RADAR BANYUWANGI – Nyeri perut yang semakin berat ternyata bukan keluhan biasa. Pasien berusia 60 tahun dengan diagnosis general peritonitis atau peradangan luas pada selaput rongga perut harus menjalani operasi laparotomi eksplorasi di RSUD Blambangan untuk mencari sumber masalah sekaligus menangani kondisi di dalam rongga abdomen.
Tindakan tersebut dilakukan Dokter Spesialis Bedah Umum RSUD Blambangan dr Agus Wahyudi SpB sebagai bagian dari penanganan kegawatdaruratan bedah. General peritonitis merupakan kondisi serius yang membutuhkan diagnosis dan penanganan secara cepat dan tepat.
Pasien sebelumnya datang dengan keluhan nyeri perut yang semakin berat. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, pasien dinilai memerlukan tindakan operatif untuk mengetahui sumber terjadinya peritonitis dan melakukan penanganan terhadap kondisi di dalam rongga perut.
Rongga Abdomen Dieksplorasi
Setelah menjalani pemeriksaan dan persiapan praoperasi, tim medis melakukan koordinasi untuk memastikan pasien siap menjalani tindakan. Laparotomi eksplorasi kemudian dilakukan dengan anestesi umum.
Dalam prosedur tersebut, dokter spesialis bedah umum membuka akses ke rongga abdomen untuk melakukan eksplorasi secara sistematis. Tujuannya menemukan sumber peradangan sekaligus menentukan penanganan yang diperlukan berdasarkan kondisi yang ditemukan selama operasi.
Proses tindakan dilakukan dengan memperhatikan prinsip keselamatan pasien dan sterilitas. Koordinasi antarprofesi juga menjadi bagian penting selama proses penanganan, mengingat kasus kegawatdaruratan abdomen membutuhkan respons medis yang terintegrasi.
Setelah operasi selesai, pasien mendapatkan pemantauan dan perawatan pascaoperasi secara intensif sesuai kondisi klinisnya.
Perkuat Layanan Bedah Darurat
Penanganan kasus general peritonitis tersebut menjadi bagian dari pelayanan kegawatdaruratan bedah yang diberikan RSUD Blambangan. Kasus seperti ini membutuhkan kesiapan dokter spesialis, tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan, serta koordinasi antarprofesi agar pasien dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medis.
Plt Direktur RSUD Blambangan dr Asiyah menegaskan komitmen rumah sakit untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Penanganan diberikan secara profesional, cepat, dengan tetap berorientasi pada keselamatan dan kebutuhan pasien.
Komitmen tersebut juga sejalan dengan arahan Bupati Ipuk Fiestiandani. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, menurut arahan tersebut, tidak hanya bergantung pada fasilitas dan teknologi kesehatan, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia serta koordinasi yang baik antarprofesi.
Kasus ini menegaskan pentingnya respons cepat pada kegawatdaruratan abdomen. Dengan dukungan tenaga medis, fasilitas, dan koordinasi tim, RSUD Blambangan terus memperkuat kesiapan layanan bedah untuk menangani pasien yang membutuhkan tindakan segera. (*/sgt)
Editor : Ali Sodiqin