RADAR BANYUWANGI - Demam sering kali tidak datang sendirian.
Selain suhu tubuh meningkat, seseorang dapat mengalami badan pegal, linu, nyeri otot atau sendi, hingga tubuh terasa berat saat bergerak.
Keluhan tersebut dapat muncul ketika tubuh sedang merespons suatu penyakit, terutama infeksi.
Demam sendiri merupakan bagian dari respons pertahanan tubuh.
Ketika terjadi infeksi, sistem kekebalan tubuh mengaktifkan berbagai mekanisme pertahanan yang melibatkan zat-zat peradangan atau sitokin.
Respons tersebut dapat menimbulkan sejumlah gejala yang membuat tubuh terasa tidak nyaman.
Lantas, mengapa demam bisa membuat badan terasa pegal dan nyeri?
Mengapa demam membuat badan pegal dan nyeri?
Dokter sekaligus kreator konten kesehatan dr. Tirta menjelaskan bahwa demam merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh ketika terjadi gangguan di dalam tubuh.
“Demam itu dari artikel medis itu adalah sebuah mekanisme pertahanan tubuh ketika ada benda asing atau terjadi kesalahpahaman di dalam tubuh,” ujar dr. Tirta dalam video di kanal YouTube miliknya.
Secara medis, demam terjadi ketika pengaturan suhu tubuh di otak, terutama hipotalamus, berubah ke tingkat yang lebih tinggi sebagai respons terhadap rangsangan tertentu.
Pada infeksi, proses tersebut berkaitan dengan pelepasan berbagai mediator peradangan, termasuk sitokin seperti interleukin-1, interleukin-6, dan TNF-alpha.
Respons peradangan sistemik tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya berbagai gejala, seperti rasa tidak enak badan, lemas, nyeri otot, dan pegal.
“Salah satu efek demam karena infeksi inflamasi sistemik adalah nyeri sendi,” jelas dr. Tirta.
Penelitian pada manusia dengan infeksi influenza juga menemukan hubungan antara peningkatan sitokin tertentu, termasuk interleukin-6 atau IL-6, dengan demam dan gejala yang dialami pasien.
Artinya, rasa pegal ketika demam bukan semata-mata disebabkan oleh kenaikan suhu tubuh.
Respons sistem kekebalan terhadap penyakit juga dapat memengaruhi tubuh dan menimbulkan rasa nyeri serta tidak nyaman.
Mengapa tubuh terasa lemas saat demam?
Selain pegal dan nyeri, demam sering disertai rasa lelah atau lemas.
Keluhan seperti lemas dan nyeri tubuh dapat menyertai berbagai infeksi, termasuk infeksi saluran pernapasan.
Demam juga dapat meningkatkan kehilangan cairan dari tubuh.
Kondisi tersebut dapat semakin terasa jika seseorang banyak berkeringat, muntah, mengalami diare, atau tidak cukup minum selama sakit.
Karena itu, istirahat dan mencukupi kebutuhan cairan menjadi bagian penting ketika seseorang mengalami demam.
Tubuh membutuhkan waktu untuk menjalankan respons terhadap penyakit sekaligus memulihkan kondisi.
Namun, demam tidak selalu disebabkan oleh infeksi. Sejumlah kondisi lain juga dapat menyebabkan demam.
Karena itu, penyebab demam perlu dilihat bersama gejala lain dan kondisi kesehatan seseorang secara keseluruhan.
Apakah demam lebih dari tiga hari perlu diperiksa?
Durasi demam merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan, tetapi bukan satu-satunya penentu apakah seseorang membutuhkan pemeriksaan medis.
dr. Tirta menyebut demam yang menetap selama beberapa hari perlu mendapat perhatian.
“Kalau selama lebih dari tiga hari demamnya menetap, itu berarti gangguan tubuhnya enggak hilang. Berarti infeksinya enggak hilang, masalahnya menetap,” katanya.
Demam memiliki banyak kemungkinan penyebab.
Pada orang dewasa, demam yang berlangsung lebih dari dua hingga tiga hari, tidak membaik, atau justru semakin berat merupakan kondisi yang perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Selain durasinya, suhu tubuh dan gejala lain yang menyertai juga penting diperhatikan.
Seseorang sebaiknya tidak hanya menunggu hingga demam berlangsung tiga hari apabila sejak awal sudah mengalami gejala yang mengkhawatirkan.
Kapan demam perlu segera diperiksa?
Demam perlu mendapat perhatian lebih jika disertai gejala berat atau kondisi tubuh yang memburuk.
Segera cari pertolongan medis apabila demam disertai kesulitan bernapas, kebingungan, sulit dibangunkan, kejang, sakit kepala yang sangat berat, atau leher terasa kaku.
Tanda dehidrasi juga perlu diperhatikan, terutama jika seseorang sulit minum, banyak berkeringat, muntah, atau mengalami diare.
Kekurangan cairan dapat membuat tubuh semakin lemas dan membutuhkan penanganan, terutama jika kondisinya berat.
Orang dengan penyakit kronis, gangguan sistem kekebalan tubuh, atau kondisi kesehatan tertentu juga mungkin memerlukan pemeriksaan lebih cepat.
Karena itu, gejala yang tampak ringan pada satu orang belum tentu memiliki arti yang sama pada orang lain.
Jadi, kenapa badan pegal saat demam?
Badan pegal, linu, nyeri otot atau sendi, dan rasa lemas dapat menyertai demam karena tubuh sedang menjalankan respons terhadap penyakit.
Pada infeksi, sistem kekebalan tubuh melepaskan berbagai mediator peradangan yang dapat memengaruhi tubuh secara sistemik dan berkontribusi terhadap munculnya demam, nyeri, serta rasa tidak enak badan.
Dengan demikian, rasa pegal saat demam bukan keluhan yang muncul tanpa sebab.
Namun, demam dan pegal juga tidak cukup untuk menentukan penyakit tertentu karena penyebab demam sangat beragam.
Saat mengalami demam, beristirahat dan memastikan asupan cairan tetap cukup dapat membantu menjaga kondisi tubuh.
Jika demam menetap lebih dari dua hingga tiga hari, tidak membaik, semakin berat, atau disertai gejala seperti sesak napas, kebingungan, kejang, leher kaku, sakit kepala berat, atau tanda dehidrasi, pemeriksaan medis diperlukan.
Editor : Lugas Rumpakaadi