Jangan Asal Pecahkan, Ini Penyebab Lepuhan pada Luka Bakar

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:23 WIB
Luka bakar dapat menimbulkan lepuhan berisi cairan akibat kerusakan lapisan kulit dan respons peradangan. Pertolongan pertama dapat dilakukan dengan mengalirkan air bersih pada area luka selama sekitar 20 menit. (ChatGPT)
Luka bakar dapat menimbulkan lepuhan berisi cairan akibat kerusakan lapisan kulit dan respons peradangan. Pertolongan pertama dapat dilakukan dengan mengalirkan air bersih pada area luka selama sekitar 20 menit. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Luka bakar tidak selalu hanya membuat kulit memerah dan terasa perih. Pada kondisi tertentu, kulit bisa membentuk lepuhan berisi cairan. Kondisi itu kerap terjadi setelah kulit terkena api, benda panas, cairan panas, hingga percikan kembang api.

Risiko tersebut kembali menjadi perhatian setelah ledakan kembang api terjadi di Denpasar Timur, Bali, pada 15 September 2026. Kembang api yang sedang dirakit untuk sebuah pertunjukan meledak dan memicu kebakaran hingga merembet ke dua bangunan.

Dua orang mengalami luka bakar dalam kejadian tersebut.

“Dari kejadian tersebut terdapat dua korban luka bakar,” kata Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, dikutip dari Kumparan.

Polisi menyebut ledakan terjadi ketika kembang api sedang dirakit. Percikan api kemudian membesar karena terdapat bahan yang mudah terbakar di lokasi.

Risiko luka bakar akibat kembang api juga terlihat dalam data US Consumer Product Safety Commission (CPSC). Sepanjang 2025, sekitar 13 ribu orang di Amerika Serikat diperkirakan mendapat perawatan di unit gawat darurat akibat cedera terkait kembang api.

Luka bakar menjadi jenis cedera yang paling banyak ditemukan, sekitar 38 persen dari seluruh kunjungan ke unit gawat darurat terkait kembang api. Data tersebut merupakan data Amerika Serikat sehingga tidak dapat digunakan untuk menggambarkan angka kejadian di Indonesia.

Lantas, mengapa kulit yang terbakar bisa membentuk lepuhan? Dari mana cairan di dalamnya berasal?

Kenapa luka bakar bisa melepuh?

Lepuhan atau blister dapat terbentuk ketika panas merusak sebagian lapisan kulit.

Pada luka bakar yang mengenai sebagian ketebalan kulit atau partial-thickness burn, kerusakan jaringan dan proses peradangan dapat membuat lapisan epidermis terpisah dari lapisan di bawahnya.

Pada saat yang sama, permeabilitas pembuluh darah kecil meningkat. Cairan dari plasma darah kemudian keluar dan terkumpul di antara lapisan kulit.

Penelitian mengenai cairan pada lepuhan luka bakar menjelaskan mekanisme tersebut.

“Cairan ini terkumpul di bawah lapisan epidermis superfisial yang masih utuh sehingga membentuk lepuhan,” tulis para peneliti dalam studi yang terindeks PubMed.

Cairan di dalam lepuhan bukan sekadar air. Penelitian menunjukkan cairan tersebut merupakan ultrafiltrat plasma yang juga mengandung protein dan sejumlah mediator inflamasi.

Studi lain tentang luka bakar juga menjelaskan bahwa terbentuknya lepuhan merupakan bagian dari respons fisiologis tubuh pada fase awal cedera. Proses peradangan meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga cairan dapat terkumpul di antara epidermis dan dermis.

Karena itu, anggapan bahwa tubuh sengaja mengeluarkan “air” untuk memadamkan panas dari dalam tidak tepat secara medis.

Lepuhan terbentuk akibat kerusakan jaringan, proses peradangan, dan perpindahan cairan dari pembuluh darah ke ruang di antara lapisan kulit.

Apakah semua luka bakar pasti melepuh?

Tidak semua luka bakar menyebabkan lepuhan.

Luka bakar superfisial, yang secara umum dikenal sebagai luka bakar derajat satu, hanya mengenai lapisan kulit paling luar. Kulit biasanya tampak merah, kering, dan terasa nyeri, tetapi tidak melepuh.

Lepuhan lebih umum ditemukan pada luka bakar yang mengenai sebagian ketebalan kulit.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, luka bakar parsial dapat ditandai dengan kulit berwarna merah muda, lembap, dan muncul bulla atau lepuhan.

Pada luka bakar yang lebih dalam, penampilannya dapat berbeda. Kulit bisa tampak pucat, putih, cokelat, hingga kehitaman. Sensasi nyeri bahkan dapat berkurang apabila kerusakan sudah mencapai jaringan yang lebih dalam.

Dengan demikian, keberadaan lepuhan bukan satu-satunya patokan untuk menentukan berat-ringannya luka bakar.

Bolehkah lepuhan luka bakar dipecahkan?

Lepuhan akibat luka bakar sebaiknya tidak dipecahkan sendiri.

Kementerian Kesehatan memasukkan tindakan memecahkan lepuhan sebagai salah satu hal yang tidak dianjurkan dalam pertolongan pertama luka bakar.

Kulit yang masih menutupi lepuhan dapat membantu melindungi jaringan di bawahnya dari paparan lingkungan.

Namun, penanganan lepuhan di fasilitas kesehatan dapat berbeda-beda. Tenaga medis dapat mempertimbangkan ukuran, lokasi, kedalaman luka, serta kondisi pasien sebelum menentukan tindakan.

Sebuah uji klinis acak terhadap 40 pasien pernah membandingkan dua metode penanganan lepuhan, yakni aspirasi cairan dan deroofing atau membuka lapisan atas lepuhan.

“Baik aspirasi maupun deroofing tidak terbukti sebagai metode yang lebih unggul dalam menangani lepuhan akibat luka bakar,” demikian kesimpulan penelitian tersebut.

Rata-rata waktu penyembuhan tercatat 12 hari pada kelompok aspirasi dan 12,55 hari pada kelompok deroofing.

Hasil tersebut bukan berarti masyarakat boleh mengeluarkan cairan lepuhan sendiri. Tindakan terhadap lepuhan tetap sebaiknya diputuskan tenaga kesehatan sesuai kondisi luka.

Apabila lepuhan pecah dengan sendirinya, jangan menarik atau mengelupas kulit yang masih menempel. Jaga luka tetap bersih dan lindungi dengan balutan yang tidak melekat pada permukaan luka.

Luka bakar sebaiknya dialiri air sekitar 20 menit

Salah satu langkah terpenting dalam pertolongan pertama luka bakar adalah segera menghentikan paparan panas dan mendinginkan bagian tubuh yang terkena.

Kementerian Kesehatan RI menganjurkan luka dialiri air bersih, bukan air es.

“Alirkan air bersih, bukan air es, ke area luka bakar selama kurang lebih 20 menit,” demikian anjuran Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI.

Pendinginan menggunakan air mengalir selama sekitar 20 menit juga didukung sejumlah penelitian.

Studi kohort terhadap 4.918 pasien menilai manfaat pertolongan pertama menggunakan air mengalir selama 20 menit dalam tiga jam pertama setelah seseorang mengalami luka bakar.

“Pertolongan pertama yang memadai dengan air mengalir selama 20 menit berkaitan dengan hasil perawatan yang lebih baik,” tulis para peneliti.

Penelitian tersebut menemukan pasien yang memperoleh pertolongan pertama secara memadai cenderung mengalami luka yang lebih dangkal.

Pada pasien yang tidak memerlukan pencangkokan kulit, kelompok yang mendapat pendinginan memadai juga sembuh rata-rata sekitar 1,9 hari lebih cepat.

Temuan serupa muncul dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap tujuh penelitian. Pendinginan luka bakar dengan air mengalir selama sekitar 20 menit dalam tiga jam pertama berkaitan dengan penurunan kemungkinan pasien membutuhkan pencangkokan kulit maupun tindakan operasi.

Jangan gunakan es dan pasta gigi

Air mengalir yang sejuk berbeda dengan es.

Kementerian Kesehatan tidak menganjurkan penggunaan air es atau es batu langsung pada luka bakar. Suhu yang terlalu dingin dapat memperburuk kerusakan jaringan.

Bahan rumahan seperti pasta gigi, minyak goreng, mentega, kecap, atau bahan lain yang tidak diperuntukkan bagi perawatan luka juga tidak dianjurkan.

Setelah luka didinginkan, cincin, jam tangan, atau benda ketat lain di sekitar luka dapat dilepas apabila tidak menempel pada kulit. Langkah tersebut penting karena bagian tubuh yang mengalami luka bakar dapat membengkak.

Jangan memaksa melepaskan pakaian atau benda yang sudah menempel pada luka.

Setelah itu, luka dapat ditutup secara longgar menggunakan balutan bersih yang tidak melekat pada permukaan kulit.

Kapan harus ke rumah sakit?

Tidak semua luka bakar bisa ditangani sendiri di rumah.

Pemeriksaan medis diperlukan apabila luka terlihat dalam atau luas. Luka yang mengenai wajah, tangan, kaki, alat kelamin, perineum, atau persendian utama juga perlu mendapat perhatian khusus.

Luka bakar akibat listrik dan bahan kimia sebaiknya segera diperiksakan.

Pertolongan medis juga diperlukan apabila korban mengalami sesak atau kesulitan bernapas, diduga menghirup asap, mengalami nyeri yang sulit dikendalikan, atau kondisi luka terus memburuk.

Pada luka yang awalnya tampak ringan, tanda-tanda infeksi juga perlu diwaspadai. Di antaranya, kemerahan yang semakin meluas, pembengkakan, keluarnya nanah, demam, atau nyeri yang semakin berat.

Jadi, cairan di dalam lepuhan luka bakar bukan muncul karena tubuh berusaha “menyiram” kulit yang terkena panas.

Lepuhan terbentuk akibat kerusakan lapisan kulit, proses peradangan, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, dan penumpukan cairan di antara lapisan kulit.

Saat luka bakar terjadi, langkah awal yang paling penting adalah menjauhkan korban dari sumber panas. Setelah itu, aliri luka dengan air bersih bersuhu sejuk atau suhu ruang selama sekitar 20 menit.

Jangan menggunakan es, pasta gigi, minyak, atau memecahkan lepuhan sendiri. Jika luka tampak berat, luas, atau menunjukkan tanda infeksi, segera cari pertolongan medis.

Editor : Lugas Rumpakaadi
lepuhan luka bakar pertolongan pertama luka bakar penyebab kulit melepuh cara menangani luka bakar Luka Bakar