Rutin Olahraga Bisa Bantu Jaga Imunitas? Ini Penjelasan dr. Tirta

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 12:12 WIB
Olahraga rutin dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat dan mendukung berbagai aspek kesehatan tubuh. (ChatGPT)
Olahraga rutin dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat dan mendukung berbagai aspek kesehatan tubuh. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Olahraga rutin bukan hanya berkaitan dengan kebugaran dan pembentukan otot.

Aktivitas fisik juga berhubungan dengan kesehatan jantung, metabolisme, kesehatan mental, kualitas tidur, serta berbagai proses fisiologis yang mendukung kesehatan tubuh.

Namun, rajin berolahraga bukan berarti seseorang menjadi kebal terhadap virus atau bakteri.

Manfaat olahraga terhadap sistem imun lebih tepat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Hal tersebut juga disampaikan dr. Tirta saat membahas hubungan aktivitas fisik dengan kondisi tubuh.

Menurutnya, latihan fisik membuat tubuh mengalami berbagai perubahan adaptif, mulai dari otot, jantung, peredaran darah, metabolisme, hingga pengelolaan stres.

“Ketika kita melatih fisik, terjadi perubahan adaptif di tubuh manusia, dari otot, jantung, peredaran darah, hingga metabolik dan manajemen stres,” ujarnya.

Menurut dr. Tirta, perubahan tersebut juga berkaitan dengan kondisi imunitas tubuh.

“Ini membuat imunitas lebih stabil, sehingga saat terpapar virus atau bakteri, sistem peradangan tubuh jadi lebih terkontrol,” terangnya.

Olahraga tidak membuat tubuh kebal terhadap infeksi.

Namun, aktivitas fisik rutin merupakan bagian dari pola hidup sehat dan berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan tubuh.

Mengapa Olahraga Bisa Mendukung Kesehatan Imun?

Saat berolahraga, terjadi berbagai perubahan fisiologis di dalam tubuh.

Denyut jantung dan aliran darah meningkat, sementara sejumlah sel yang berkaitan dengan sistem imun dapat mengalami perubahan distribusi selama dan setelah aktivitas fisik.

Dalam jangka panjang, aktivitas fisik rutin juga berkaitan dengan kesehatan metabolisme dan berbagai faktor risiko penyakit kronis.

Kondisi tersebut penting karena fungsi sistem imun tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan kondisi tubuh secara keseluruhan.

Karena itu, olahraga lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari kebiasaan hidup sehat, bukan sebagai cara untuk membuat seseorang kebal terhadap penyakit.

Olahraga Juga Berkaitan dengan Tidur dan Stres

Manfaat aktivitas fisik tidak hanya berkaitan dengan otot dan sistem kardiovaskular.

WHO menyebut aktivitas fisik secara rutin dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik dan mental.

Aktivitas fisik juga berkaitan dengan kualitas tidur serta penurunan risiko sejumlah penyakit tidak menular.

Tidur dan pengelolaan stres merupakan bagian dari pola hidup sehat.

Karena itu, olahraga sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya faktor yang menentukan kondisi sistem imun.

Pola makan seimbang, tidur yang cukup, tidak merokok, menjaga kebersihan, serta mendapatkan penanganan medis ketika sakit tetap memiliki peran masing-masing.

Bukan Berarti Rajin Olahraga Jadi Kebal Penyakit

Seseorang yang rutin berolahraga tetap dapat terkena flu, infeksi saluran pernapasan, atau penyakit infeksi lainnya.

Karena itu, istilah “olahraga meningkatkan imun” tidak seharusnya dimaknai bahwa olahraga mampu mencegah semua jenis infeksi.

Yang lebih tepat, aktivitas fisik rutin dapat mendukung berbagai fungsi fisiologis dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Efek terhadap sistem imun juga tidak dapat disederhanakan menjadi satu hubungan sebab-akibat.

Dengan demikian, olahraga sebaiknya dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, bukan pengganti vaksinasi, pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan, ataupun pengobatan ketika seseorang mengalami penyakit.

Tidak Harus Olahraga Ekstrem

Untuk mendapatkan manfaat aktivitas fisik, seseorang tidak harus berlatih seperti atlet.

WHO merekomendasikan orang dewasa berusia 18–64 tahun melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang setiap minggu, atau 75–150 menit aktivitas aerobik intensitas berat, atau kombinasi keduanya.

Orang dewasa juga dianjurkan melakukan aktivitas penguatan otot yang melibatkan kelompok otot utama setidaknya dua hari dalam seminggu.

Bagi orang yang belum aktif, aktivitas fisik dapat dimulai dalam jumlah kecil kemudian ditingkatkan secara bertahap, baik dari sisi frekuensi, intensitas, maupun durasinya.

WHO juga menekankan bahwa melakukan aktivitas fisik dalam jumlah tertentu tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.

Aktivitas fisik tidak harus selalu dilakukan di pusat kebugaran.

Berjalan kaki, bersepeda, berenang, olahraga rekreasi, latihan kekuatan, hingga aktivitas fisik sehari-hari juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup aktif.

Hati-Hati Jika Latihan Terlalu Berat

Olahraga yang lebih berat tidak otomatis berarti lebih sehat.

Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi membutuhkan penyesuaian latihan, nutrisi, dan waktu pemulihan.

Pola latihan atlet juga tidak bisa begitu saja diterapkan kepada orang yang berolahraga untuk menjaga kebugaran sehari-hari.

Dr. Tirta mengingatkan masyarakat agar tidak begitu saja meniru pola latihan atlet.

“Kalau kamu tidak siap jadi atlet, jangan ikuti pola hidup atlet,” tegasnya.

Pesan tersebut relevan terutama bagi orang yang baru mulai berolahraga.

Pola latihan atlet umumnya disusun dengan program yang terukur dan disertai pemantauan serta waktu pemulihan yang memadai.

Karena itu, pemula tidak perlu mengejar volume atau intensitas latihan seperti atlet.

Yang lebih penting adalah menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan tubuh dan meningkatkan beban latihan secara bertahap.

Jadi, Seberapa Banyak Olahraga yang Dibutuhkan?

Bagi orang dewasa berusia 18–64 tahun, patokan yang dapat digunakan adalah rekomendasi WHO, yaitu 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang setiap minggu atau 75–150 menit aktivitas aerobik intensitas berat.

Keduanya juga dapat dikombinasikan.

Selain itu, latihan penguatan otot yang melibatkan kelompok otot utama dianjurkan setidaknya dua hari dalam seminggu.

Bagi seseorang yang belum terbiasa berolahraga, target tersebut tidak harus dicapai sekaligus.

Mulailah dari aktivitas yang sesuai kemampuan, kemudian tingkatkan durasi dan intensitas secara bertahap.

Jika memiliki penyakit kronis, keterbatasan fisik, atau kondisi kesehatan tertentu, jenis dan intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan, bila diperlukan, dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
dr Tirta olahraga dan imunitas manfaat olahraga kesehatan imun Aktivitas Fisik