Bukan Cuma Tempat Mencerna Makanan, Ternyata Usus Punya Peran Besar dalam Sistem Imun

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 14:40 WIB
Usus tidak hanya berperan dalam pencernaan, tetapi juga menjadi salah satu lokasi penting bagi aktivitas sistem kekebalan tubuh dan interaksi dengan mikrobiota. (ChatGPT)
Usus tidak hanya berperan dalam pencernaan, tetapi juga menjadi salah satu lokasi penting bagi aktivitas sistem kekebalan tubuh dan interaksi dengan mikrobiota. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Ketika tubuh terasa mudah lelah atau seseorang lebih sering mengalami infeksi, kesehatan usus mungkin bukan hal pertama yang terpikirkan.

Padahal, saluran pencernaan memiliki hubungan erat dengan sistem kekebalan tubuh.

Di sepanjang saluran pencernaan terdapat jaringan khusus bernama gut-associated lymphoid tissue (GALT).

Jaringan ini mencakup Peyer's patches di usus halus, apendiks, serta berbagai folikel limfoid yang tersebar di sepanjang usus.

Dalam kajian yang diterbitkan di jurnal Mucosal Immunology, para peneliti menyebut GALT sebagai lokasi penting bagi pengambilan antigen dan pembentukan respons imun adaptif di dinding usus.

“Jaringan limfoid terkait usus (GALT) merupakan lokasi utama pengambilan antigen dan pembentukan respons imun adaptif di dalam dinding usus,” tulis Urs M. Mörbe dan koleganya dalam kajian tersebut.

Pernyataan mengenai besarnya peran usus terhadap sistem imun juga disampaikan apt. Antonius Yohanes Suyanto, S.Si. melalui akun TikTok @apoli.indonesia.

“Kita harus jaga usus, karena ternyata 70% sistem imun tubuh kita ada di usus. Usus itu bukan cuma tempat mencerna makanan, tapi menurut penelitian usus ibarat markas besar pertahanan tubuh,” ujarnya.

Namun, penelitian ilmiah menunjukkan gambaran yang lebih spesifik terkait klaim mengenai angka 70 persen.

Benarkah 70 persen sistem imun berada di usus?

Angka 70 persen memang memiliki kaitan dengan sistem imun usus, tetapi tidak tepat jika diterjemahkan begitu saja menjadi “70 persen seluruh sel imun tubuh berada di usus”.

Sebuah penelitian kuantitatif yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) memperkirakan terdapat sekitar 1,8 triliun sel imun dalam tubuh manusia.

Sebagian besar berada di sumsum tulang dan sistem limfatik.

Menurut penelitian tersebut, saluran gastrointestinal hanya mengandung sekitar 3 persen dari seluruh sel imun tubuh dan sekitar 5 persen limfosit.

Dengan demikian, sebagian besar sel imun manusia sebenarnya tidak berada di usus.

Namun, ada satu temuan penting.

Peneliti memperkirakan sekitar 70 persen sel plasma penghasil antibodi di dalam tubuh berada di usus.

Sel plasma merupakan sel yang berasal dari limfosit B dan menghasilkan antibodi untuk membantu sistem kekebalan mengenali serta menghadapi antigen.

Penulis studi tersebut juga menjelaskan bahwa temuan itu menjadikan usus sebagai kompartemen terbesar dalam sistem kekebalan humoral tubuh.

Artinya, pernyataan bahwa “70 persen sistem imun berada di usus” membutuhkan koreksi.

Yang lebih akurat adalah usus merupakan pusat penting sistem imun mukosa dan menjadi tempat sekitar 70 persen sel plasma penghasil antibodi berada.

Koreksi ini penting karena istilah “sistem imun” mencakup banyak jenis sel, jaringan, dan organ.

Menyamakan seluruh sistem imun dengan sel plasma atau jaringan imun di usus dapat membuat pembaca mendapatkan gambaran yang keliru.

Mengapa sistem imun banyak beraktivitas di saluran pencernaan?

Saluran pencernaan terus berhubungan dengan lingkungan luar melalui makanan dan minuman yang masuk ke tubuh.

Karena itu, sistem imun di area tersebut harus mampu menghadapi berbagai antigen sekaligus mempertahankan toleransi terhadap zat dan mikroorganisme yang tidak berbahaya.

GALT berperan dalam proses tersebut.

Struktur seperti Peyer's patches dan folikel limfoid menjadi tempat penting bagi pengenalan antigen serta pembentukan respons imun adaptif.

Selain GALT, sistem pertahanan usus juga melibatkan lapisan epitel, lendir, antibodi imunoglobulin A (IgA), serta berbagai jenis sel imun yang berada di jaringan usus.

Penelitian mengenai GALT menunjukkan bahwa sistem tersebut bukan sekadar “dinding pertahanan”, tetapi merupakan jaringan yang secara aktif mengatur keseimbangan antara toleransi terhadap mikroorganisme yang hidup bersama manusia dan respons terhadap patogen yang berpotensi menyebabkan penyakit.

Mikrobiota usus ikut berinteraksi dengan sistem imun

Di dalam saluran pencernaan hidup komunitas mikroorganisme yang sangat kompleks dan disebut mikrobiota usus.

Hubungan antara mikrobiota dan sistem imun berlangsung dua arah.

Mikroorganisme di usus dapat memengaruhi lingkungan imun melalui berbagai metabolit, sementara sistem imun membantu mengendalikan komunitas mikroorganisme tersebut.

Salah satu mekanisme yang banyak diteliti berkaitan dengan antibodi IgA.

Penelitian mengenai sistem imun mukosa menunjukkan bahwa Peyer's patches merupakan lokasi penting dalam pembentukan respons antibodi IgA terhadap antigen dari lingkungan usus.

Antibodi IgA kemudian membantu mengatur interaksi antara mikroorganisme dan permukaan mukosa.

Hubungan ini menunjukkan bahwa mikrobiota dan sistem imun bukan dua sistem yang bekerja secara terpisah.

Keduanya terus berinteraksi di dalam lingkungan usus.

Apa yang terjadi ketika pola makan berubah?

Pola makan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi mikrobiota usus.

Namun, respons setiap orang tidak selalu sama.

Salah satu penelitian intervensi pada manusia yang diterbitkan di jurnal Cell melibatkan 36 orang dewasa sehat yang secara acak mengikuti pola makan tinggi makanan fermentasi atau tinggi serat.

Setelah intervensi selama 10 minggu, kelompok yang mengonsumsi makanan fermentasi mengalami peningkatan keragaman mikrobiota.

Para peneliti juga menemukan penurunan sejumlah penanda inflamasi.

“Pola makan berbasis makanan fermentasi meningkatkan keragaman mikrobioma dan menurunkan penanda inflamasi,” demikian kesimpulan peneliti dalam publikasinya.

Makanan fermentasi yang dikonsumsi peserta penelitian antara lain yogurt, kefir, keju cottage fermentasi, sayuran fermentasi seperti kimchi, minuman berbasis air garam sayuran, serta kombucha.

Namun, hasil penelitian tersebut tidak berarti semua makanan fermentasi pasti memberikan efek yang sama kepada setiap orang.

Studi tersebut dilakukan pada orang dewasa sehat dengan jumlah peserta yang relatif kecil.

Karena itu, yogurt, tempe, kimchi, dan makanan fermentasi lainnya lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pola makan beragam, bukan sebagai obat atau cara tunggal untuk meningkatkan sistem imun.

Bagaimana dengan makanan tinggi serat?

Serat juga berhubungan dengan mikrobiota usus.

Sebagian jenis serat dapat difermentasi oleh mikroorganisme di saluran pencernaan dan menghasilkan berbagai metabolit.

Namun, penelitian pada manusia menunjukkan bahwa efek peningkatan asupan serat dapat berbeda antarindividu.

Dalam studi Cell yang sama, kelompok yang mengonsumsi makanan tinggi serat mengalami perubahan pada fungsi mikrobiota, tetapi tidak menunjukkan peningkatan keragaman mikrobiota seperti yang terlihat pada kelompok makanan fermentasi.

Respons imun juga berbeda-beda berdasarkan kondisi mikrobiota peserta sebelum intervensi.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tidak tepat menyederhanakan hubungan menjadi “semakin banyak serat, semakin kuat imun”.

Serat tetap merupakan bagian penting dari pola makan sehat, tetapi jenis serat, jumlahnya, pola makan secara keseluruhan, dan kondisi mikrobiota seseorang dapat memengaruhi respons yang dihasilkan.

Antibiotik dapat mengubah mikrobiota usus

Antibiotik merupakan obat penting untuk menangani infeksi bakteri.

Namun, obat tersebut juga dapat memengaruhi mikroorganisme lain yang hidup di dalam usus.

Dalam sebuah penelitian pada 12 pria sehat, peserta mendapat kombinasi tiga antibiotik spektrum luas selama empat hari.

Peneliti kemudian memantau mikrobiota mereka selama enam bulan.

Hasilnya menunjukkan bahwa komposisi mikrobiota berubah secara nyata setelah pemberian antibiotik.

Populasi beberapa bakteri, termasuk Bifidobacterium dan sejumlah bakteri penghasil butirat, menurun.

Secara keseluruhan, komposisi mikrobiota kembali mendekati kondisi awal dalam waktu sekitar 1,5 bulan.

Namun, sembilan spesies yang sebelumnya ditemukan pada seluruh peserta masih tidak terdeteksi pada sebagian besar peserta setelah 180 hari.

Para peneliti menggambarkan mikrobiota orang dewasa sehat sebagai cukup tangguh dalam menghadapi intervensi antibiotik jangka pendek. 

“Mikrobiota usus orang dewasa muda yang sehat memiliki ketahanan terhadap intervensi antibiotik spektrum luas jangka pendek,” tulis peneliti dalam publikasi tersebut.

Namun, penelitian yang sama juga menunjukkan adanya perubahan jangka panjang pada beberapa spesies.

Karena itu, penggunaan antibiotik tetap perlu dilakukan secara tepat dan sesuai indikasi medis.

Lalu, bagaimana cara menjaga kesehatan usus?

Tidak ada satu makanan, minuman, atau suplemen yang dapat menjamin sistem imun menjadi lebih kuat.

Namun, kesehatan saluran pencernaan dapat didukung melalui pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.

Pertama, konsumsi beragam sumber serat seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Serat tertentu dapat menjadi substrat bagi mikroorganisme usus dan memengaruhi fungsi mikrobiota.

Namun, respons terhadap serat dapat berbeda antarindividu.

Kedua, makanan fermentasi seperti yogurt, tempe, atau kimchi dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam.

Uji intervensi pada manusia menunjukkan bahwa pola makan tinggi makanan fermentasi selama 10 minggu meningkatkan keragaman mikrobiota dan menurunkan sejumlah penanda inflamasi.

Ketiga, batasi konsumsi makanan ultra-proses dan gula tambahan secara berlebihan.

Fokusnya bukan menganggap satu makanan sebagai penyebab langsung kerusakan usus, tetapi membangun pola makan secara keseluruhan yang beragam dan seimbang.

Keempat, gunakan antibiotik sesuai indikasi medis.

Jangan mengonsumsi antibiotik tanpa resep atau menggunakannya untuk penyakit yang tidak disebabkan oleh bakteri.

Kelima, jangan melupakan faktor lain seperti tidur, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Sistem imun tidak bekerja secara terpisah dari organ dan jaringan tubuh lainnya.

Usus penting, tetapi bukan satu-satunya penentu daya tahan tubuh

Penelitian modern menunjukkan hubungan erat antara saluran pencernaan, GALT, mikrobiota, metabolit mikroba, dan sistem imun.

Namun, hubungan tersebut jauh lebih kompleks daripada anggapan bahwa semua masalah kesehatan berawal dari usus.

Studi kuantitatif mengenai distribusi sel imun manusia memberikan gambaran yang penting.

Sebagian besar sel imun berada di sumsum tulang dan sistem limfatik, bukan di saluran pencernaan.

Akan tetapi, sekitar 70 persen sel plasma penghasil antibodi berada di usus.

Karena itu, ketika mendengar pernyataan bahwa “70 persen sistem imun berada di usus”, perlu diperiksa kebenarannya.

Usus memang merupakan pusat penting sistem imun mukosa dan tempat sebagian besar sel plasma penghasil antibodi berada, tetapi bukan berarti 70 persen seluruh sel imun manusia tinggal di usus.

Merawat kesehatan usus pada akhirnya bukan berarti mencari satu “makanan super” atau mengandalkan suplemen tertentu.

Pendekatan yang lebih masuk akal adalah menjaga pola makan tetap beragam, memenuhi kebutuhan serat, memasukkan makanan fermentasi bila cocok, menggunakan antibiotik secara tepat, serta menjaga gaya hidup sehat secara keseluruhan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
usus dan sistem imun mikrobiota usus GALT kesehatan usus sistem kekebalan tubuh