RADAR BANYUWANGI - Pernah merasa napas atau bau badan berubah setelah makan banyak bawang putih?
Kondisi tersebut ternyata tidak selalu berkaitan dengan kebersihan tubuh.
Bawang putih mengandung senyawa organosulfur yang dapat diproses tubuh dan menghasilkan sejumlah senyawa beraroma khas.
Sebagian metabolit tersebut dapat ditemukan dalam napas, urine, dan bahkan dilepaskan melalui permukaan kulit.
Dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Tirta juga menjelaskan bahwa aroma bawang setelah dikonsumsi bukan sekadar mitos.
“Jawabannya fakta. Jadi, bau bawang itu beneran ada,” ujar dr. Tirta dalam video edukasinya.
Senyawa bawang putih dapat memengaruhi aroma tubuh
Bawang putih (Allium sativum) mengandung berbagai senyawa organosulfur.
Salah satunya adalah allicin yang terbentuk ketika bawang putih dihancurkan atau dipotong.
Di dalam tubuh, senyawa turunan bawang putih dapat mengalami berbagai proses metabolisme.
Penelitian pada manusia menunjukkan bahwa konsumsi bawang putih dapat meningkatkan kadar allyl methyl sulfide (AMS) dalam napas.
AMS merupakan salah satu metabolit sulfur yang berkaitan dengan aroma khas bawang putih pada napas.
Studi pada manusia juga menemukan bahwa metabolit bawang putih dapat terdeteksi dalam urine setelah konsumsi.
Dalam penelitian tersebut, konsentrasi tertinggi beberapa metabolit, termasuk AMS, ditemukan sekitar satu hingga dua jam setelah konsumsi, meskipun pola dan kadarnya berbeda pada setiap individu.
Artinya, aroma bawang putih yang bertahan setelah makanan dicerna bukan semata-mata berasal dari sisa makanan yang masih berada di dalam mulut.
Bukan hanya napas, senyawa bawang putih juga dapat keluar melalui kulit
Penelitian yang secara khusus mengamati permukaan kulit memberikan bukti bahwa efek aroma bawang putih tidak terbatas pada napas.
Dalam studi terhadap manusia, peneliti mengukur diallyl disulfide (DADS) dan allyl methyl sulfide (AMS) yang dilepaskan dari permukaan kulit.
Setelah peserta mengonsumsi bawang putih panggang, emisi DADS dan AMS dari kulit meningkat.
Pada pengujian tersebut, AMS mencapai puncaknya sekitar 30 menit setelah konsumsi, kemudian menurun secara bertahap.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa aroma bawang putih dapat tercium dari tubuh seseorang setelah mengonsumsi bawang putih.
Namun, penelitian tersebut tidak berarti bahwa semua bau badan setelah makan bawang putih semata-mata disebabkan oleh keringat.
Aroma tubuh merupakan hasil interaksi berbagai senyawa, sekresi kulit, dan mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit.
Bakteri kulit juga berperan dalam pembentukan bau badan
Bau badan pada dasarnya bukan hanya soal banyak atau sedikitnya keringat.
Mikroorganisme yang hidup secara alami di kulit dapat mengubah senyawa tertentu dari sekresi tubuh menjadi molekul volatil yang berbau.
Penelitian mengenai mikrobioma ketiak menunjukkan bahwa bakteri, termasuk kelompok Corynebacterium dan Staphylococcus, berperan dalam proses pembentukan bau badan dengan mengubah senyawa yang awalnya tidak berbau menjadi molekul yang mudah menguap dan menghasilkan aroma.
Penelitian yang lebih baru juga mengidentifikasi enzim dari Staphylococcus hominis yang terlibat dalam salah satu jalur pembentukan senyawa berbau pada kulit manusia.
Karena itu, aroma yang tercium dari tubuh setelah mengonsumsi makanan tertentu dapat dipengaruhi oleh kombinasi senyawa makanan atau metabolitnya dengan kondisi kulit dan mikrobioma masing-masing orang.
Berapa lama bau bawang putih bisa bertahan?
Lamanya aroma bawang putih bertahan tidak sama pada setiap orang.
Penelitian pada manusia menunjukkan bahwa metabolit bawang putih dapat tetap terdeteksi dalam napas dalam periode yang cukup panjang setelah konsumsi.
Salah satu penelitian yang menggunakan pengukuran napas selama 48 jam menemukan peningkatan AMS setelah konsumsi bawang putih.
Penelitian lain menemukan bahwa konsentrasi AMS dalam napas setelah konsumsi bawang putih dapat menurun secara bertahap setelah mencapai puncaknya.
Karena itu, angka seperti “satu hingga dua hari” sebaiknya tidak dianggap sebagai durasi yang pasti bagi semua orang.
Jumlah dan jenis bawang yang dikonsumsi, cara pengolahan, metabolisme tubuh, serta perbedaan individu dapat memengaruhi intensitas dan lamanya aroma.
Petai juga mengandung senyawa beraroma kuat
Bawang putih bukan satu-satunya makanan yang memiliki senyawa sulfur dan dapat menghasilkan aroma khas.
Petai (Parkia speciosa) dikenal memiliki aroma yang kuat. Analisis kimia terhadap biji petai menemukan sejumlah senyawa volatil, termasuk hidrogen sulfida, metanetiol, dan 1,2,4-trithiolane.
Komposisi senyawa tersebut juga dapat berubah selama proses pematangan.
Penelitian lain terhadap petai menunjukkan bahwa kelompok organosulfida merupakan bagian penting dari komponen volatilnya.
Aroma petai juga dapat lebih mudah dikenali dari urine setelah dikonsumsi.
Namun, mekanisme dan profil senyawanya tidak dapat disamakan begitu saja dengan bawang putih.
Petai berbeda dengan jengkol
Petai dan jengkol sering disebut bersamaan karena sama-sama memiliki aroma khas, tetapi keduanya tidak identik secara kimia maupun dari sisi risiko kesehatan.
Pada jengkol, isu kesehatan yang perlu diperhatikan adalah jengkolisme, kondisi yang jarang terjadi tetapi dapat menyebabkan gangguan saluran kemih dan cedera ginjal akut.
Literatur medis mengaitkannya dengan kristal asam jengkolat yang dapat terbentuk di saluran kemih pada kondisi tertentu.
Gejalanya dapat berupa nyeri perut atau pinggang, kesulitan buang air kecil, darah dalam urine, hingga gangguan fungsi ginjal.
Karena itu, pembahasan mengenai jengkolisme sebaiknya tidak dicampur dengan penjelasan tentang bau badan akibat bawang atau petai. Keduanya merupakan persoalan yang berbeda.
Bau badan setelah makan bawang bukan berarti tubuh kotor
Munculnya aroma tubuh setelah mengonsumsi bawang putih atau makanan beraroma kuat tidak otomatis menunjukkan seseorang kurang menjaga kebersihan.
Ada mekanisme biologis yang dapat membuat senyawa dari makanan atau metabolitnya terdeteksi pada napas, urine, maupun permukaan kulit.
Pada bawang putih, penelitian pada manusia secara khusus telah mendeteksi metabolit sulfur seperti AMS pada napas dan permukaan kulit setelah konsumsi.
Kebersihan tubuh tetap berperan dalam mengendalikan bau.
Mandi setelah berkeringat, mengganti pakaian yang basah, serta menjaga kebersihan kulit dan mulut dapat membantu mengurangi aroma yang mengganggu.
Namun, langkah-langkah tersebut tidak selalu langsung menghilangkan aroma yang berasal dari metabolit makanan yang sedang diproses tubuh.
Kapan bau badan perlu diperiksa?
Bau tubuh yang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu biasanya dapat dikaitkan dengan makanan tersebut, terutama jika sifatnya sementara dan kemudian menghilang.
Sebaliknya, jika bau tubuh berubah secara menetap tanpa kaitan yang jelas dengan makanan, sangat berbeda dari biasanya, atau muncul bersamaan dengan keluhan kesehatan lain, kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai persoalan kebersihan.
Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mencari penyebabnya.
Jadi, jika napas atau tubuh mengeluarkan aroma berbeda setelah makan bawang putih, petai, atau makanan beraroma kuat lainnya, penyebabnya tidak selalu karena tubuh kotor.
Senyawa dari makanan dapat mengalami proses metabolisme dan sebagian metabolitnya dapat dikeluarkan melalui berbagai jalur, termasuk napas, urine, dan kulit.
Pada bawang putih, keberadaan metabolit sulfur di permukaan kulit bahkan telah diamati secara langsung dalam penelitian pada manusia.
Editor : Lugas Rumpakaadi