Mata Perih dan Kepala Pusing Saat Menatap Laptop? Bisa Jadi Digital Eye Strain

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 11:17 WIB
Penggunaan layar dalam waktu lama dapat memicu digital eye strain dengan keluhan seperti mata lelah, kering, penglihatan kabur, sakit kepala, serta ketidaknyamanan pada leher dan bahu. Faktor seperti pola kedip, pencahayaan, jarak monitor, dan postur turut berpengaruh. (ChatGPT)
Penggunaan layar dalam waktu lama dapat memicu digital eye strain dengan keluhan seperti mata lelah, kering, penglihatan kabur, sakit kepala, serta ketidaknyamanan pada leher dan bahu. Faktor seperti pola kedip, pencahayaan, jarak monitor, dan postur turut berpengaruh. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Mata terasa perih, kering, penglihatan sesekali kabur, hingga kepala dan leher tidak nyaman setelah berjam-jam bekerja di depan laptop bukan keluhan yang asing.

Dalam dunia kesehatan mata, kumpulan keluhan tersebut dikenal sebagai Computer Vision Syndrome (CVS) atau digital eye strain.

American Optometric Association (AOA) mendefinisikan CVS sebagai sekumpulan masalah mata dan penglihatan yang berkaitan dengan penggunaan komputer, tablet, ponsel, maupun perangkat digital lainnya dalam waktu lama.

Gejala yang umum antara lain mata lelah, sakit kepala, penglihatan kabur, mata kering, serta nyeri pada leher dan bahu. Semakin lama seseorang menggunakan layar, tingkat ketidaknyamanan juga dapat meningkat.

Dokter spesialis mata dr. Gina Sonia Fensilia Yolanda, Sp.M., MARS mengatakan keluhan seperti itu cukup sering dijumpai pada pengguna layar.

“Belakangan ini saya sering kali mendapatkan pasien dengan berbagai kumpulan gejala yang biasa kita sebut dengan Computer Vision Syndrome atau CVS. Dari penelitian, 90 persen orang yang aktivitasnya lebih dari tiga jam di depan layar berisiko mengalami CVS,” ujar Gina melalui akun TikTok @ginasoniaspm.

Angka prevalensi CVS memang berbeda-beda antarp penelitian.

Sebuah artikel tinjauan medis pernah menyebut sekitar 90 persen pengguna komputer yang berada di depan layar lebih dari tiga jam sehari mengalami CVS. Namun, meta-analisis yang mencakup 103 penelitian dengan 66.577 partisipan mendapatkan prevalensi gabungan sekitar 69 persen.

Angkanya bahkan berkisar 12,1 hingga 97,3 persen dalam berbagai penelitian karena definisi, metode pengukuran, dan karakteristik responden tidak seragam.

Lantas, mengapa bekerja di depan layar dapat membuat mata perih?

Salah satu mekanisme pentingnya adalah perubahan pola berkedip.

National Eye Institute Amerika Serikat menjelaskan seseorang dapat berkedip lebih jarang ketika menatap komputer atau tablet dalam waktu lama. Akibatnya, air mata lebih cepat menguap dan permukaan mata lebih mudah terasa kering.

Bukan hanya frekuensi. Kedipan yang tidak sempurna juga mempunyai peran.

Penelitian yang diterbitkan pada 2026 menemukan dua jam penggunaan smartphone secara intensif dapat memperburuk gejala digital eye strain dan kestabilan lapisan air mata. Pada aktivitas dengan beban visual tinggi, jumlah kedipan tidak lengkap juga meningkat.

Fokus jarak dekat dalam waktu panjang turut membuat sistem akomodasi dan koordinasi mata bekerja terus-menerus. Kelainan refraksi yang belum terkoreksi, seperti rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme, juga dapat memperberat keluhan.

Lingkungan kerja ikut berpengaruh.

Ruangan dengan kelembapan rendah, embusan AC atau kipas, serta lingkungan yang kering dapat mempercepat penguapan air mata. National Eye Institute mencatat lingkungan kering dan berangin sebagai faktor yang dapat menyebabkan air mata lebih cepat mengering.

Status hidrasi tubuh juga memiliki kaitan dengan kondisi air mata. Namun, tidak tepat menyimpulkan setiap kekurangan minum otomatis membuat produksi air mata turun drastis. Sejumlah penelitian menunjukkan dehidrasi sistemik dapat berkaitan dengan perubahan osmolaritas air mata dan mata kering, tetapi hubungan tersebut masih kompleks.

Keluhan saat menggunakan komputer juga tidak selalu berhenti pada mata.

Posisi layar yang terlalu rendah atau terlalu jauh dapat membuat kepala dan badan terus condong ke depan. Dalam jangka panjang, postur seperti itu dapat memicu ketegangan pada leher, bahu, dan punggung.

Occupational Safety and Health Administration (OSHA) Amerika Serikat menyarankan monitor diletakkan langsung di depan pengguna dengan bagian atas layar setinggi atau sedikit di bawah mata. Jarak yang nyaman umumnya berada di kisaran 50–100 sentimeter, dengan ukuran teks disesuaikan agar pengguna tidak perlu membungkuk untuk membaca.

Pencahayaan juga perlu diperhatikan. Penelitian pada 2026 menemukan membaca dari layar terang di lingkungan gelap menghasilkan gangguan stabilitas lapisan air mata, perubahan pola kedip, dan kelelahan visual paling besar dibandingkan kondisi pencahayaan yang lebih seimbang.

Lalu, bagaimana dengan sinar biru?

Cahaya pada malam hari memang berperan dalam pengaturan ritme sirkadian sehingga penggunaan perangkat menjelang tidur dapat mengganggu pola tidur pada sebagian orang.

Namun, bukti yang tersedia tidak menunjukkan bahwa cahaya biru dari layar komputer pada penggunaan normal merupakan penyebab kerusakan mata. Bukti manfaat kacamata pemblokir cahaya biru untuk mengatasi digital eye strain juga masih terbatas.

Untuk mengurangi keluhan, Gina menyarankan aturan 20-20-20.

“Setiap kita menatap layar selama 20 menit, kita dianjurkan beristirahat selama 20 detik dengan cara melihat sejauh 20 kaki atau 6 meter. Selain itu, pastikan minum air putih yang cukup dan selalu bekerja dalam posisi ergonomis,” ujarnya.

AOA juga merekomendasikan aturan tersebut sebagai salah satu cara memberi jeda pada mata. Meski demikian, hasil penelitian mengenai efektivitas persis pola 20-20-20 masih beragam. Yang lebih penting adalah menghindari pekerjaan jarak dekat tanpa jeda dalam waktu terlalu panjang.

Pengaturan tempat kerja dapat menjadi langkah berikutnya. Monitor perlu ditempatkan pada jarak yang nyaman, pantulan cahaya diminimalkan, ukuran tulisan dibuat cukup besar, dan posisi duduk diatur sehingga leher tidak terus menunduk.

Pola makan bergizi seimbang juga tetap diperlukan untuk kesehatan secara umum. Namun, suplemen lutein, zeaxanthin, maupun omega-3 tidak sebaiknya dianggap sebagai obat khusus CVS.

Penelitian mengenai lutein dan mata kering menunjukkan hasil yang belum konsisten. Sementara uji klinis DREAM tidak menemukan suplemen omega-3 dosis tinggi memberikan hasil lebih baik dibandingkan plasebo pada pasien dry eye sedang hingga berat.

Digital eye strain umumnya berkaitan dengan penggunaan layar dan faktor ergonomi, tetapi mata perih, penglihatan kabur, atau sakit kepala juga dapat mempunyai penyebab lain.

AOA menyebut kelainan refraksi yang belum dikoreksi dapat memperberat gejala. Karena itu, bila keluhan terus berulang, menetap setelah berhenti menggunakan layar, atau semakin mengganggu penglihatan dan aktivitas, pemeriksaan mata diperlukan untuk mencari penyebabnya.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata berapa jam seseorang menatap laptop.

Cara berkedip, jarak layar, pencahayaan, kelembapan ruangan, koreksi penglihatan, waktu istirahat, hingga posisi tubuh sama-sama dapat menentukan apakah seharian di depan layar berakhir nyaman atau justru membuat mata dan kepala terasa berat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
mata kering digital eye strain computer vision syndrome mata perih kesehatan mata