RADAR BANYUWANGI - Memakai baju berbahan parasut saat olahraga dipercaya sebagian orang bisa membuat berat badan turun lebih cepat.
Tubuh terasa lebih panas, keringat keluar lebih banyak, dan angka di timbangan pun dapat berkurang setelah berolahraga.
Namun, apakah berat badan yang turun itu berarti lemak tubuh ikut terbakar lebih banyak?
Tidak selalu. Banyaknya keringat yang keluar bukan ukuran langsung banyaknya lemak yang terbakar.
Penurunan berat badan dalam waktu singkat setelah berkeringat deras lebih berkaitan dengan berkurangnya cairan tubuh.
Dalam kondisi tertentu, pakaian yang membatasi pelepasan panas memang dapat meningkatkan kehilangan cairan melalui keringat.
Namun, efek tersebut tidak sama dengan pembakaran lemak yang lebih banyak.
Banyak Keringat Bukan Berarti Banyak Lemak Terbakar
Keringat merupakan salah satu mekanisme tubuh untuk mengatur suhu.
Saat berolahraga, produksi panas tubuh meningkat sehingga tubuh menggunakan pengeluaran panas melalui kulit, termasuk melalui penguapan keringat.
Karena itu, jumlah keringat dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti intensitas olahraga, suhu dan kelembapan lingkungan, kondisi hidrasi, serta pakaian yang dikenakan.
Penelitian mengenai pakaian untuk olahraga di lingkungan panas menunjukkan bahwa pakaian dapat memengaruhi kemampuan tubuh melepaskan panas melalui penguapan dan konveksi.
Namun, karakteristik bahan pakaian saja tidak otomatis membuat pembakaran energi atau lemak menjadi lebih tinggi.
Artinya, pakaian yang membuat tubuh terasa lebih panas atau berkeringat lebih deras tidak bisa dijadikan patokan bahwa lemak sedang terbakar lebih banyak.
Pembakaran lemak berkaitan dengan penggunaan energi oleh tubuh.
Untuk menurunkan berat badan dalam jangka panjang, aktivitas fisik merupakan salah satu komponen pengelolaan berat badan, bersama dengan pengaturan asupan energi dan pola hidup.
Mengapa Berat Badan Bisa Turun Setelah Banyak Berkeringat?
Perubahan angka timbangan setelah olahraga dapat terjadi karena tubuh kehilangan air melalui keringat.
American College of Sports Medicine menjelaskan bahwa perubahan berat badan sebelum dan setelah olahraga dapat digunakan untuk memperkirakan kehilangan cairan.
Penurunan berat badan segera setelah olahraga terutama mencerminkan kehilangan cairan, bukan berarti seluruh perubahan tersebut merupakan hilangnya jaringan lemak.
Sebagai gambaran, seseorang yang kehilangan 1 liter keringat tanpa menggantinya dengan cairan juga dapat mengalami penurunan berat badan sekitar 1 kilogram untuk sementara.
Angka tersebut dapat kembali meningkat setelah cairan tubuh digantikan.
Karena itu, turun beberapa angka di timbangan setelah olahraga dengan pakaian yang membuat tubuh banyak berkeringat tidak dapat langsung diartikan sebagai keberhasilan membakar lemak dalam jumlah yang sama.
Baju Parasut Bisa Membuat Tubuh Kehilangan Lebih Banyak Cairan
Dalam video Shorts di kanal YouTube Sehatsantaii yang menjadi sumber pembahasan ini, narasumber menjelaskan penggunaan pakaian tersebut dalam konteks mengejar penurunan berat badan.
“Fakta, karena nurunin air ya untuk ngejar BB. Habis itu kan dia harus pulihin lagi dengan minum,” ujar narasumber dalam video tersebut.
Penjelasan mengenai kehilangan air ini sejalan dengan penelitian tentang pakaian olahraga yang membatasi pelepasan panas.
Dalam sebuah penelitian, penggunaan upper-body sauna suit saat berolahraga meningkatkan laju keringat dibandingkan kondisi kontrol.
Pada kondisi panas, penggunaan sauna suit juga meningkatkan beban fisiologis dan persepsi terhadap panas serta usaha olahraga.
Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa keringat yang lebih banyak memang dapat terjadi ketika tubuh mengalami beban panas yang lebih tinggi.
Namun, hal itu tidak berarti tubuh otomatis membakar lemak lebih banyak.
Risiko Dehidrasi Perlu Diperhatikan
Ketika jumlah cairan yang hilang melalui keringat lebih besar daripada cairan yang masuk, tubuh mengalami defisit cairan atau dehidrasi.
CDC menjelaskan bahwa dehidrasi merupakan salah satu faktor penting yang meningkatkan risiko penyakit akibat panas.
Kehilangan cairan melalui keringat juga dapat meningkatkan beban panas tubuh dan menurunkan kemampuan tubuh untuk berolahraga secara optimal.
Dalam percakapan pada video tersebut, dr. Tirta juga menanyakan risiko penggunaan pakaian parasut saat berlari.
“Ya dehidrasi dong, dehidrasi,” ujar narasumber dalam video.
Risiko tersebut bukan sekadar teori.
Penelitian mengenai hidrasi saat olahraga menunjukkan bahwa kehilangan cairan sekitar 2 persen dari berat badan dapat berkaitan dengan gangguan regulasi suhu, peningkatan beban kardiovaskular, dan pada kondisi tertentu penurunan performa aerobik.
Semakin panas lingkungan dan semakin berat aktivitas yang dilakukan, semakin besar pula perhatian yang perlu diberikan terhadap keseimbangan cairan dan panas tubuh.
Pakaian yang Membuat Tubuh Lebih Panas Bukan Strategi Utama Menurunkan Lemak
Penggunaan pakaian yang sengaja meningkatkan keringat perlu dibedakan dari pakaian olahraga biasa.
Pakaian olahraga dirancang dengan berbagai karakteristik untuk membantu kenyamanan dan pengaturan panas tubuh.
Penelitian menunjukkan bahwa konstruksi pakaian dapat memengaruhi pelepasan panas, sementara hasil penelitian mengenai perbedaan bahan sintetis dan alami tidak selalu menunjukkan perbedaan besar dalam respons termoregulasi.
Karena itu, tujuan utama pakaian saat berolahraga sebaiknya bukan membuat tubuh berkeringat sebanyak mungkin, melainkan membantu aktivitas dilakukan dengan aman dan nyaman.
CDC juga menyarankan orang yang berolahraga dalam kondisi panas untuk mengurangi paparan panas, mengatur intensitas aktivitas, serta memperhatikan kebutuhan cairan.
Jika merasa lemas atau hampir pingsan, aktivitas perlu dihentikan dan tubuh dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk.
Jadi, Apakah Baju Parasut Bisa Membuat Cepat Kurus?
Baju parasut atau pakaian yang membuat tubuh lebih banyak berkeringat dapat menyebabkan kehilangan cairan lebih besar.
Akibatnya, angka berat badan bisa turun sementara setelah olahraga.
Namun, penurunan tersebut tidak sama dengan hilangnya lemak tubuh.
Ketika cairan yang hilang digantikan dengan minum, sebagian berat badan yang turun akibat kehilangan air juga dapat kembali.
Karena itu, banyaknya keringat bukan indikator yang tepat untuk menilai seberapa banyak lemak yang terbakar.
Untuk menurunkan berat badan secara berkelanjutan, fokusnya tetap pada aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten, pola makan yang sesuai kebutuhan energi, dan kebiasaan hidup yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Aktivitas fisik sendiri merupakan bagian penting dari strategi pengelolaan berat badan dan pencegahan kenaikan berat badan kembali.
Jadi, jangan terkecoh dengan pakaian yang basah kuyup setelah olahraga.
Keringat yang lebih banyak menunjukkan tubuh kehilangan lebih banyak cairan, bukan otomatis lebih banyak lemak yang terbakar.
Jika tujuan olahraga adalah menurunkan lemak tubuh, mengejar keringat sebanyak-banyaknya bukanlah ukuran keberhasilan.
Yang lebih penting adalah melakukan aktivitas fisik secara konsisten dan mengelola asupan energi serta hidrasi dengan tepat.
Editor : Lugas Rumpakaadi