Kaki Kesemutan hingga Mata Kaki Menghitam, Apa Benar Duduk Bersila Terlalu Lama Berbahaya?

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 15:11 WIB
Seseorang duduk bersila saat menggunakan laptop. Duduk bersila tidak otomatis merusak tubuh, tetapi mempertahankan posisi yang sama terlalu lama dapat memicu kesemutan akibat tekanan pada saraf serta gesekan berulang pada kulit mata kaki. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Seseorang duduk bersila saat menggunakan laptop. Duduk bersila tidak otomatis merusak tubuh, tetapi mempertahankan posisi yang sama terlalu lama dapat memicu kesemutan akibat tekanan pada saraf serta gesekan berulang pada kulit mata kaki. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Duduk bersila menjadi posisi favorit sebagian orang saat belajar, bekerja, mengobrol, atau sekadar bersantai di lantai. Nyaman pada awalnya, tetapi setelah cukup lama kaki bisa mulai kebas dan kesemutan.

“Aku kadang pas enak-enak duduk bersila, kaki tiba-tiba kram dan kesemutan kalau kelamaan. Nanti pas silanya dilepas, udah normal. Aku sila lagi, kram lagi. Selain itu, mata kaki juga kayak hitam karena terlalu sering kena gesekan,” ujar Aqis.

Keluhan tersebut tidak sepenuhnya tanpa dasar. Namun, duduk bersila sendiri bukan posisi yang otomatis merusak tubuh. Durasi, permukaan tempat duduk, tekanan pada bagian tubuh tertentu, dan seberapa sering seseorang berganti posisi ikut menentukan.

Tiga hal berikut perlu diperhatikan.

1. Kesemutan Biasanya Berhubungan dengan Tekanan pada Saraf

Sensasi kesemutan atau seperti ditusuk-tusuk dikenal sebagai parestesia. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa keluhan tersebut sering muncul ketika anggota tubuh terlalu lama berada dalam posisi tertentu sehingga memberikan tekanan pada saraf. Biasanya sensasi akan menghilang setelah posisi diubah.

Salah satu saraf yang rentan adalah common peroneal nerve atau saraf peroneal komunis. Saraf tersebut berjalan dekat permukaan di sekitar bagian luar lutut dan kepala tulang fibula sehingga relatif mudah mengalami tekanan.

Merck Manual menyebut tekanan pada saraf peroneal dapat membuat kaki terasa “tertidur”. Mengubah posisi biasanya menghilangkan tekanan dan membuat fungsi saraf kembali normal.

Pada kondisi ekstrem, mempertahankan posisi bersila selama beberapa jam bahkan pernah dilaporkan menyebabkan peroneal nerve palsy dan foot drop atau kesulitan mengangkat bagian depan kaki.

Sebuah laporan kasus pada 2024 mencatat seorang perempuan mengalami kelumpuhan saraf peroneal setelah duduk bersila sekitar empat jam selama proses persalinan dengan anestesi epidural. Laporan kasus lain pada 2025 mencatat foot drop setelah seorang pria duduk bersila di permukaan keras selama sekitar dua hingga tiga jam.

Kasus seperti itu tidak berarti kesemutan biasa akan berkembang menjadi kelumpuhan saraf. Justru, kesemutan yang segera hilang setelah kaki digerakkan umumnya bersifat sementara. Yang perlu diperiksa adalah mati rasa yang tidak hilang, sering berulang tanpa sebab jelas, atau disertai kelemahan dan kesulitan berjalan.

2. Gesekan Berulang Bisa Membuat Kulit Mata Kaki Tebal dan Lebih Gelap

Keluhan mata kaki menghitam akibat sering bersila juga memiliki penjelasan dermatologis.

Penelitian yang diterbitkan Dermatology Reports mendeskripsikan kasus penebalan kulit mata kaki pada orang yang terbiasa duduk bersila di lantai. Para peneliti menjelaskan gesekan terus-menerus antara mata kaki dan karpet atau permukaan keras dapat menyebabkan terbentuknya kapalan.

Tinjauan mengenai frictional dermatoses juga menyebut tekanan dan gesekan berulang dapat menyebabkan berbagai perubahan kulit, termasuk penebalan atau likenifikasi dan hiperpigmentasi.

Artinya, warna mata kaki yang tampak lebih gelap dapat berkaitan dengan gesekan serta tekanan berulang. Namun, tidak semua mata kaki menghitam disebabkan posisi duduk. Perubahan warna yang muncul tanpa kebiasaan bergesekan, disertai luka, bengkak, nyeri, atau perubahan kulit lain perlu diperiksa karena penyebabnya bisa berbeda.

3. Postur Panggul Berubah, tetapi Belum Berarti Tulang Belakang Rusak

Beberapa penelitian memang menemukan duduk dengan kaki menyilang dapat mengubah distribusi tekanan dan posisi panggul.

Studi terhadap 232 orang dewasa menemukan kelompok yang melaporkan menyilangkan kaki di kursi selama tiga jam atau lebih per hari memiliki perbedaan kemiringan bahu dan panggul dibanding kelompok lain. Namun, studi tersebut bersifat observasional sehingga tidak membuktikan bahwa menyilangkan kaki sendirilah yang menyebabkan perubahan tersebut. Terlebih, postur yang diteliti berbeda dengan duduk bersila di lantai.

Penelitian yang lebih relevan pada 2025 meminta 30 orang sehat menggunakan ponsel selama 30 menit dalam beberapa posisi duduk di lantai. Pada posisi bersila, peneliti menemukan perubahan pada sudut tubuh, kemiringan panggul, dan distribusi tekanan pada bokong.

Peneliti menyimpulkan, “Jika duduk di lantai dalam waktu lama tidak terhindarkan, posisi duduk memanjangkan kedua kaki secara simetris lebih disarankan.”

Meski demikian, perubahan posisi tubuh selama duduk tidak otomatis berarti kerusakan permanen. Tiga akademisi fisioterapi dari University of Technology Sydney bahkan menekankan bahwa bukti mengenai bahaya menyilangkan kaki bagi punggung, pinggul, atau lutut masih terbatas.

“Posisi duduk paling sehat sering kali adalah posisi yang tidak Anda pertahankan selama satu jam berikutnya,” tulis mereka, seperti dikutip The Independent, April 2026.

Karena itu, masalah utamanya bukan larangan duduk bersila. Tubuh justru membutuhkan variasi posisi.

Jika kaki mulai kesemutan, terasa kaku, atau tidak nyaman, luruskan kaki dan bergerak. WHO juga menganjurkan mengurangi periode duduk berkepanjangan dan mengganti sebagian waktu sedentari dengan aktivitas fisik.

Dengan demikian, duduk bersila masih boleh dilakukan selama terasa nyaman. Yang sebaiknya dihindari adalah mempertahankan satu posisi terlalu lama dan mengabaikan kesemutan, mati rasa, atau kelemahan yang menetap.

Editor : Lugas Rumpakaadi
duduk bersila kaki kesemutan mata kaki hitam saraf peroneal kesehatan tulang