RADAR BANYUWANGI – Bawang putih mentah memang bukan sekadar bumbu dapur. Sejumlah penelitian menunjukkan kandungan senyawa aktifnya berpotensi membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol, tetapi klaim bahwa satu siung bawang putih bisa mencegah atau mengobati berbagai penyakit perlu disikapi hati-hati. Bukti ilmiahnya belum sama kuat untuk semua manfaat yang sering beredar.
Bumbu dapur bernama latin Allium sativum itu sudah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Kini, bawang putih kembali ramai dibicarakan karena kandungan senyawa sulfur, termasuk allicin, yang terbentuk ketika bawang putih dihancurkan atau dikunyah.
Tak heran jika bawang putih mentah kerap disebut sebagai superfood murah meriah. Namun, istilah tersebut tidak berarti bawang putih merupakan pengganti obat atau terapi medis.
Lembaga National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) mencatat sejumlah penelitian menemukan potensi manfaat bawang putih, terutama terhadap beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskular. Efeknya, bagaimanapun, cenderung kecil dan bukti untuk sejumlah klaim kesehatan lainnya masih terbatas.
Apa Isi Bawang Putih?
Satu siung bawang putih berukuran kecil mengandung sejumlah mikronutrien, antara lain vitamin B6, vitamin C, mangan, dan selenium. Kandungan kalorinya juga rendah.
Namun, perhatian utama bukan hanya pada vitamin dan mineral. Bawang putih mengandung senyawa sulfur yang dapat berubah ketika siung dihancurkan.
Salah satunya adalah allicin, senyawa yang terbentuk melalui reaksi enzimatis setelah jaringan bawang putih rusak. Senyawa inilah yang banyak diteliti terkait aktivitas biologis bawang putih.
Karena itu, cara pengolahan dapat memengaruhi senyawa aktif yang tersedia. Bawang putih mentah yang dihancurkan memiliki karakter berbeda dibanding bawang putih yang langsung dimasak.
1. Berpotensi Membantu Menurunkan Tekanan Darah
Salah satu manfaat bawang putih yang cukup banyak diteliti adalah kaitannya dengan tekanan darah.
Sejumlah penelitian terhadap preparat atau suplemen bawang putih menemukan adanya penurunan tekanan darah pada sebagian orang dengan hipertensi. Namun, NCCIH menilai efeknya relatif kecil dan kualitas bukti penelitian masih beragam.
Artinya, bawang putih dapat ditempatkan sebagai bagian dari pola makan sehat, bukan pengganti obat hipertensi.
2. Membantu Mengontrol Kolesterol
Bawang putih juga banyak diteliti karena potensinya terhadap kadar kolesterol.
NCCIH menyebut sejumlah tinjauan penelitian menemukan suplemen bawang putih dapat menurunkan kolesterol, terutama jika dikonsumsi dalam periode tertentu. Namun, efeknya tergolong sederhana jika dibandingkan dengan obat penurun kolesterol. Hasil penelitian terhadap LDL dan HDL juga tidak selalu konsisten.
Karena itu, mengonsumsi bawang putih tidak berarti seseorang dapat menghentikan obat kolesterol yang diresepkan dokter.
3. Mengandung Senyawa Antioksidan
Bawang putih mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antioksidan.
Antioksidan berperan dalam melindungi sel dari kerusakan akibat stres oksidatif. Namun, keberadaan aktivitas antioksidan di laboratorium tidak otomatis berarti bawang putih terbukti mencegah penyakit tertentu pada manusia.
Perbedaan antara hasil penelitian laboratorium, penelitian pada hewan, dan uji klinis pada manusia penting diperhatikan ketika membaca klaim kesehatan tentang bawang putih.
4. Berpotensi Mendukung Kesehatan Jantung
Karena memiliki potensi efek terhadap tekanan darah dan kolesterol, bawang putih ikut diteliti dalam konteks kesehatan jantung.
Tetapi ada perbedaan antara memengaruhi faktor risiko dan terbukti mencegah penyakit jantung.
NCCIH menyatakan bukti mengenai kemampuan suplemen bawang putih dalam mencegah penyakit jantung masih belum cukup. Karena itu, bawang putih sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pola makan sehat, bukan terapi pencegahan penyakit jantung.
5. Berpotensi Membantu Mengontrol Gula Darah
Beberapa penelitian menunjukkan suplemen bawang putih mungkin memberikan efek kecil terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes.
Namun, bukti tersebut belum menjadikan bawang putih sebagai pengganti obat diabetes. NCCIH menyebut efek penurunan gula darah yang ditemukan dalam penelitian relatif kecil.
Bagi penderita diabetes, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pemantauan gula darah, serta obat yang diresepkan tetap menjadi bagian utama penanganan.
6. Bagaimana dengan Imunitas?
Bawang putih sering dipromosikan sebagai makanan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Memang ada penelitian mengenai bawang putih dan infeksi saluran pernapasan, tetapi bukti klinisnya masih terbatas. NCCIH menyebut penelitian untuk membuktikan manfaat bawang putih dalam mencegah atau mengatasi flu biasa belum cukup kuat.
Jadi, makan bawang putih boleh menjadi bagian dari pola makan bergizi, tetapi tidak tepat menganggapnya sebagai "penangkal flu".
7. Klaim Melawan Kanker Perlu Lebih Hati-Hati
Kandungan sulfur dan berbagai senyawa bioaktif dalam bawang putih memang menjadi objek penelitian kanker.
Sejumlah penelitian observasional pernah menemukan hubungan antara konsumsi bawang putih atau kelompok sayuran tertentu dengan risiko beberapa jenis kanker. Namun, temuan tersebut belum berarti bawang putih terbukti dapat mencegah atau mengobati kanker.
NCCIH mencatat belum ada bukti yang cukup untuk menjadikan suplemen bawang putih sebagai sarana pencegahan kanker. Bahkan untuk kanker lambung, konsumsi bawang putih tidak terbukti menurunkan risikonya.
8. Bawang Putih dan Kesehatan Otak
Klaim bahwa bawang putih dapat mencegah Alzheimer dan demensia juga perlu ditempatkan dalam konteks bukti ilmiah.
Aktivitas antioksidan bawang putih memang menarik untuk diteliti dalam kaitannya dengan kesehatan sel dan stres oksidatif. Namun, belum ada bukti klinis yang cukup untuk menyatakan konsumsi bawang putih dapat mencegah Alzheimer atau demensia.
Dengan kata lain, potensi biologis tidak sama dengan manfaat klinis yang sudah terbukti.
9. Bagaimana dengan Infeksi dan Bakteri?
Senyawa dalam bawang putih memang memiliki aktivitas antimikroba yang menarik dalam penelitian laboratorium.
Namun, hasil tersebut tidak otomatis berarti makan bawang putih mentah dapat mengobati infeksi bakteri atau virus pada manusia.
Jika seseorang mengalami infeksi, terutama infeksi yang membutuhkan antibiotik atau terapi khusus, bawang putih tidak boleh digunakan sebagai pengganti pengobatan medis.
10. Tidak Semua Klaim Bawang Putih Terbukti
Berbagai klaim lain juga beredar, mulai dari menyembuhkan sakit gigi, menghilangkan ketombe dan jerawat, mempercepat penyembuhan luka, mengusir nyamuk, meningkatkan performa olahraga, hingga melakukan "detoksifikasi" tubuh.
Sebagian klaim tersebut memiliki dasar biologis atau penelitian awal. Namun, bukti klinis pada manusia untuk menjadikannya sebagai terapi belum memadai.
Khusus penggunaan bawang putih mentah langsung pada kulit, justru perlu berhati-hati. NCCIH memperingatkan bawang putih segar yang digunakan secara topikal dapat menyebabkan iritasi berat bahkan luka bakar kimia.
Cara Mengonsumsi yang Lebih Bijak
Bawang putih dapat dikonsumsi sebagai bagian dari makanan sehari-hari. Jika ingin mengonsumsi mentah, bawang putih dapat dicincang atau dihancurkan lalu dicampurkan dengan makanan.
Tidak ada kebutuhan untuk memaksakan konsumsi dalam jumlah besar demi mengejar manfaat kesehatan.
Yang lebih penting adalah menempatkan bawang putih dalam pola makan seimbang. Manfaat potensialnya tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari keseluruhan gaya hidup, termasuk aktivitas fisik, tidur cukup, dan pola makan bergizi.
Jangan Berlebihan, Ada Efek Samping
Bawang putih umumnya aman dikonsumsi dalam jumlah yang lazim sebagai makanan. Namun, konsumsi mentah dapat lebih mudah menimbulkan bau napas dan bau badan, mulas, sakit perut, mual, atau gangguan pencernaan.
Hal yang lebih penting adalah potensi pengaruh terhadap perdarahan.
Suplemen bawang putih dapat meningkatkan risiko perdarahan, terutama pada orang yang menggunakan obat pengencer darah atau aspirin. Risiko ini juga penting diperhatikan menjelang tindakan operasi.
Karena itu, orang yang rutin mengonsumsi obat tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan suplemen bawang putih dalam dosis tinggi.
Pada akhirnya, bawang putih memang punya tempat dalam pola makan sehat. Tetapi manfaatnya perlu dilihat secara proporsional: bumbu dapur ini memiliki sejumlah potensi kesehatan yang didukung penelitian, namun bukan obat ajaib untuk 20 penyakit. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : nccih.nih.gov