RADAR BANYUWANGI - Infused water kerap dipilih sebagai alternatif bagi orang yang bosan minum air putih. Irisan lemon, mentimun, stroberi, hingga daun mint membuat air terasa lebih segar dan beraroma.
Namun, apakah infused water benar-benar lebih sehat daripada air putih?
Secara umum, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa infused water lebih unggul daripada air putih untuk memenuhi kebutuhan cairan orang sehat. Manfaat utamanya justru lebih sederhana, yakni memberikan rasa dan aroma yang dapat membuat seseorang lebih tertarik untuk minum.
Konsultan gastroenterohepatologi dr. Amanda Pitarini Utari, Sp.PD-KGEH, mengatakan, manfaat infused water terutama dapat dilihat dari sisi hidrasi.
“Infused water apa pun itu, buah-buahan kan banyak, ya dinilai manfaatnya dari segi hidrasi saja,” kata Amanda seperti dikutip detikHealth.
Dengan demikian, infused water tidak perlu dianggap sebagai versi air putih yang lebih “super”. Air putih tetap menjadi pilihan sederhana untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari. Infused water dapat menjadi alternatif apabila tambahan rasa membuat seseorang lebih rutin minum atau membantu mengurangi konsumsi minuman berpemanis.
Sama-Sama Membantu Memenuhi Kebutuhan Cairan
Sebagian besar kandungan infused water tetaplah air. Karena itu, minuman tersebut tetap berkontribusi terhadap asupan cairan tubuh.
Kebutuhan cairan setiap orang berbeda. National Academies menetapkan angka kecukupan total air sekitar 3,7 liter per hari untuk pria dewasa muda dan 2,7 liter untuk perempuan dewasa muda.
Namun, angka tersebut bukan berarti seseorang harus minum air putih sebanyak itu. Total air juga berasal dari makanan dan berbagai jenis minuman. Kebutuhan cairan dapat berubah bergantung pada aktivitas fisik, suhu lingkungan, kondisi kesehatan, dan faktor lain.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan sekadar apakah infused water bisa menghidrasi tubuh, melainkan apakah tambahan rasa dapat membuat seseorang minum lebih banyak.
Sebuah uji acak silang yang diterbitkan pada 2025 melibatkan 21 anak berusia 8–10 tahun yang melakukan aktivitas fisik di lingkungan panas dan kering.
Hasilnya, rata-rata konsumsi cairan mencapai 946 mililiter saat peserta mendapat minuman berperisa rendah gula. Ketika hanya mendapatkan air putih, rata-rata konsumsinya 531 mililiter. Sebanyak 19 dari 21 peserta juga tercatat minum lebih banyak ketika mendapat minuman berperisa.
Peneliti menyimpulkan, “Minuman berperisa dengan kadar gula rendah meningkatkan konsumsi cairan secara sukarela dan memperbaiki indikator hidrasi dibandingkan dengan air putih selama aktivitas fisik di lingkungan panas.”
Temuan itu menunjukkan bahwa rasa dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk minum.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak bisa langsung disamakan dengan infused water rumahan. Pesertanya adalah anak-anak, kondisi penelitian sangat spesifik, dan minuman yang digunakan bukan air dengan potongan buah.
Karena itu, penelitian tersebut lebih tepat dibaca sebagai bukti bahwa rasa atau tingkat kesukaan terhadap minuman dapat memengaruhi jumlah cairan yang dikonsumsi.
Apoteker Vincent juga pernah mengingatkan bahwa air putih tetap menjadi pilihan utama, terutama ketika tubuh membutuhkan cairan saat berolahraga.
“Ketika sedang berolahraga, lebih baik konsumsi air putih dulu, air mineral. Baru nanti infused water sebagai pelengkap,” ujarnya kepada RRI.
Vitamin Buah Bisa Larut ke Air, tetapi Jumlahnya Terbatas
Potongan buah yang direndam memang dapat melepaskan sebagian senyawa ke dalam air.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jambura Journal of Food Technology pada 2024 menguji infused water berbahan jeruk nipis, mentimun, dan jahe merah. Peneliti menemukan vitamin C dan aktivitas antioksidan yang terukur dalam minuman tersebut. Nilainya berubah sesuai lama perendaman.
Penelitian lain terhadap infused water jeruk nipis juga menemukan bahwa lama perendaman memengaruhi kadar vitamin C yang terukur.
Namun, ada perbedaan besar antara menemukan vitamin di dalam infused water dan membuktikan bahwa minuman tersebut memberikan manfaat kesehatan lebih besar daripada air putih.
Adanya vitamin C atau aktivitas antioksidan dalam pengujian laboratorium tidak serta-merta membuktikan manfaat klinis pada manusia.
Kandungan yang berpindah ke air juga dapat berbeda-beda. Faktor yang memengaruhi antara lain jenis buah, jumlah bahan, ukuran potongan, suhu, serta lama perendaman.
Karena itu, kandungan zat gizi satu botol infused water tidak bisa disamaratakan dengan botol lainnya.
Tetap Lebih Baik Makan Buah Utuh
Jika tujuannya memperoleh serat dan zat gizi dari buah, mengonsumsi buah secara langsung tetap lebih baik.
Ketika lemon, apel, stroberi, atau mentimun hanya direndam, sebagian besar bagian padat buah tetap berada pada potongannya. Serat, misalnya, tidak serta-merta berpindah seluruhnya ke air.
Amanda juga pernah mengingatkan bahwa belum ada bukti kuat mengenai peningkatan nutrisi yang signifikan hanya karena bahan makanan direndam di dalam air.
Dengan demikian, infused water sebaiknya dipandang sebagai air yang diberi rasa alami dari bahan pangan, bukan pengganti konsumsi buah.
Benarkah Harus Dibuang Setelah 12 Jam?
Klaim bahwa semua infused water harus dibuang setelah tepat 12 jam juga perlu diluruskan.
Sejumlah penelitian memang menggunakan waktu perendaman 3, 6, 9, hingga 12 jam. Namun, angka tersebut merupakan bagian dari desain penelitian untuk mengukur vitamin, aktivitas antioksidan, atau perubahan rasa.
Artinya, 12 jam bukan batas keamanan universal bagi semua jenis infused water.
Dari sisi keamanan pangan, hal yang lebih penting adalah cara memperlakukan buah setelah dipotong.
FoodSafety.gov menyebut buah potong sebagai pangan mudah rusak. Bahan tersebut sebaiknya tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam. Jika suhu lingkungan berada di atas sekitar 32 derajat Celsius, batasnya menjadi sekitar satu jam.
Karena itu, infused water yang tidak segera diminum sebaiknya disimpan di lemari pendingin.
Jangan membiarkannya berada seharian di meja kerja, di dalam mobil, atau di tempat bersuhu panas.
Buah Harus Dicuci sebelum Dipotong
Kebersihan bahan juga perlu diperhatikan.
Kulit lemon, jeruk, mentimun, atau buah lainnya dapat membawa kotoran dan mikroorganisme. Ketika buah dipotong, kontaminan dari permukaan berpotensi berpindah ke bagian dalam.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA menyarankan seluruh buah dan sayuran dicuci dengan baik di bawah air mengalir sebelum disiapkan atau dikonsumsi.
“Cuci seluruh buah dan sayuran secara menyeluruh di bawah air mengalir sebelum diolah dan/atau dimakan,” demikian rekomendasi FDA.
FDA juga tidak menganjurkan penggunaan sabun, deterjen, atau cairan pencuci komersial untuk membersihkan buah dan sayuran.
Untuk bahan berkulit keras, seperti mentimun, permukaannya dapat digosok menggunakan sikat bersih khusus buah dan sayur.
Infused Water Lemon Bisa Berdampak pada Gigi
Tambahan lemon atau jeruk nipis memang membuat air terasa lebih segar. Namun, keasamannya perlu diperhatikan, terutama jika diminum berulang kali sepanjang hari.
American Dental Association (ADA) menjelaskan bahwa paparan asam dapat menyebabkan demineralisasi dan erosi jaringan keras gigi.
Risikonya bukan hanya ditentukan oleh satu kali konsumsi, melainkan juga tingkat keasaman, frekuensi, serta lamanya gigi terpapar.
“Minuman apa pun dengan pH rendah dapat meningkatkan risiko erosi, terutama jika sering dikonsumsi,” jelas ADA.
Pernyataan tersebut bukan berarti satu gelas infused water lemon pasti merusak gigi.
Tingkat keasaman air rendaman lemon juga dapat jauh berbeda dibandingkan dengan jus lemon murni atau minuman asam lainnya.
Yang perlu dihindari adalah kebiasaan menyeruput minuman asam sedikit demi sedikit sepanjang hari sehingga permukaan gigi berulang kali terpapar asam.
ADA juga menyarankan membilas mulut dengan air setelah mengonsumsi makanan atau minuman asam.
Penderita GERD Perlu Mengenali Pemicu
Buah sitrus seperti lemon dan jeruk juga kerap dikaitkan dengan gastroesophageal reflux disease atau GERD.
Namun, bukan berarti semua penderita GERD otomatis harus menghindari infused water lemon.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menjelaskan bahwa pemicu GERD dapat berbeda pada setiap orang.
“Sebagian orang dengan GERD menemukan bahwa makanan atau minuman tertentu memicu gejala atau membuat gejalanya memburuk,” jelas NIDDK.
NIDDK memasukkan makanan asam, termasuk buah sitrus dan tomat, ke dalam kelompok makanan yang pada sebagian penderita dapat memicu atau memperburuk gejala.
Karena itu, kuncinya adalah mengenali respons tubuh.
Jika lemon tidak menimbulkan keluhan, tidak ada dasar untuk menyatakan bahwa semua penderita GERD harus menghindarinya. Sebaliknya, jika minuman tersebut berulang kali menimbulkan rasa terbakar di dada, nyeri ulu hati, atau gejala refluks lainnya, konsumsinya perlu dibatasi.
Bukan Minuman “Detoks”
Klaim lain yang sering melekat pada infused water adalah kemampuannya melakukan “detoks”, membersihkan racun, atau mengobati penyakit tertentu.
Klaim seperti itu belum ditopang bukti ilmiah yang memadai.
Amanda mengatakan, belum terdapat bukti kuat bahwa proses perendaman buah memberikan peningkatan nutrisi secara signifikan atau membuat infused water menjadi terapi penyakit tertentu.
Tubuh manusia juga telah memiliki sistem untuk mengolah dan membuang berbagai zat sisa, terutama melalui hati dan ginjal.
Karena itu, alasan yang lebih masuk akal untuk memilih infused water bukan karena klaim detoksifikasi. Manfaat praktisnya adalah membuat air lebih menarik untuk diminum tanpa harus menambahkan banyak gula.
Jadi, Mana yang Lebih Sehat?
Bagi kebanyakan orang sehat, air putih tetap cukup sebagai pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan.
Infused water tidak otomatis lebih sehat hanya karena terdapat potongan buah di dalamnya.
Sebagian vitamin dan senyawa dari buah memang dapat larut ke dalam air. Namun, jumlahnya bervariasi dan tidak menjadikan infused water sebagai pengganti buah utuh.
Belum ada pula bukti yang menunjukkan bahwa infused water secara umum memberikan manfaat hidrasi lebih besar daripada air putih.
Keunggulan praktisnya terletak pada rasa.
Jika aroma lemon, mentimun, stroberi, atau mint membuat seseorang lebih rutin minum air, infused water dapat menjadi pilihan yang berguna. Terlebih apabila minuman tersebut menggantikan kebiasaan mengonsumsi soda atau minuman tinggi gula.
Pastikan buah dicuci sebelum dipotong. Simpan infused water dalam kondisi dingin jika tidak segera dikonsumsi. Jangan terlalu lama membiarkannya pada suhu ruang.
Bagi orang dengan masalah gigi atau GERD, bahan yang sangat asam juga perlu dikonsumsi dengan lebih bijak.
Infused water tidak harus lebih sehat daripada air putih untuk tetap bermanfaat. Nilai utamanya ada pada satu hal sederhana, untuk membuat orang lebih mudah mencukupi kebutuhan cairan tanpa tambahan gula.
Sumber: National Academies, Dietary Reference Intakes for Water, Potassium, Sodium, Chloride, and Sulfate; U.S. Food and Drug Administration, Selecting and Serving Produce Safely; FoodSafety.gov; American Dental Association, Dental Erosion; National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases; penelitian Wright dkk. (2025); Yusuf, Antuli, dan Liputo dalam Jambura Journal of Food Technology (2024); serta wawancara tenaga kesehatan yang dipublikasikan detikHealth dan RRI.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran medis dari tenaga kesehatan.
Editor : Lugas Rumpakaadi