Bekas Cakaran Kucing Menghitam dan Susah Hilang? Ini Penjelasan Medisnya

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 15:24 WIB
Bekas cakaran kucing dapat meninggalkan perubahan warna atau jaringan parut, terutama jika luka cukup dalam. Namun, noda kehitaman tidak selalu berarti keloid atau infeksi. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Bekas cakaran kucing dapat meninggalkan perubahan warna atau jaringan parut, terutama jika luka cukup dalam. Namun, noda kehitaman tidak selalu berarti keloid atau infeksi. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Bagi pencinta kucing, terkena cakaran saat bermain dengan hewan peliharaan bukan kejadian asing. Lukanya terkadang hanya berupa garis kemerahan yang cepat sembuh. Namun, pada sebagian orang, bekasnya bisa bertahan cukup lama, berubah kecokelatan, atau bahkan menjadi jaringan parut yang menonjol.

“Nyebelin banget sih kalau bekas cakarnya masih ada dan berbekas. Soalnya bikin kelihatan berantakan dan ga enak dilihat gitu. Terus kadang kalau cakarannya sampai berdarah, pas udah mau kering malah jadinya gatal,” ujar Puteri.

Bekas seperti itu sebenarnya bisa muncul melalui mekanisme yang berbeda. Warna cokelat atau kehitaman belum tentu merupakan jaringan parut. Kondisi tersebut bisa berupa hiperpigmentasi pascainflamasi atau post-inflammatory hyperpigmentation (PIH).

Sementara itu, scar terbentuk ketika luka cukup dalam hingga merusak lapisan dermis.

Luka yang Lebih Dalam Lebih Berisiko Menjadi Scar

Kulit terdiri atas beberapa lapisan. Epidermis berada di bagian terluar, sedangkan dermis berada di bawahnya dan mengandung kolagen, pembuluh darah, saraf, hingga folikel rambut.

American Academy of Dermatology (AAD) menjelaskan bahwa jaringan parut terbentuk ketika luka cukup dalam untuk mengenai dermis. Tubuh kemudian menghasilkan kolagen untuk memperbaiki bagian yang rusak. Jaringan kolagen hasil perbaikan memiliki struktur berbeda dibanding kulit normal sehingga tampak sebagai bekas luka.

Karena itu, tidak semua cakaran kucing akan meninggalkan scar. Cakaran superfisial yang hanya mengenai lapisan luar kulit biasanya memiliki peluang lebih kecil untuk menghasilkan jaringan parut dibanding luka yang lebih dalam.

Kenapa Bekasnya Bisa Berubah Hitam?

Noda kehitaman setelah luka sembuh dapat terjadi akibat PIH.

Tinjauan ilmiah mengenai PIH menjelaskan bahwa cedera atau peradangan kulit dapat meningkatkan produksi dan distribusi melanin. Akibatnya, setelah kemerahan atau luka mereda, area tersebut dapat menyisakan bercak berwarna cokelat hingga hitam. Kondisi ini juga cenderung lebih menonjol pada warna kulit yang lebih gelap.

Paparan sinar ultraviolet juga dapat membuat perubahan warna tersebut bertahan lebih lama atau terlihat lebih gelap. Karena itulah perlindungan dari matahari penting setelah luka menutup.

Gatal Saat Luka Sembuh Tidak Selalu Berarti Infeksi

Rasa gatal ketika luka mulai mengering juga cukup umum.

Penelitian mengenai wound pruritus menunjukkan sensasi gatal dapat muncul selama proses penyembuhan maupun pada jaringan parut. Mekanismenya tidak sederhana karena melibatkan respons inflamasi, mediator kimia, serta perubahan pada jalur saraf di area luka.

Karena itu, gatal ringan yang muncul ketika luka membaik tidak otomatis menunjukkan infeksi.

Sebaliknya, luka perlu diwaspadai jika kemerahan makin meluas, terasa semakin nyeri, mengeluarkan nanah, atau disertai demam.

Bagaimana dengan Bakteri Bartonella?

Cakaran kucing memang dapat menularkan Bartonella henselae, bakteri penyebab cat-scratch disease. Namun, tidak setiap kucing membawa bakteri tersebut dan tidak setiap cakaran menyebabkan penyakit.

“Sebagian besar cakaran kucing tidak menyebabkan CSD," tegas CDC.

Bakteri dapat berpindah ketika cakaran terkontaminasi kotoran kutu yang mengandung B. henselae. Kucing terinfeksi yang menggigit atau menjilat luka terbuka juga dapat menularkannya. Anak kucing dan kucing liar memiliki risiko lebih tinggi membawa bakteri tersebut dibanding kucing peliharaan dewasa.

Gejala khas CSD bukan sekadar bekas luka menghitam. CDC menyebut penderita dapat mengalami demam ringan, benjolan atau pustula pada lokasi cakaran, serta pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa nyeri sekitar satu hingga tiga minggu setelah paparan.

Karena itu, tidak tepat menyebut Bartonella sebagai penyebab umum bekas hitam atau keloid setelah tercakar.

Keloid Juga Tidak Terjadi pada Semua Orang

Sebagian luka dapat berkembang menjadi bekas menonjol seperti hypertrophic scar atau keloid. Namun, kecenderungan tersebut sangat dipengaruhi faktor individual.

AAD menjelaskan bahwa siapa pun dapat mengalami keloid, tetapi risiko lebih tinggi terdapat pada orang yang memang rentan membentuk keloid atau memiliki riwayat keluarga serupa.

“Siapa pun dapat mengalami keloid, tetapi sebagian orang memiliki risiko lebih tinggi ketika kulitnya terluka," ujar dr Sonya Kenkare, seorang dokter kulit.

Artinya, cakaran kucing dapat menjadi pemicu luka, tetapi bukan kucing atau bakteri Bartonella yang secara khusus membuat seseorang mengalami keloid.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Tercakar?

CDC menyarankan luka cakaran segera dicuci dengan sabun dan air. Langkah sederhana tersebut membantu mengurangi risiko infeksi.

Untuk luka ringan, AAD menyarankan menjaga luka tetap bersih dan lembap dengan petroleum jelly, kemudian menutupnya menggunakan perban bersih. Setelah luka sembuh, tabir surya spektrum luas dengan SPF minimal 30 dapat membantu mencegah bekas merah atau cokelat semakin gelap.

Silicone gel atau silicone sheet juga dapat digunakan pada jenis bekas luka tertentu setelah permukaan luka sudah menutup, khususnya bagi orang yang rentan membentuk jaringan parut menonjol. Penggunaannya pada luka terbuka sebaiknya dihindari.

Jika luka makin merah, membengkak, bernanah, disertai demam, atau muncul pembengkakan kelenjar getah bening setelah tercakar, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
bekas cakaran kucing cakaran kucing hiperpigmentasi cat scratch disease bekas luka