RADAR BANYUWANGI – Minum kopi sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Tidak hanya sebagai teman bekerja atau bersantai, kopi juga melekat dalam budaya masyarakat Banyuwangi.
Salah satu buktinya terlihat dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah. Pada 8 November 2025, ribuan warga dan wisatawan memadati desa tersebut untuk menikmati kopi khas Banyuwangi yang disajikan di sepanjang jalan utama.
Kepala Desa Kemiren M. Arifin mengatakan, tradisi minum kopi dalam festival tersebut bukan sekadar aktivitas menikmati minuman.
“Ngopi Sepuluh Ewu merupakan bentuk nyata keramahan masyarakat Osing dalam menerima dan menghormati tamu,” kata Arifin.
Di tengah kuatnya tradisi kopi lokal, cara masyarakat menikmati kopi juga terus berkembang. Minuman berbasis espresso, termasuk Americano, kini semakin mudah ditemukan di berbagai kedai.
Americano pada dasarnya merupakan campuran espresso dan air. Minuman itu bisa disajikan panas ataupun dingin. Tanpa tambahan gula, susu, sirup, maupun krimer, komposisinya tergolong sederhana.
Namun, bukan berarti Americano bisa dikonsumsi tanpa memperhatikan jumlah. Hal yang lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah gelas adalah mengetahui total kafein yang masuk ke tubuh setiap hari.
Kandungan Kafein Tiap Gelas Bisa Berbeda
Satu gelas Americano tidak selalu mengandung jumlah kafein yang sama.
Setiap kedai dapat menggunakan racikan berbeda. Satu porsi Americano bisa menggunakan satu, dua, bahkan lebih banyak takaran espresso. Kandungan kafein juga dipengaruhi jenis biji kopi, jumlah kopi yang digunakan, metode penyeduhan, hingga ukuran minuman.
Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menyebut konsumsi sekitar 400 miligram kafein per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada kebanyakan orang dewasa sehat.
Meski demikian, angka tersebut bukan batas mutlak yang berlaku untuk semua orang. Respons tubuh terhadap kafein dapat berbeda-beda.
Kementerian Kesehatan juga menyebut sekitar 400 miligram per hari sebagai acuan konsumsi kafein bagi orang dewasa sehat.
“Perlu diingat bahwa batas toleransi terhadap asupan kafein setiap orang berbeda-beda,” tulis Mila Kurniawati dari RSUP Dr. Sardjito dalam artikel kesehatan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan.
Karena itu, angka 400 miligram sebaiknya dipahami sebagai acuan umum, bukan target konsumsi harian.
Bagi penikmat Americano, mengetahui jumlah takaran espresso dalam satu gelas bisa lebih berguna daripada hanya menghitung berapa gelas kopi yang diminum.
Dosis Tinggi Bisa Mengganggu Tidur
Salah satu efek kafein yang perlu diperhatikan adalah gangguan tidur. Tidak hanya jumlah kafein, waktu mengonsumsinya juga berpengaruh.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep pada 2025 menguji konsumsi 100 miligram dan 400 miligram kafein pada 23 pria yang terbiasa mengonsumsi kafein dalam jumlah sedang.
Kafein diberikan pada waktu berbeda, yakni 12 jam, delapan jam, dan empat jam sebelum peserta tidur.
Hasil penelitian menunjukkan, konsumsi 100 miligram kafein tidak menyebabkan perubahan signifikan terhadap tidur dalam kondisi yang diuji. Sebaliknya, dosis 400 miligram dapat mengganggu tidur ketika dikonsumsi hingga 12 jam sebelum waktu tidur.
Dampaknya semakin besar apabila kafein dosis tinggi diminum semakin dekat dengan waktu tidur.
Temuan tersebut bukan berarti semua orang harus berhenti minum kopi 12 jam sebelum tidur. Dosis 400 miligram yang digunakan dalam penelitian diberikan sekaligus dan tergolong tinggi. Jumlah peserta penelitian juga terbatas.
Namun, penelitian itu menunjukkan bahwa waktu konsumsi dan dosis kafein sama-sama perlu diperhatikan.
Dokter spesialis gizi klinik Yohan Samudra juga mengingatkan bahwa efek kafein dapat bertahan selama beberapa jam di dalam tubuh.
“Waktu paruh kafein di dalam tubuh sekitar enam jam. Karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk menentukan waktu minum kopi,” kata Yohan sebagaimana dikutip ANTARA pada Juni 2026.
Bagi orang yang mudah mengalami gangguan tidur, konsumsi kopi pada sore atau malam hari dapat dipertimbangkan untuk dikurangi atau dimajukan waktunya.
Penelitian Catat Waktu Tidur Berkurang
Hubungan antara kopi dan tidur juga diteliti dalam aktivitas sehari-hari.
Penelitian CRAVE yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada 2023 melibatkan 100 orang dewasa. Para peserta secara acak diminta minum kopi berkafein atau menghindari kafein pada hari-hari tertentu selama dua pekan.
Aktivitas mereka dipantau menggunakan alat elektrokardiogram, pelacak aktivitas, dan pemantau glukosa.
Pada hari ketika peserta minum kopi, rata-rata waktu tidur tercatat 397 menit. Sementara itu, pada hari tanpa kopi berkafein, rata-rata waktu tidur mencapai 432 menit.
Artinya, terdapat selisih sekitar 35 menit.
Penelitian yang sama juga memberikan gambaran bahwa hubungan antara kopi dan irama jantung tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar aman atau berbahaya.
Konsumsi kopi tidak menyebabkan peningkatan signifikan pada kontraksi atrium prematur. Namun, kontraksi ventrikel prematur tercatat lebih banyak pada hari ketika peserta mengonsumsi kopi.
Karena itu, respons setiap orang tetap perlu diperhatikan.
Kementerian Kesehatan menyebut sejumlah keluhan dapat muncul ketika seseorang mengonsumsi kafein secara berlebihan. Di antaranya jantung berdebar, sulit tidur, gemetar, sakit kepala, dan mual.
Apabila jantung berdebar terjadi berulang, terlebih jika disertai nyeri dada, sesak napas, pusing berat, atau pingsan, kondisi tersebut tidak sebaiknya dianggap semata-mata sebagai efek kopi. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Kopi Tidak Otomatis Menyebabkan Dehidrasi
Anggapan bahwa kopi otomatis menyebabkan dehidrasi juga perlu diluruskan.
Kafein memang mempunyai efek diuretik atau dapat meningkatkan produksi urine dalam kondisi tertentu. Namun, efek tersebut tidak serta-merta membuat konsumsi kopi dalam jumlah wajar menyebabkan tubuh mengalami dehidrasi.
Sebuah penelitian terhadap 50 pria yang terbiasa mengonsumsi tiga hingga enam cangkir kopi setiap hari membandingkan konsumsi kopi dengan air selama tiga hari.
Peserta mengonsumsi empat porsi kopi, masing-masing sebanyak 200 mililiter, atau air dalam jumlah yang sama.
Hasil penelitian tidak menemukan perbedaan signifikan pada jumlah air dalam tubuh maupun sejumlah indikator hidrasi antara periode konsumsi kopi dan air.
Para peneliti menyimpulkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah moderat pada pria yang sudah terbiasa mengonsumsi kafein menunjukkan kemampuan hidrasi yang tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan air dalam kondisi penelitian tersebut.
Meski demikian, hasil itu tidak dapat diterapkan kepada semua orang tanpa mempertimbangkan keterbatasan penelitian. Seluruh peserta merupakan laki-laki yang telah terbiasa minum kopi.
Penelitian tersebut juga memperoleh pendanaan dari Institute for Scientific Information on Coffee. Dalam publikasinya, peneliti menyatakan pihak pemberi dana tidak terlibat dalam perancangan penelitian, pengumpulan dan analisis data, keputusan publikasi, maupun penulisan laporan.
Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari. Namun, anggapan bahwa setiap gelas Americano pasti membuat tubuh mengalami dehidrasi tidak sesuai dengan temuan penelitian tersebut.
Bagaimana dengan Asam Lambung?
Efek kopi terhadap saluran pencernaan juga berbeda pada setiap orang.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) Amerika Serikat memasukkan kopi dan sumber kafein sebagai minuman yang pada sebagian penderita gastroesophageal reflux disease (GERD) dapat memicu atau memperburuk gejala.
Namun, kopi bukan berarti selalu menyebabkan GERD pada setiap orang.
Bagi penderita GERD, pendekatan yang lebih tepat adalah mengenali makanan dan minuman yang memicu keluhan pada dirinya.
Jika rasa panas di dada, cairan asam naik ke tenggorokan, atau gangguan pencernaan berulang muncul setelah minum Americano, jumlah konsumsi dapat dikurangi sembari memperhatikan perubahan gejala.
Konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan apabila keluhan terjadi terus-menerus atau semakin berat.
Jadi, Berapa Gelas Americano yang Masih Wajar?
Tidak ada angka jumlah gelas yang dapat berlaku sama untuk semua orang.
Satu gelas Americano dengan satu takaran espresso tentu berbeda dengan Americano yang dibuat menggunakan dua atau tiga takaran. Selain itu, kafein tidak hanya berasal dari kopi.
Teh, cokelat, minuman energi, dan sejumlah produk lainnya juga dapat menambah asupan kafein harian.
Bagi kebanyakan orang dewasa sehat, konsumsi sekitar 400 miligram kafein per hari dapat digunakan sebagai acuan umum. Namun, sebagian orang dapat merasakan efek kafein pada jumlah yang jauh lebih rendah.
Karena itu, penikmat Americano perlu memperhatikan jumlah takaran espresso, sumber kafein lainnya, waktu minum, serta respons tubuh setelah mengonsumsi kopi.
Jika kopi mulai menyebabkan sulit tidur, gelisah, sakit perut, atau jantung berdebar, jumlah maupun waktu konsumsinya perlu dievaluasi.
Di Banyuwangi, kopi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar minuman berkafein.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut Festival Ngopi Sepuluh Ewu tidak hanya menjadi ajang mengenalkan produk kopi lokal, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.
“Selain mengenalkan kopi Banyuwangi yang telah dikenal hingga ke luar negeri, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan dan persaudaraan antarwarga,” kata Ipuk.
Menikmati Americano karena itu tidak perlu dibingkai sebagai kebiasaan yang otomatis membahayakan kesehatan.
Yang lebih penting adalah mengetahui jumlah kafein yang dikonsumsi, memilih waktu minum yang tepat, serta mengenali bagaimana tubuh memberikan respons.
Editor : Lugas Rumpakaadi