RADAR BANYUWANGI - Main HP sambil tengkurap di kasur memang terasa nyaman. Apalagi saat scrolling media sosial, menonton video, atau sekadar membalas pesan. Namun, posisi santai itu ternyata belum tentu membuat otot leher dan bahu ikut beristirahat.
Saat tengkurap, kepala biasanya harus dipertahankan dalam posisi tertentu. Kedua siku juga kerap menjadi tumpuan tubuh. Jika dilakukan cukup lama, otot leher dan bahu bisa bekerja terus-menerus hingga memunculkan rasa pegal.
“Aku kalau habis main HP sambil tengkurap gitu tuh leher rasanya pegal banget. Belum lagi bahu sama pundak juga ikut sakit,” ujar Naufal.
Keluhan semacam itu bukan tanpa penjelasan ilmiah.
Posisi Berbaring Memengaruhi Kerja Otot Leher
Penelitian Sun-Hee Ahn dan kolega yang terbit dalam Journal of Back and Musculoskeletal Rehabilitation pada 2022 mengukur aktivitas otot leher 23 orang dewasa muda saat menonton video melalui smartphone.
Peserta menggunakan HP dalam empat posisi, yakni telentang, tengkurap dengan bertumpu pada siku, berbaring menyamping, serta menyamping dengan kepala diputar 45 derajat.
Hasilnya, pola aktivitas dan ketidakseimbangan sejumlah otot leher berbeda pada setiap posisi. Secara umum, aktivitas dan asimetri otot leher paling rendah saat peserta telentang.
“Aktivitas dan ketidakseimbangan otot leher paling rendah pada posisi telentang dibandingkan posisi lainnya,” tulis para peneliti dalam kesimpulannya.
Temuan itu tidak berarti tengkurap otomatis menyebabkan cedera. Namun, penelitian tersebut menunjukkan posisi tubuh ketika memakai HP memang memengaruhi cara otot leher dan bahu bekerja.
Studi pada Anak Temukan Kaitan dengan Keluhan Otot
Temuan lain datang dari penelitian terhadap 233 siswa sekolah dasar di Nakhon Si Thammarat, Thailand.
Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health itu menemukan penggunaan smartphone dalam posisi tengkurap berkaitan dengan peluang keluhan muskuloskeletal yang lebih tinggi dibandingkan posisi duduk.
“Posisi tengkurap saat menggunakan smartphone 7,37 kali lebih berisiko dibandingkan posisi duduk,” tulis peneliti dalam abstrak studi tersebut.
Namun, angka 7,37 itu tidak boleh diartikan bahwa setiap orang yang main HP sambil tengkurap pasti memiliki risiko cedera tujuh kali lebih besar.
Penelitian tersebut bersifat cross-sectional atau potong lintang. Artinya, hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan, bukan membuktikan bahwa posisi tengkurap secara langsung menyebabkan gangguan otot atau tulang. Pesertanya juga anak-anak sehingga hasilnya tidak serta-merta berlaku dengan besaran sama pada orang dewasa.
Menunduk Belum Tentu Penyebab Utama Nyeri Leher
Menariknya, penelitian terbaru menunjukkan persoalan nyeri leher akibat penggunaan HP tidak sesederhana persoalan postur.
Studi longitudinal yang diterbitkan dalam Brazilian Journal of Physical Therapy pada 2025 mengikuti peserta selama 12 bulan. Sebanyak 457 orang dewasa tanpa nyeri leher direkrut pada awal penelitian dan 396 orang menyelesaikan pemantauan satu tahun.
Peneliti mengukur sudut fleksi leher peserta ketika mengetik menggunakan smartphone.
Hasilnya, besar sudut menunduk saat memakai HP tidak meningkatkan peluang munculnya nyeri leher dalam penelitian tersebut.
“Postur fleksi leher saat menggunakan smartphone bukan merupakan faktor risiko nyeri leher maupun frekuensi nyeri leher,” demikian kesimpulan penelitian tersebut.
Sebaliknya, kualitas tidur yang rendah dan aktivitas fisik yang tidak mencukupi justru berkaitan dengan peluang nyeri leher yang lebih tinggi.
Artinya, istilah populer seperti text neck tidak semestinya dipahami seolah-olah setiap orang yang menunduk melihat HP pasti akan mengalami kerusakan leher.
Terlalu Lama dalam Satu Posisi Jadi Masalah
Dokter spesialis rehabilitasi medik dr. Inge Jiemesha, Sp.KFR, juga menyoroti kebiasaan mempertahankan posisi kepala yang kurang ideal terlalu lama.
“Postur tubuh yang tidak ideal saat menggunakan gadget bisa menyebabkan ketegangan otot leher yang terus-menerus,” kata Inge sebagaimana dikutip ANTARA pada 18 April 2025.
Ia menyarankan pengguna gawai tidak menunduk terlalu lama dan mengatur posisi layar mendekati tinggi mata. Saat tengkuk mulai terasa nyeri, penggunaan gawai sebaiknya dihentikan sejenak dan diselingi peregangan ringan.
Pesan serupa disampaikan dosen senior fisioterapi University of Technology Sydney, Dr. Poonam Mehta.
“Jangan abaikan sinyal tubuh. Jika terasa tegang atau tidak nyaman, jadikan itu sebagai tanda untuk bergerak,” ujar Mehta seperti dikutip The Guardian pada Januari 2026.
Dalam laporan yang sama, Dr. Rocco Cavaleri dari Western Sydney University menyarankan orang yang berada dalam posisi statis untuk mengambil jeda bergerak secara rutin. Bahkan berdiri selama 60–90 detik dapat menjadi selingan setelah duduk cukup lama.
Tidak Harus Dilarang, tetapi Jangan Berlama-lama
Lantas, apakah main HP sambil tengkurap harus dihindari sama sekali?
Bukti yang ada belum menunjukkan bahwa sesekali menggunakan HP sambil tengkurap akan langsung merusak tulang belakang atau menyebabkan saraf terjepit.
Yang lebih perlu diperhatikan adalah durasinya. Mempertahankan satu posisi terlalu lama dapat membuat otot bekerja secara statis, terlebih ketika kepala, bahu, dan lengan berada pada posisi yang kurang nyaman.
Karena itu, ubah posisi secara berkala. Hindari memaksa leher berada dalam posisi ekstrem, topang lengan jika perlu, dan beri tubuh kesempatan bergerak.
Jika pegal berubah menjadi nyeri berkepanjangan, kesemutan, mati rasa, atau kelemahan pada tangan, keluhan tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai pegal biasa dan perlu diperiksakan.
Saat leher dan bahu mulai terasa tidak nyaman, jangan menunggu hingga sakiat. Letakkan HP sebentar dan bergerak.
Editor : Lugas Rumpakaadi