RADAR BANYUWANGI – Pernah mematikan kompor, meninggalkan rumah, lalu mendadak bertanya dalam hati, “Tadi benar-benar sudah mati belum?”
Kembali sekali untuk memastikan belum tentu menunjukkan obsessive-compulsive disorder atau OCD.
National Institute of Mental Health (NIMH) menegaskan bahwa mengecek ulang sesuatu sesekali merupakan pengalaman yang umum.
“Semua orang kadang memikirkan ulang atau mengecek sesuatu dua kali,” tulis NIMH dalam panduannya mengenai OCD.
Perbedaannya mulai terlihat ketika keraguan yang tidak diinginkan datang terus-menerus, menimbulkan kecemasan kuat, kemudian membuat seseorang merasa harus melakukan ritual tertentu berulang kali untuk memperoleh rasa lega.
Itulah pola obsesi dan kompulsi yang menjadi ciri utama OCD.
Obsesi Bukan Sekadar Banyak Pikiran
Obsesi adalah pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul berulang, tidak diinginkan, dan mengganggu.
Isinya sangat beragam. Seseorang dapat takut terkontaminasi, khawatir telah melupakan sesuatu, merasa benda harus tersusun secara simetris, atau terus dihantui keraguan apakah pintu benar-benar terkunci.
Obsesi juga bisa berbentuk pikiran mengenai kekerasan, agama, seksual, atau tema lain yang justru bertentangan dengan keinginan seseorang.
Untuk meredakan kecemasan tersebut, seseorang dapat melakukan kompulsi.
Contohnya mengecek pintu berkali-kali, mencuci tangan berulang, menghitung, menata benda dengan aturan tertentu, atau mengucapkan kata tertentu dalam hati.
Kompulsi memberi kelegaan sementara. Namun, kecemasan kemudian dapat muncul lagi sehingga ritual kembali dilakukan. Inilah yang membuat OCD dapat membentuk sebuah siklus.
Kapan Keraguan Perlu Diwaspadai?
Keraguan sendiri bukan diagnosis OCD.
NIMH menyebut penderita OCD umumnya kesulitan mengendalikan obsesi atau kompulsinya meskipun mengetahui perilaku tersebut berlebihan. Gejalanya dapat menyita lebih dari satu jam sehari atau menyebabkan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari.
International OCD Foundation mengingatkan diagnosis tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan satu kebiasaan.
“Hanya terapis terlatih yang dapat mendiagnosis OCD,” tulis IOCDF dalam panduan diagnosisnya.
Karena itu, seseorang yang suka mengecek kompor dua kali, menyukai rumah rapi, atau sangat teliti belum tentu mengalami OCD.
Hal yang lebih penting adalah apakah pikiran dan ritual tersebut menimbulkan distress, menyita banyak waktu, serta mengganggu fungsi sehari-hari.
OCD Bukan Sekadar ‘Serotonin Tidak Seimbang’
Penyebab OCD sampai sekarang belum diketahui secara tunggal.
Penelitian pencitraan otak menemukan perbedaan pada sejumlah bagian dan jaringan otak yang berhubungan dengan pengendalian perilaku, emosi, deteksi kesalahan, dan pembentukan kebiasaan.
Namun, penjelasan populer bahwa OCD semata-mata terjadi karena kekurangan atau ketidakseimbangan serotonin terlalu sederhana.
International OCD Foundation menyatakan belum terdapat bukti konklusif bahwa OCD disebabkan hanya oleh gangguan kadar serotonin. Dopamin, glutamat, GABA, sejumlah jaringan otak, dan proses biologis lain juga ikut diteliti.
Faktor genetik turut berperan.
NIMH menyebut seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan OCD memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Namun, para ilmuwan belum menemukan satu gen tertentu yang secara pasti menyebabkan OCD.
Meta-analisis penelitian keluarga juga menemukan kerabat tingkat pertama dari penderita OCD memiliki risiko lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Temuan itu menunjukkan kontribusi genetik, bukan berarti OCD pasti diwariskan.
Stres, temperament, serta pengalaman traumatis masa kanak-kanak juga diteliti sebagai faktor yang mungkin berhubungan dengan risiko OCD. Hubungan tersebut kompleks dan tidak berarti satu pengalaman tertentu otomatis menyebabkan gangguan ini.
ERP Menjadi Salah Satu Terapi Utama
OCD dapat ditangani.
Salah satu terapi dengan bukti paling kuat adalah Exposure and Response Prevention atau ERP, bentuk khusus cognitive behavioral therapy (CBT).
Dalam ERP, seseorang secara bertahap menghadapi situasi yang memicu obsesi dalam lingkungan yang aman, kemudian berlatih tidak melakukan kompulsi yang biasanya dipakai untuk meredakan kecemasan.
International OCD Foundation menyebut ERP sebagai terapi psikologis lini pertama untuk OCD karena didukung bukti penelitian yang kuat.
Obat juga dapat digunakan. NIMH menyebut selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) termasuk obat yang paling sering diresepkan untuk OCD. Namun, obat harus diberikan dan dipantau tenaga kesehatan karena respons, dosis, serta efek samping setiap orang dapat berbeda.
Jadi, keraguan berulang memang dapat menjadi bagian dari OCD, tetapi satu gejala saja tidak cukup untuk menetapkan diagnosis.
Jika ritual mengecek, mencuci, menghitung, mencari kepastian, atau aktivitas mental berulang mulai menyita banyak waktu dan mengganggu kehidupan sehari-hari, evaluasi psikolog atau psikiater menjadi langkah yang lebih tepat daripada mendiagnosis diri sendiri dari satu gejala.
Editor : Lugas Rumpakaadi