Kenapa Kulit Jadi Merah Setelah Kerokan? Ini yang Sebenarnya Terjadi pada Tubuh

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 15:43 WIB
Kerokan menimbulkan gesekan pada permukaan kulit yang dapat meningkatkan aliran darah lokal dan menyebabkan munculnya kemerahan. (ChatGPT)
Kerokan menimbulkan gesekan pada permukaan kulit yang dapat meningkatkan aliran darah lokal dan menyebabkan munculnya kemerahan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Bekas merah setelah kerokan bukan tanda bahwa “angin” telah keluar dari tubuh.

Gesekan berulang pada kulit saat kerokan menimbulkan respons pada pembuluh darah dan jaringan di bawah kulit.

Aliran darah lokal dapat meningkat, suhu kulit naik, dan pada tekanan tertentu dapat muncul bintik-bintik perdarahan kecil di bawah kulit.

Respons tersebut turut menjelaskan mengapa bagian tubuh yang baru dikerok sering terasa lebih hangat dan, pada sebagian orang, lebih nyaman.

Meski demikian, kerokan tidak dapat dianggap sebagai cara untuk menyembuhkan semua keluhan yang selama ini disebut “masuk angin”.

Bukti ilmiah yang tersedia lebih banyak menunjukkan adanya perubahan fisiologis lokal dan kemungkinan manfaat jangka pendek terhadap keluhan seperti nyeri atau ketegangan otot.

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Tubuh Saat Kerokan?

Kerokan dilakukan dengan menggesekkan benda berujung tumpul, biasanya uang logam atau alat lain yang permukaannya halus, pada kulit yang telah diberi minyak atau pelumas.

Dalam penelitian medis, teknik yang memiliki prinsip serupa banyak diteliti dengan istilah scraping therapy atau gua sha.

Kerokan di Indonesia dan gua sha tidak sepenuhnya identik sebagai praktik budaya, tetapi keduanya sama-sama memberikan stimulasi mekanis berulang pada permukaan kulit.

Salah satu efek yang paling jelas adalah meningkatnya aliran darah di area yang mendapat gesekan.

Penelitian primer yang dilakukan Arya Nielsen dan rekan-rekannya terhadap 11 orang sehat menemukan bahwa gua sha menyebabkan peningkatan mikrosirkulasi sekitar empat kali lipat pada area yang diterapi selama 7,5 menit pertama.

Peningkatan mikrosirkulasi permukaan juga masih terdeteksi selama periode pengamatan hingga 25 menit.

Temuan serupa diperoleh Qin-Yan Xu dan tim dari China Academy of Chinese Medical Sciences.

Dalam penelitian terhadap 23 orang sehat, volume perfusi darah pada area yang dikerok meningkat secara signifikan.

Suhu permukaan kulit juga rata-rata meningkat sekitar 1 derajat Celsius dibandingkan dengan area yang tidak mendapatkan terapi scraping.

Peningkatan perfusi masih terdeteksi hingga 90 menit setelah tindakan.

Dengan kata lain, sensasi hangat setelah kerokan memiliki penjelasan fisiologis.

Ada perubahan sirkulasi darah lokal dan suhu kulit setelah bagian tubuh mendapat stimulasi mekanis.

Kenapa Kulit Menjadi Merah Setelah Dikerok?

Garis atau bercak merah merupakan salah satu ciri paling khas setelah kerokan.

Namun, warna tersebut bukan bukti bahwa “angin” sedang keluar dari tubuh.

Penelitian di Indonesia juga pernah mengamati perubahan kulit setelah kerokan secara langsung.

Didik Gunawan Tamtomo, dalam penelitian histopatologi yang diterbitkan di Cermin Dunia Kedokteran pada 2008, melakukan pemeriksaan mikroskopis terhadap jaringan kulit setelah kerokan.

Hasilnya antara lain menunjukkan pelebaran kapiler, edema jaringan di bawah epitel, inflamasi ringan, serta adanya eritrosit atau sel darah merah di luar pembuluh darah.

Artinya, bekas merah setelah kerokan dapat melibatkan lebih dari satu mekanisme.

Gesekan dapat membuat pembuluh darah di permukaan kulit melebar, sedangkan tekanan yang cukup kuat juga dapat menyebabkan sejumlah sel darah keluar dari pembuluh darah mikro menuju jaringan di sekitarnya.

Dalam literatur mengenai gua sha, tanda tersebut dapat muncul dalam bentuk petechiae atau ecchymosis, yakni bintik atau bercak akibat keluarnya darah dari pembuluh darah kecil ke jaringan di bawah kulit.

Karena itu, semakin merah hasil kerokan bukan berarti semakin banyak “angin” yang keluar ataupun semakin efektif kerokan tersebut.

Mengapa Badan Bisa Terasa Lebih Rileks?

Selain terasa hangat, sebagian orang merasa pegal atau ketegangan ototnya berkurang setelah kerokan.

dr. Tirta Mandira Hudhi termasuk dokter yang menjelaskan kerokan dalam konteks relaksasi otot.

“Kerokan karena bermanfaat untuk relaksasi otot, terutama di bagian leher sama bahu,” ujar dr. Tirta dalam video yang diunggah di kanal YouTube miliknya.

Ia juga mengaitkan efek tersebut dengan respons pembuluh darah kapiler pada bagian tubuh yang mendapat gesekan.

“Sistemnya sebenarnya sama kayak massage dan sama dengan bekam, jadi meningkatkan aktivasi pembuluh darah kapiler, jadi membuat relaksasi pada otot,” katanya.

Namun, mekanisme munculnya rasa nyaman setelah kerokan kemungkinan tidak hanya berasal dari satu faktor.

Penelitian Didik Gunawan Tamtomo terhadap 38 perempuan berusia 40–50 tahun yang mengalami keluhan nyeri otot menemukan adanya peningkatan beta-endorfin serta penurunan prostaglandin E2 atau PGE2 setelah kerokan dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Penelitian tersebut menggunakan rancangan randomized pre-test post-test control group, dengan masing-masing 19 peserta dalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

Beta-endorfin berkaitan dengan modulasi rasa nyeri, sedangkan PGE2 berperan dalam proses inflamasi dan peningkatan sensitivitas terhadap nyeri.

Meski menarik, penelitian tersebut dilakukan terhadap populasi yang relatif kecil dan spesifik.

Hasilnya tidak serta-merta berarti efek yang sama akan terjadi dengan besaran serupa pada semua orang yang melakukan kerokan.

Apakah Kerokan Terbukti Bisa Mengurangi Pegal?

Sejumlah penelitian memang menunjukkan potensi manfaat jangka pendek terhadap nyeri muskuloskeletal.

Uji klinis acak yang dipublikasikan dalam jurnal Pain Medicine pada 2011 meneliti 48 pasien dengan nyeri leher mekanis kronis.

Sebanyak 24 pasien mendapatkan satu kali terapi gua sha, sedangkan 24 pasien lainnya mendapatkan terapi panas lokal.

Setelah satu minggu, kelompok yang menerima terapi gua sha mengalami penurunan nyeri leher yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Para peneliti menyebut gua sha memiliki “efek jangka pendek yang bermanfaat terhadap nyeri dan status fungsional” pada pasien yang diteliti. 

Dengan kata lain, penelitian tersebut menemukan adanya manfaat jangka pendek terhadap nyeri dan fungsi tubuh.

Namun, kata kuncinya adalah jangka pendek.

Para peneliti juga menegaskan bahwa manfaat gua sha untuk penanganan nyeri leher dalam jangka panjang serta mekanisme yang mendasarinya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Tinjauan sistematis terhadap penelitian gua sha untuk nyeri muskuloskeletal juga menemukan hasil yang menjanjikan pada beberapa studi.

Namun, kualitas bukti secara keseluruhan dinilai masih rendah.

Karena itu, lebih tepat menyebut kerokan dapat membuat sebagian orang merasa lebih nyaman atau membantu meredakan keluhan otot untuk sementara, bukan menyatakan bahwa kerokan telah terbukti menyembuhkan penyakit tertentu.

Jangan Kerokan Terlalu Kencang

Tekanan yang lebih kuat tidak berarti hasil kerokan akan lebih baik.

Gesekan berlebihan justru dapat memperparah memar, menimbulkan iritasi, bahkan menyebabkan permukaan kulit terluka.

dr. Tirta juga mengingatkan agar kerokan tidak dilakukan terlalu sering atau terlalu kuat.

“Tapi kalau misal kerokannya terlalu berlebihan akan menyebabkan iritasi pada kulit,” ujarnya.

Ia kembali mengingatkan mengenai risiko tersebut.

“Dan kerokan itu jangan terlalu sering karena menyebabkan iritasi pada kulit, apalagi yang terlalu kencang itu bisa berdarah,” katanya.

Dalam penelitian mengenai keamanan gua sha, Arya Nielsen dan rekan-rekannya juga mencatat bahwa pada kondisi tertentu darah dapat mencapai permukaan kulit.

Oleh karena itu, kebersihan alat menjadi penting untuk mencegah kontaminasi.

Penelitian lain mengenai standar keamanan gua sha bahkan merekomendasikan proses disinfeksi yang memadai terhadap alat yang digunakan kembali.

Risiko infeksi bukan sekadar kemungkinan teoretis.

Sebuah laporan kasus yang diterbitkan pada 2021 mencatat terjadinya infeksi kulit akibat Mycobacterium massiliense pada seorang perempuan setelah menjalani gua sha.

Kasus tersebut tidak berarti infeksi umum terjadi setelah kerokan atau gua sha.

Namun, laporan itu menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan kulit dan alat yang digunakan.

Kerokan juga sebaiknya tidak dilakukan pada kulit yang sedang luka, mengalami ruam, terbakar, atau mengalami iritasi.

Kerokan Bukan Pertolongan untuk Nyeri Dada

Ada satu kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus, yakni nyeri dada.

Keluhan seperti nyeri dada terkadang dianggap sebagai “masuk angin” sehingga seseorang memilih untuk dikerok terlebih dahulu.

Padahal, dalam situasi tertentu, nyeri dada dapat menjadi tanda gangguan jantung yang membutuhkan penanganan segera.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC, dalam pemberitaan ANTARA pada 9 Juni 2026 mengatakan bahwa kerokan tidak disarankan sebagai pertolongan pertama saat mengalami nyeri dada.

Ia mengingatkan bahwa nyeri yang semakin sering atau semakin berat, terutama jika disertai sesak napas, mual, atau keringat dingin, perlu diwaspadai dan diperiksa secara medis.

Pesan serupa disampaikan dokter spesialis jantung dr. Yislam Alawy dalam pemberitaan detikHealth.

Menurut dia, salah satu masalah ketika keluhan serangan jantung hanya ditangani dengan kerokan adalah hilangnya waktu untuk mendapatkan pertolongan medis.

“Serangan jantung itu butuh waktu yang critical,” kata dr. Yislam.

Karena itu, kerokan tidak boleh digunakan untuk menunda pemeriksaan ketika seseorang mengalami nyeri dada berat, sesak napas, keringat dingin, mual, pingsan, atau gejala lain yang mencurigakan.

Jadi, Apakah Kerokan Boleh Dilakukan?

Pada orang sehat, kerokan ringan pada area otot dapat memberikan sensasi hangat dan rasa nyaman.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan aliran darah lokal dan kemungkinan manfaat jangka pendek terhadap nyeri.

Namun, manfaat tersebut perlu ditempatkan secara proporsional.

Kerokan bukan cara untuk “mengeluarkan angin”, dan bekas merah bukan ukuran keberhasilan terapi.

Bukti ilmiah yang tersedia juga belum cukup untuk menjadikan kerokan sebagai pengobatan terhadap penyakit tertentu.

Jika tetap ingin melakukan kerokan, gunakan benda berpermukaan halus dan bersih.

Gunakan pula minyak atau pelumas untuk mengurangi gesekan serta hindari tekanan berlebihan dan bagian kulit yang sedang mengalami luka atau iritasi.

Yang paling penting, jangan menganggap semua keluhan sebagai “masuk angin”.

Apabila keluhan terasa berat, tidak kunjung membaik, atau disertai gejala seperti nyeri dada, sesak napas, demam tinggi, kelemahan tubuh, atau penurunan kesadaran, pemeriksaan medis lebih penting daripada kerokan.

Kerokan dapat membuat tubuh terasa hangat dan lebih nyaman setelahnya.

Namun, yang terjadi bukanlah “angin keluar”, melainkan respons pada kulit, mikrosirkulasi, dan jaringan tubuh.

Efek tersebut tetap memiliki batas dan tidak menggantikan pemeriksaan atau pengobatan medis ketika dibutuhkan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kerokan manfaat kerokan efek kerokan pada tubuh kulit merah setelah kerokan bahaya kerokan