Demam 40 Derajat Bisa Merusak Otak? Studi Terbaru Ungkap Faktanya

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 20:57 WIB
Demam tinggi hingga 40 derajat Celsius tidak otomatis menyebabkan kerusakan otak permanen. Penyebab kenaikan suhu, kondisi pasien, serta munculnya gejala seperti kejang berkepanjangan dan gangguan kesadaran perlu diperhatikan. (ChatGPT)
Demam tinggi hingga 40 derajat Celsius tidak otomatis menyebabkan kerusakan otak permanen. Penyebab kenaikan suhu, kondisi pasien, serta munculnya gejala seperti kejang berkepanjangan dan gangguan kesadaran perlu diperhatikan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Demam tinggi, terutama ketika suhu tubuh menyentuh 40 derajat Celsius, sering membuat orang panik.

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah suhu setinggi itu dapat merusak sel-sel otak secara permanen.

Benarkah demikian?

Jawabannya tidak sesederhana melihat angka pada termometer.

Suhu 40 derajat Celsius memang sangat tinggi dan perlu mendapat perhatian, tetapi demam 40 derajat Celsius tidak otomatis berarti sel-sel otak telah mengalami kerusakan permanen.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahkan mengingatkan bahwa tinggi-rendahnya suhu tubuh tidak selalu menunjukkan seberapa berat penyakit yang dialami seseorang.

“Tingginya demam tidak selalu menandakan beratnya penyakit.”

IDAI menjelaskan bahwa demam merupakan respons tubuh terhadap rangsangan dari luar maupun dari dalam tubuh, salah satunya infeksi.

Pada sebagian besar anak, demam masih dapat dipantau di rumah.

Namun, ada kondisi tertentu yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

Dalam video yang menjadi rujukan awal pembahasan ini, Dokter Tirta juga mengingatkan bahwa tubuh manusia sensitif terhadap perubahan suhu.

“Tubuh kita tuh sensitif dengan suhu: terlalu dingin bermasalah, terlalu tinggi bermasalah," katanya.

“Ketika demam tinggi mencapai lebih dari 40 derajat, itu bisa terjadi kerusakan pada sel otak," imbuhnya.

Risiko cedera otak akibat suhu tubuh yang sangat tinggi jauh lebih jelas ditemukan pada hipertermia berat dan sengatan panas (heatstroke) dibandingkan pada demam biasa akibat infeksi.

Demam 40 Derajat Tidak Sama dengan Sengatan Panas

Demam dan sengatan panas sama-sama dapat menyebabkan termometer menunjukkan angka yang tinggi.

Namun, proses yang terjadi di dalam tubuh berbeda.

Pada demam akibat infeksi atau peradangan, tubuh secara aktif menaikkan titik pengaturan suhu sebagai bagian dari respons sistem kekebalan.

IDAI menyebut demam sebagai reaksi normal tubuh yang dapat membantu melawan kuman.

Sengatan panas berbeda.

Pada kondisi ini, suhu tubuh meningkat akibat paparan panas atau produksi panas berlebihan, sementara mekanisme tubuh untuk melepaskan panas tidak mampu mengimbanginya.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan hipertermia berat.

Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A, Subsp.Respi(K), menjelaskan tanda yang perlu diperhatikan dalam seminar daring IDAI pada Mei 2026.

“Tandanya apa? Suhunya meningkat dengan cepat, bisa sampai lebih dari 40 derajat Celsius, tidak berkeringat, tetapi kulit panas," terangnya.

Menurut Darmawan, sengatan panas dalam kondisi berat dapat menyebabkan gangguan fungsi otak, kejang, hingga kehilangan kesadaran.

Ini menjadi pembeda penting.

Suhu 40 derajat Celsius akibat demam tidak dapat langsung disamakan dengan suhu lebih dari 40 derajat Celsius pada kasus sengatan panas.

Pada sengatan panas, suhu tubuh yang sangat tinggi terjadi bersamaan dengan kegagalan mekanisme pengaturan suhu dan dapat disertai gangguan sistem saraf pusat.

Sengatan Panas Memang Bisa Menyebabkan Gangguan Otak

Risiko gangguan saraf akibat sengatan panas bukan sekadar dugaan.

Sebuah penelitian terhadap 117 pasien yang mengalami sengatan panas akibat aktivitas fisik berat dan dirawat di unit perawatan intensif di 48 rumah sakit di China menemukan adanya gangguan neurologis menetap pada sebagian penyintas.

“Angka kejadian gangguan neurologis sisa mencapai 24,4 persen," demikian kutipan laporan peneliti.

Artinya, dalam kelompok pasien sengatan panas berat yang diteliti tersebut, 24,4 persen penyintas mengalami gangguan neurologis setelah kejadian.

Durasi hipertermia berulang, lamanya gangguan sistem saraf pusat, dan rendahnya skor Glasgow Coma Scale dalam 24 jam pertama berkaitan dengan risiko tersebut.

Namun, angka ini tidak boleh diterapkan pada orang yang mengalami demam biasa.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap pasien sengatan panas akibat aktivitas fisik yang cukup berat hingga membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif.

Studi lain mengenai sengatan panas akibat aktivitas fisik yang diterbitkan pada 2024 juga menemukan bahwa dari 117 pasien yang dianalisis, 96 pasien pulih, 13 meninggal, dan delapan mengalami gangguan neurologis sisa dalam pemantauan selama 90 hari.

Data tersebut justru mempertegas perbedaannya: bukti cedera neurologis berkaitan dengan sengatan panas berat, bukan semata-mata karena termometer menunjukkan angka 40 derajat Celsius.

Bagaimana dengan Kejang Saat Demam?

Kekhawatiran lain muncul ketika demam pada anak disertai kejang.

Kondisi ini dikenal sebagai kejang demam.

Menurut IDAI, sebagian besar kejang demam terjadi pada anak berusia sekitar 6 bulan hingga 5 tahun.

Kejang umumnya berhenti sendiri dalam waktu kurang dari lima menit dan tidak berulang lebih dari sekali dalam 24 jam.

American Academy of Pediatrics (AAP) mendefinisikan kejang demam sederhana sebagai kejang umum yang berlangsung kurang dari 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.

Kejang yang berlangsung lebih lama, bersifat fokal, atau terjadi berulang dikategorikan berbeda dan membutuhkan pertimbangan klinis lebih lanjut.

Kejang yang terlihat dramatis tidak otomatis berarti otak anak telah mengalami kerusakan.

IDAI menyatakan, “Kejang demam tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau kecerdasan anak.”

IDAI juga menyebut sebagian besar anak dengan riwayat kejang demam dapat tumbuh dan berkembang secara normal.

Studi Terbaru 2026: Bagaimana Prestasi Sekolah Anak dengan Riwayat Kejang Demam?

Data terbaru memberikan gambaran yang lebih kuat.

Sebuah studi kohort nasional Denmark yang diterbitkan di JAMA Network Open pada 14 September 2026 menganalisis 672.119 anak.

Sebanyak 26.173 anak di antaranya memiliki riwayat perawatan di rumah sakit karena kejang demam.

Para peneliti kemudian membandingkan hasil tes membaca dan matematika nasional anak-anak tersebut dengan teman sebaya yang tidak memiliki riwayat kejang demam.

Dalam kesimpulannya, para peneliti menyatakan, “Prestasi sekolah anak-anak dengan riwayat kejang demam secara umum sebanding dengan teman sebaya mereka.”

Perbedaan skor rata-rata setelah penyesuaian hanya sekitar 0,4 poin.

Namun, para peneliti menemukan hasil yang kurang baik pada kelompok tertentu, terutama anak yang berulang kali dirawat di rumah sakit karena kejang demam atau kemudian mengalami epilepsi.

Temuan tersebut penting karena berasal dari populasi yang jauh lebih besar dibandingkan banyak penelitian sebelumnya.

Hasil ini juga mendukung penelitian populasi yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine pada 1998.

Penelitian tersebut mengikuti anak-anak dengan riwayat kejang demam hingga usia 10 tahun.

Para peneliti menyimpulkan, “Anak-anak yang pernah mengalami kejang demam menunjukkan kemampuan yang sama baiknya dengan anak-anak lain.”

Penilaian dalam penelitian tersebut mencakup kemajuan akademik, kemampuan intelektual, dan perilaku.

Namun, Kejang yang Sangat Lama Perlu Dibedakan

Ada pengecualian penting.

Kejang demam singkat tidak boleh disamakan dengan status epileptikus demam, yaitu kejang demam yang berlangsung sangat lama.

Studi FEBSTAT mengikuti lebih dari 200 anak setelah mengalami status epileptikus demam.

Dalam penelitian awal, kelainan sinyal T2 pada hipokampus ditemukan pada 22 dari 226 anak setelah kejadian tersebut.

Dari 14 anak dengan kelainan akut yang menjalani pemeriksaan MRI lanjutan, 10 kemudian menunjukkan gambaran sklerosis hipokampus.

Pemantauan jangka panjang FEBSTAT menunjukkan bahwa sekitar 10 persen subjek mengalami hiperintensitas T2 pada hipokampus dalam pemeriksaan MRI awal setelah status epileptikus demam.

Anak yang hasil MRI akutnya normal memiliki risiko jauh lebih rendah mengalami komplikasi tertentu dibandingkan kelompok yang menunjukkan tanda cedera hipokampus.

Temuan ini tidak berarti kejang demam biasa menyebabkan kerusakan hipokampus.

Sebaliknya, penelitian tersebut menunjukkan mengapa kejang yang berlangsung lama harus dibedakan dari kejang demam sederhana yang berlangsung singkat.

Jangan Masukkan Sendok ke Mulut Saat Kejang

Kesalahan dalam memberikan pertolongan pertama masih sering terjadi ketika seseorang mengalami kejang.

Salah satu mitos yang paling umum adalah memasukkan sendok, kain, jari, atau benda lain ke dalam mulut agar lidah tidak tergigit.

Dokter Tirta dalam video yang menjadi rujukan artikel ini mengingatkan, “Kalau ada orang kejang itu enggak boleh dikasih sendok!”

Peringatan tersebut sejalan dengan panduan IDAI.

“Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut.”

Menurut IDAI, memasukkan sendok, kayu, jari, atau benda lain ke dalam mulut orang yang sedang kejang justru dapat menimbulkan cedera dan mengganggu jalan napas.

Menahan gerakan tubuh secara paksa juga tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan cedera.

Saat seseorang mengalami kejang, jauhkan benda keras atau berbahaya dari sekitarnya.

Lindungi kepala dari benturan dan jangan menahan gerakan tubuh secara paksa.

Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut.

Jika memungkinkan, miringkan tubuh dengan hati-hati untuk membantu menjaga jalan napas dan catat berapa lama kejang berlangsung.

Jika kejang berlangsung lebih dari lima menit, terjadi kembali tanpa kesadaran pulih, penderita sulit bernapas, mengalami cedera serius, atau belum pernah mengalami kejang sebelumnya, segera cari pertolongan medis.

Lalu, Apakah Demam 40 Derajat Berbahaya?

Demam 40 derajat Celsius bukan kondisi yang sebaiknya dianggap sepele, terutama pada anak.

IDAI menyarankan agar anak dari semua kelompok usia yang suhu tubuhnya melebihi 40 derajat Celsius diperiksakan ke dokter.

Anak juga perlu segera mendapat pertolongan apabila sulit dibangunkan, mengalami kesulitan bernapas, bibir atau kuku membiru, leher kaku, muntah berat, tampak sangat lemah, atau menunjukkan tanda bahaya lainnya.

Namun, hal tersebut berbeda dengan mengatakan bahwa setiap kali suhu tubuh mencapai 40 derajat Celsius, sel-sel otak langsung mengalami kerusakan permanen.

Bukti ilmiah tidak mendukung kesimpulan sesederhana itu.

Dalam menilai demam, dokter perlu mempertimbangkan penyebab demam, usia pasien, kondisi umum, durasi demam, status hidrasi, serta gejala lain yang menyertainya.

Sementara itu, suhu tubuh sangat tinggi akibat sengatan panas yang disertai kebingungan, kehilangan kesadaran, atau kejang merupakan kegawatdaruratan medis karena kondisi tersebut memang dapat menyebabkan cedera pada berbagai organ, termasuk sistem saraf.

Jadi, Demam Tinggi Bisa Merusak Otak atau Tidak?

Demam 40 derajat Celsius tidak otomatis menyebabkan kerusakan otak permanen.

Demam akibat infeksi perlu dibedakan dari hipertermia berat atau sengatan panas.

Pada sengatan panas, suhu tubuh yang sangat tinggi dan kegagalan regulasi panas dapat disertai gangguan fungsi otak serta kerusakan organ.

Begitu pula dengan kejang demam.

Sebagian besar kejang demam yang berlangsung singkat memiliki prognosis yang baik.

Studi terbaru terhadap puluhan ribu anak dengan riwayat kejang demam bahkan menemukan bahwa prestasi sekolah mereka secara umum sebanding dengan teman sebaya.

Namun, kondisi tersebut tidak boleh disamakan dengan kejang berkepanjangan atau status epileptikus demam.

Berdasarkan penelitian FEBSTAT, kondisi ini dapat berhubungan dengan cedera hipokampus pada sebagian pasien.

Karena itu, ketika seseorang mengalami demam tinggi, jangan hanya terpaku pada angka di termometer.

Perhatikan apakah terdapat perubahan kesadaran, kebingungan, kejang berkepanjangan, kesulitan bernapas, tanda dehidrasi berat, riwayat paparan panas ekstrem, atau kondisi yang terus memburuk.

Gejala-gejala tersebut jauh lebih penting dalam menentukan perlunya pertolongan medis segera.

Editor : Lugas Rumpakaadi
demam 40 derajat kejang demam heatstroke demam tinggi kerusakan otak