuat kedua orang tua Aqila gamang memikirkan kelanjutan pengobatan putri mereka.
Keduanya kini seolah hanya bisa menunggu datangnya solusi atas beban biaya yang harus dipenuhi untuk melanjutkan pengobatan Aqila.
Sementara itu, bagi Aqila sendiri, semua perjalanan tersebut mungkin belum sepenuhnya ia pahami.
Ia masih seorang balita.
Ia masih ingin bermain, bergerak bebas, dan tumbuh seperti anak-anak lainnya.
Di balik langkah-langkah kecilnya, ada perjuangan besar yang sedang dijalani keluarganya. Setiap perjalanan ke Surabaya, setiap pemeriksaan, dan setiap tahapan pengobatan menjadi bagian dari ikhtiar panjang kedua orang tuanya.
Mereka tidak hanya berharap tumor yang diderita Aqila dapat diangkat. Lebih dari itu, mereka ingin memberikan kesempatan kepada putri kecilnya untuk menjalani masa depan dengan lebih baik.
Perjalanan Aqila menuju operasi kedua masih panjang. Dan di usia yang begitu belia, perjuangan itu harus ia jalani bersama kedua orang tuanya. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi