RADAR BANYUWANGI - Pernah merasa flek di wajah semakin terlihat meski sebagian besar waktu dihabiskan di dalam ruangan dan di depan laptop?
Layar komputer atau ponsel sering dituding sebagai penyebabnya karena memancarkan blue light atau cahaya biru.
Blue light memang merupakan bagian dari spektrum visible light atau cahaya tampak. Namun, apakah menatap laptop berjam-jam benar-benar cukup untuk menyebabkan flek hitam?
Bukti ilmiah sejauh ini menunjukkan jawabannya belum demikian.
Visible Light Memang Bisa Memicu Pigmentasi
Sejumlah penelitian membuktikan visible light, terutama cahaya biru-violet dengan panjang gelombang sekitar 415 nanometer, dapat meningkatkan pigmentasi kulit.
Efek tersebut terutama terlihat pada orang dengan warna kulit lebih gelap.
Dalam penelitian pada manusia, paparan cahaya 415 nm menghasilkan pigmentasi yang bergantung pada dosis dan dapat bertahan hingga beberapa bulan pada tipe kulit III dan IV.
American Academy of Dermatology (AAD) juga menyatakan visible light dapat memperburuk melasma, terutama pada orang dengan warna kulit lebih gelap.
Namun, visible light dalam penelitian tersebut tidak dapat begitu saja disamakan dengan cahaya yang keluar dari layar laptop.
Matahari Jauh Lebih Kuat daripada Laptop
Konsensus global mengenai penanganan gangguan hiperpigmentasi yang diterbitkan pada 2026 menyebut intensitas blue light dari televisi, komputer, dan ponsel sekitar 100 hingga 1.000 kali lebih rendah dibanding cahaya matahari.
Penelitian lain yang mengukur langsung smartphone, tablet, monitor, dan laptop juga menemukan dosis blue light dari perangkat sehari-hari relatif kecil dan dinilai tidak mungkin menimbulkan bahaya pada kulit dalam penggunaan normal.
Bahkan, penelitian terhadap 12 pasien melasma menguji paparan yang setara dengan menatap layar komputer berintensitas tinggi selama delapan jam per hari.
Pengujian dilakukan selama lima hari berturut-turut.
Hasilnya, tidak ditemukan perburukan pigmentasi melasma yang signifikan.
Tinjauan sistematis terhadap penelitian yang tersedia juga belum mengidentifikasi paparan blue light perangkat elektronik sebagai bahaya yang terbukti menyebabkan pigmentasi, memperburuk melasma, atau menyebabkan photoaging pada manusia.
Penelitian jangka panjang masih dibutuhkan. Namun, berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, kekhawatiran terhadap layar tidak sebanding dengan risiko paparan cahaya matahari.
Jendela Justru Bisa Lebih Relevan
Seseorang yang bekerja di dalam ruangan juga belum tentu bebas dari paparan matahari.
UVA dapat melewati kaca jendela, sedangkan visible light dari matahari juga dapat masuk ke dalam ruangan.
Karena itu, orang yang bekerja berjam-jam di dekat jendela dengan paparan matahari langsung memiliki alasan lebih kuat untuk memperhatikan fotoproteksi dibanding sekadar karena menatap layar komputer.
Hal tersebut terutama relevan bagi orang dengan melasma atau hiperpigmentasi.
Mengapa Tinted Sunscreen Disarankan untuk Melasma?
Sunscreen broad-spectrum terutama dirancang memberikan perlindungan terhadap UVA dan UVB.
Untuk orang yang mempunyai melasma atau mudah mengalami hiperpigmentasi, AAD merekomendasikan tinted sunscreen dengan SPF minimal 30 yang mengandung iron oxide.
Iron oxide membantu memberikan perlindungan terhadap visible light dari matahari.
Sebuah uji klinis pada pasien melasma menemukan sunscreen yang memberikan perlindungan UV sekaligus visible light menghasilkan perbaikan pigmentasi lebih baik daripada sunscreen yang hanya memberikan perlindungan UV ketika keduanya digunakan bersama terapi hydroquinone.
Penelitian lain juga menunjukkan formulasi yang mengandung iron oxide memberikan perlindungan lebih baik terhadap pigmentasi akibat visible light dibanding mineral sunscreen tanpa warna pada individu dengan tipe kulit IV.
Artinya, manfaat tinted sunscreen memang mempunyai dasar ilmiah.
Namun, alasannya terutama untuk melindungi kulit dari visible light matahari, bukan karena laptop terbukti menyebabkan flek.
Perlukah Menyalakan Night Mode demi Kulit?
Night mode atau pengaturan warna layar yang lebih hangat memang dapat mengurangi jumlah blue light yang dipancarkan perangkat.
Penelitian dosimetri menunjukkan mode tersebut dapat menurunkan dosis blue light dengan besaran yang berbeda-beda menurut perangkat.
Namun, belum ada bukti bahwa mengaktifkan night mode diperlukan untuk mencegah flek wajah.
Hal yang sama berlaku pada menjauhkan layar dari wajah. Jarak memang menurunkan intensitas cahaya yang diterima, tetapi belum terbukti diperlukan sebagai strategi dermatologis pada penggunaan perangkat normal.
Jadi, jika flek atau melasma semakin jelas meski sehari-hari bekerja di depan laptop, jangan langsung menyalahkan layar.
Paparan sinar matahari, termasuk dari jendela, faktor hormonal, peradangan kulit, obat tertentu, serta berbagai faktor lain dapat berperan dalam hiperpigmentasi.
Bagi orang yang mempunyai melasma atau flek yang terus bertambah, perlindungan terhadap matahari dan pemeriksaan dokter kulit lebih relevan daripada sekadar meredupkan layar laptop.
Editor : Lugas Rumpakaadi