RADAR BANYUWANGI - Berhenti merokok tidak hanya mengubah kebiasaan seseorang terhadap rokok. Cara tubuh memproses secangkir kopi pun dapat ikut berubah.
Seorang mantan perokok mungkin merasa kopi yang biasa diminumnya mendadak lebih “nendang”, membuat gelisah, jantung berdebar, atau lebih sulit tidur.
Namun, fenomena itu bukan berarti tubuh sedang mengganti kebutuhan nikotin dengan kafein.
Penjelasannya justru berkaitan dengan perubahan metabolisme setelah paparan asap rokok berhenti.
Asap Rokok Membuat Kafein Lebih Cepat Dipecah
Sebagian besar kafein dimetabolisme di hati dengan bantuan enzim bernama CYP1A2.
Pada perokok, sejumlah senyawa dalam asap tembakau, terutama polycyclic aromatic hydrocarbons atau PAH, dapat meningkatkan aktivitas enzim tersebut. Akibatnya, kafein cenderung dibersihkan dari tubuh lebih cepat.
Ketika seseorang berhenti merokok, rangsangan terhadap CYP1A2 berkurang.
Sebuah penelitian terhadap perokok berat menemukan pembersihan kafein turun sekitar 36 persen setelah berhenti merokok. Penurunan aktivitas enzim tersebut terjadi relatif cepat, dengan waktu paruh perubahan sekitar 39 jam.
Penelitian lain menemukan empat hari berhenti merokok meningkatkan paparan kafein selama 24 jam sekitar 46 persen dibanding ketika peserta masih merokok.
Artinya, orang yang tetap minum kopi dalam jumlah sama setelah berhenti merokok dapat memperoleh efek kafein yang lebih kuat atau lebih lama.
CDC bahkan mengingatkan, “Setelah berhenti merokok, kafein bertahan lebih lama di dalam tubuh.”
Bukan karena Nikotin
Perbedaan ini penting.
Nikotin memang menyebabkan ketergantungan dan mempunyai efek terhadap sistem saraf. Namun, peningkatan metabolisme kafein pada perokok terutama berkaitan dengan komponen asap rokok, bukan nikotin itu sendiri.
Tinjauan mengenai penghentian merokok menyebut perubahan enzim CYP1A2 tidak disebabkan komponen nikotin. Karena itu, penggunaan terapi pengganti nikotin tidak menghasilkan efek metabolisme yang sama seperti asap rokok.
Protokol penanganan ketergantungan nikotin Kementerian Kesehatan Malaysia yang diperbarui pada 2026 juga menegaskan bahwa interaksi tersebut terutama berasal dari PAH dalam asap, bukan nikotin.
Kopi dan Rokok Juga Terikat oleh Kebiasaan
Ada faktor lain yang tidak berkaitan langsung dengan metabolisme.
Kopi sering menjadi bagian dari ritual merokok. Seseorang mungkin terbiasa menyalakan rokok saat minum kopi pagi, beristirahat di kantor, setelah makan, atau ketika berkumpul bersama teman.
Setelah rokok dihentikan, kebiasaan kopinya belum tentu ikut hilang.
CDC menyebut minum kopi sebagai salah satu aktivitas yang umum menjadi pemicu keinginan merokok pada orang yang sedang berhenti. NHS juga memasukkan kopi sebagai salah satu pemicu yang berkaitan dengan rutinitas lama merokok.
Karena itu, hubungan kopi dan rokok bisa bersifat perilaku sekaligus biologis.
Namun, belum tepat menyimpulkan bahwa mantan perokok pasti akan minum kopi lebih banyak sebagai pengganti rokok.
Pada sebagian orang, justru konsumsi kafein perlu dikurangi sementara karena tubuh memprosesnya lebih lambat.
Jumlah yang Sama Bisa Menimbulkan Efek Berbeda
Penelitian pada 162 pengguna kafein yang berhenti merokok menunjukkan konsentrasi kafein meningkat secara bertahap ketika mereka tetap mengonsumsi kafein. Tiga minggu setelah berhenti merokok, kadar yang diukur mencapai sekitar dua kali nilai awal.
Karena itu, gejala seperti gelisah, sulit tidur, tremor ringan, atau jantung berdebar setelah berhenti merokok tidak selalu semata-mata berasal dari putus nikotin.
Asupan kafein yang sebelumnya dapat ditoleransi juga bisa ikut berperan.
Smokefree.gov menyarankan orang yang baru berhenti merokok mengurangi sementara kopi, teh, maupun minuman berkafein jika merasa gelisah atau sulit tidur.
FDA menyebut hingga sekitar 400 miligram kafein per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada kebanyakan orang dewasa sehat. Namun, sensitivitas setiap orang berbeda. Konsumsi berlebih dapat memicu gelisah, sakit kepala, mual, gangguan lambung, atau jantung berdebar.
Karena itu, orang yang baru berhenti merokok tidak perlu otomatis meninggalkan kopi.
Yang lebih penting adalah memperhatikan perubahan respons tubuh. Jika kopi yang biasanya terasa biasa mulai menyebabkan sulit tidur, gelisah, atau berdebar, mengurangi jumlah atau memilih minuman dengan kafein lebih rendah dapat menjadi langkah sederhana.
Berhenti merokok tetap merupakan perubahan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Namun, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi, dan secangkir kopi yang sama pun bisa memberikan sensasi berbeda setelah asap rokok tidak lagi masuk ke tubuh.
Editor : Lugas Rumpakaadi