RADAR BANYUWANGI - Apakah penyakit autoimun bisa sembuh total?
Jawabannya tidak sesederhana hilangnya gejala.
Banyak penyakit autoimun merupakan kondisi kronis yang dapat berlangsung dalam jangka panjang, tetapi pasien dapat mencapai remisi ketika aktivitas penyakit berhasil dikendalikan.
Hal tersebut juga dibahas dr Tirta melalui kanal YouTube miliknya pada Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa pasien autoimun tidak dapat begitu saja disebut sembuh total, tetapi dapat mencapai kondisi remisi ketika penyakit berhasil dikontrol.
Dalam pembahasannya, dr Tirta juga menyoroti empat hal yang menurutnya perlu diperhatikan pasien autoimun, yaitu mengelola stres, rutin berolahraga, memperhatikan pola makan, dan menjaga pola tidur.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan remisi dan mengapa kondisi tersebut berbeda dengan sembuh total?
Remisi pada Penyakit Autoimun Berbeda dengan Sembuh Total
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri.
Jenis penyakitnya sangat beragam sehingga gejala, tingkat keparahan, organ yang terdampak, respons terhadap pengobatan, dan perjalanan penyakit dapat berbeda pada setiap pasien.
Pada banyak penyakit autoimun, tujuan pengobatan bukan sekadar menghilangkan gejala, tetapi juga menekan aktivitas penyakit, mengendalikan peradangan, mempertahankan fungsi organ, dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Pasien dapat memasuki fase remisi ketika aktivitas penyakit menjadi sangat rendah sehingga gejala berkurang atau tidak muncul.
Sebaliknya, penyakit dapat kembali aktif dan menyebabkan kekambuhan atau flare.
Karena itu, hilangnya gejala tidak selalu berarti penyakit telah hilang secara permanen.
Pada sejumlah penyakit autoimun, pasien yang sudah berada dalam remisi tetap membutuhkan pemantauan dan pengobatan sesuai kondisi masing-masing.
dr Tirta: Autoimun Dapat Dikendalikan hingga Remisi
Dalam kontennya, dr Tirta menjelaskan bahwa penyakit autoimun pada umumnya tidak dapat disebut sembuh total.
Menurutnya, tujuan yang lebih realistis adalah mengendalikan penyakit hingga mencapai remisi.
"Pasien autoimun tidak bisa sembuh total, tetapi bisa mencapai remisi," kata dr Tirta.
Ia menjelaskan remisi sebagai kondisi ketika penyakit dapat dikontrol dengan baik dan tidak mengalami kekambuhan.
Pernyataan tersebut perlu dipahami dalam konteks masing-masing penyakit.
Autoimun bukan satu penyakit tunggal, melainkan kelompok penyakit dengan mekanisme, organ yang terkena, dan perjalanan klinis yang berbeda.
Karena itu, remisi juga tidak memiliki arti yang sama untuk semua jenis autoimun.
Pada sebagian kondisi, remisi dapat berlangsung lama, sementara pada kondisi lain penyakit dapat kembali aktif sehingga diperlukan penyesuaian terapi.
1. Mengelola Stres
Hal pertama yang disoroti dr Tirta adalah pengelolaan stres.
Menurut dr Tirta, manajemen stres penting diperhatikan oleh pasien autoimun.
Ia mengaitkannya dengan perubahan hormon kortisol dan kemungkinan munculnya gejala atau kekambuhan pada pasien tertentu.
Stres memang memiliki hubungan dengan sistem imun dan proses peradangan, tetapi hubungan tersebut tidak berarti bahwa stres secara langsung menyebabkan semua penyakit autoimun kambuh.
Pengaruhnya dapat berbeda berdasarkan jenis penyakit dan kondisi pasien.
Karena itu, pengelolaan stres lebih tepat dipandang sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan pengelolaan penyakit, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.
2. Tetap Aktif dan Berolahraga
Dr Tirta juga menyarankan pasien autoimun untuk rutin berolahraga.
Ia mengaitkan aktivitas fisik dengan pengendalian hormon dan proses peradangan dalam tubuh.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa olahraga teratur dapat memberikan manfaat pada sejumlah penyakit autoimun.
Sebuah tinjauan sistematis yang mencakup 87 penelitian dengan total 2.779 peserta menemukan bahwa latihan fisik secara umum berkaitan dengan penurunan sejumlah penanda peradangan, termasuk C-reactive protein, interleukin-6, dan tumor necrosis factor-alpha.
Namun, perubahan penanda peradangan tersebut secara umum relatif modest dan respons terhadap olahraga tidak sama pada semua penyakit.
Karena itu, olahraga tidak dapat diposisikan sebagai terapi tunggal untuk penyakit autoimun.
Jenis dan intensitas aktivitas fisik juga perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, terutama ketika penyakit sedang aktif, terdapat keterbatasan fungsi, atau terdapat organ tertentu yang terdampak.
3. Memperhatikan Pola Makan
Poin berikutnya adalah pola makan.
Dr Tirta menyarankan pasien lebih selektif terhadap makanan yang dikonsumsi, termasuk membatasi makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF).
Penelitian mengenai hubungan UPF dengan peradangan dan penyakit yang berkaitan dengan sistem imun masih terus berkembang.
Sejumlah penelitian mengaitkan konsumsi UPF yang tinggi dengan penanda peradangan sistemik dan beberapa penyakit inflamasi.
Namun, bukti tersebut belum berarti bahwa makanan ultra-proses terbukti secara langsung menyebabkan atau memperburuk seluruh jenis penyakit autoimun.
Karena itu, pasien sebaiknya tidak menganggap menghindari UPF sebagai "obat" untuk autoimun.
Pola makan seimbang dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat, tetapi tidak menggantikan obat atau terapi yang diresepkan dokter.
Kebutuhan makanan juga dapat berbeda pada setiap pasien.
Pasien dengan penyakit autoimun tertentu mungkin membutuhkan pengaturan diet khusus berdasarkan kondisi organ, obat yang digunakan, status gizi, atau penyakit penyerta.
4. Menjaga Pola Tidur
Hal terakhir yang ditekankan dr Tirta adalah tidur teratur.
Ia mengingatkan pasien untuk menghindari kebiasaan begadang dan mengaitkan gangguan tidur dengan proses peradangan serta aktivitas penyakit autoimun.
Secara biologis, tidur memang berhubungan erat dengan sistem kekebalan dan regulasi peradangan.
Meta-analisis terhadap 72 penelitian dengan lebih dari 50.000 peserta menemukan hubungan antara gangguan tidur dengan kadar beberapa penanda inflamasi yang lebih tinggi, termasuk C-reactive protein dan interleukin-6.
Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa begadang secara otomatis menyebabkan penyakit autoimun atau pasti memicu flare pada semua pasien.
Pada penyakit autoimun tertentu, penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara kualitas tidur dan aktivitas atau luaran penyakit.
Karena itu, menjaga tidur yang cukup dan berkualitas dapat menjadi bagian penting dari pengelolaan kesehatan secara keseluruhan.
Remisi Bukan Berarti Penyakit Autoimun Hilang
Pasien autoimun dapat mencapai kondisi yang stabil dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.
Namun, remisi tidak selalu berarti penyakit telah hilang secara permanen.
Sejumlah penyakit autoimun memiliki pola yang dapat berganti antara remisi dan kekambuhan.
Karena itu, seseorang yang merasa sudah tidak mengalami gejala tetap perlu mengikuti rencana pengobatan dan pemantauan yang diberikan dokter.
Yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa tidak semua penyakit autoimun memiliki perjalanan yang sama. Istilah "autoimun" mencakup berbagai kondisi, mulai dari penyakit yang terutama menyerang kulit hingga penyakit yang dapat melibatkan sendi, sistem saraf, saluran pencernaan, kelenjar, atau berbagai organ sekaligus.
Dengan demikian, tidak ada satu pola pengelolaan yang berlaku untuk semua pasien.
Gaya Hidup Mendukung Pengobatan, Bukan Menggantikannya
Mengelola stres, melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan, menerapkan pola makan seimbang, dan menjaga tidur merupakan kebiasaan yang dapat mendukung kesehatan pasien autoimun.
Namun, kebiasaan tersebut tidak boleh diposisikan sebagai pengganti pengobatan.
Terapi penyakit autoimun ditentukan berdasarkan jenis penyakit, tingkat aktivitas penyakit, organ yang terdampak, risiko komplikasi, respons terhadap terapi sebelumnya, dan kondisi pasien secara keseluruhan.
Karena itu, pasien yang telah mencapai remisi sebaiknya tidak menghentikan obat sendiri hanya karena gejala sudah menghilang.
DISCLAIMER: Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis, pengobatan, atau anjuran dokter. Penanganan penyakit autoimun berbeda-beda berdasarkan jenis penyakit dan kondisi masing-masing pasien.
Editor : Lugas Rumpakaadi