Sering Menahan Bersin? Kebiasaan Ini Ternyata Bisa Berdampak pada Telinga dan Tenggorokan

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 14:14 WIB
Menutup bersin menggunakan tisu atau bagian dalam siku lebih dianjurkan daripada menahan bersin dengan menutup hidung dan mulut rapat-rapat. (ChatGPT)
Menutup bersin menggunakan tisu atau bagian dalam siku lebih dianjurkan daripada menahan bersin dengan menutup hidung dan mulut rapat-rapat. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pernah menahan bersin karena sedang berada di tempat umum?

Bagi sebagian orang, menutup hidung dan mulut rapat-rapat terasa seperti cara paling sopan agar suara dan percikan bersin tidak mengganggu orang lain.

Namun, menghentikan bersin dengan cara tersebut bukan pilihan yang ideal.

Bersin merupakan refleks tubuh untuk membantu mengeluarkan iritan dari saluran pernapasan.

Ketika hidung dan mulut ditutup secara paksa, tekanan yang seharusnya dilepaskan melalui saluran pernapasan dapat meningkat.

Penelitian mengenai cedera akibat bersin juga menunjukkan bahwa menutup jalur keluarnya udara dapat menimbulkan konsekuensi, meskipun komplikasi seriusnya tergolong jarang.

Bersin merupakan refleks pertahanan tubuh

Dorongan untuk bersin biasanya muncul ketika saluran hidung terpapar sesuatu yang mengganggu, seperti debu, alergen, atau iritan lainnya.

Tubuh kemudian melakukan rangkaian refleks yang menghasilkan hembusan udara kuat melalui hidung dan mulut.

Penelitian eksperimental yang mengukur aliran bersin menggunakan metode particle image velocimetry pada 10 orang sehat menemukan bahwa aliran udara bersin mencapai kecepatan maksimum sekitar 15,9 meter per detik atau sekitar 57 kilometer per jam.

Para peneliti juga menemukan bahwa puncak kecepatan tersebut terjadi pada fase awal bersin.

Dengan demikian, anggapan bahwa semua bersin selalu melaju hingga 160 kilometer per jam tidak tepat.

Kecepatan bersin dapat berbeda-beda bergantung pada individu dan metode pengukuran.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa, “Kecepatan aliran udara maksimum saat bersin adalah sekitar 15,9 m/s.”

Apa yang terjadi ketika bersin ditahan?

Masalah muncul ketika seseorang berusaha menghentikan refleks tersebut dengan menutup hidung dan mulut.

Udara yang seharusnya keluar menjadi terhambat sehingga tekanan di saluran pernapasan dapat meningkat.

Penelitian mengenai tekanan saat bersin menunjukkan bahwa menutup jalur udara dapat menghasilkan tekanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan bersin normal.

Dalam literatur medis, kondisi ini dikenal sebagai closed-airway sneeze atau bersin dengan jalan napas tertutup.

Sebuah penelitian pemodelan sebelumnya menemukan bahwa penutupan saluran udara saat bersin dapat meningkatkan tekanan secara signifikan.

Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa cedera tertentu pernah dilaporkan setelah seseorang menahan bersin.

Para peneliti yang menelaah kasus-kasus cedera akibat bersin menyimpulkan, “Intervensi aktif untuk menahan bersin dapat berdampak buruk.”

Artinya, persoalannya bukan karena bersin itu sendiri berbahaya, melainkan karena upaya menghentikan bersin secara paksa dapat menciptakan tekanan yang tidak biasa di dalam saluran pernapasan.

Telinga dapat menjadi salah satu bagian yang terdampak

Tekanan yang muncul saat bersin ditahan dapat memengaruhi struktur di sekitar saluran pernapasan dan telinga.

Sejumlah laporan medis telah mendokumentasikan cedera telinga yang terjadi setelah seseorang menahan atau menekan bersin.

Namun, penting untuk memahami bahwa sebagian besar bukti mengenai cedera tersebut berasal dari laporan kasus.

Dengan kata lain, kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa cedera mungkin terjadi, tetapi tidak berarti setiap orang yang menahan bersin akan mengalami kerusakan telinga.

Hal serupa terlihat pada berbagai cedera lain yang pernah dilaporkan.

Tinjauan terhadap laporan medis menemukan cedera yang berkaitan dengan bersin pada beberapa area tubuh, termasuk telinga, tenggorokan, dada, mata, dan sistem saraf.

Cedera tenggorokan sangat jarang, tetapi pernah dilaporkan

Salah satu komplikasi yang paling menarik perhatian adalah cedera pada tenggorokan atau laring akibat peningkatan tekanan secara tiba-tiba.

Dalam sebuah laporan kasus, seorang pria berusia 30 tahun mengalami robekan pada sinus piriformis setelah bersin sambil menutup kedua lubang hidung.

Kondisi tersebut menyebabkan udara masuk ke jaringan leher dan rongga dada, yang dikenal sebagai pneumomediastinum.

Penulis laporan kasus tersebut menegaskan bahwa kondisi itu “Merupakan komplikasi yang sangat jarang terjadi akibat jenis manuver ini.”

Mereka juga menyarankan agar tindakan menutup kedua lubang hidung ketika bersin dihindari karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan yang berlebihan.

Kasus lain yang dipublikasikan dalam jurnal Otolaryngology–Head and Neck Surgery melaporkan fraktur laring setelah apa yang disebut peneliti sebagai “bersin dengan saluran napas tertutup”.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa cedera serius memang secara medis memungkinkan, tetapi kasusnya sangat tidak umum.

Jadi, apakah menahan bersin selalu berbahaya?

Tidak.

Pernah menahan bersin tidak berarti seseorang pasti mengalami cedera.

Komplikasi berat akibat bersin yang ditekan terutama diketahui melalui laporan kasus, sehingga tidak tepat jika informasi tersebut digunakan untuk menakut-nakuti pembaca.

Bahkan dalam literatur medis, cedera akibat bersin merupakan kejadian yang relatif jarang.

Yang lebih penting adalah menghindari kebiasaan menutup hidung dan mulut secara bersamaan dengan tujuan menghentikan bersin.

Tindakan tersebut dapat meningkatkan tekanan pada saluran pernapasan, sementara manfaat kesehatannya tidak ada.

Dengan kata lain, jika tubuh sudah memicu refleks bersin, tidak perlu memaksanya berhenti.

Bagaimana cara bersin yang lebih aman di tempat umum?

Tidak menahan bersin bukan berarti membiarkan percikan bersin menyebar ke orang lain.

Ketika berada di tempat umum, tutup hidung dan mulut menggunakan tisu.

Setelah digunakan, segera buang tisu dan bersihkan tangan.

Jika tisu tidak tersedia, gunakan bagian dalam siku untuk menutup bersin.

Cara tersebut memungkinkan udara tetap keluar tanpa mengarahkan percikan secara langsung kepada orang di sekitar.

Yang perlu dihindari adalah mencubit hidung sambil menutup mulut rapat-rapat untuk menghentikan bersin.

Justru tindakan inilah yang dapat menghambat jalur keluarnya udara dan meningkatkan tekanan di dalam saluran pernapasan.

Tidak perlu menahan bersin, tetapi tetap jaga etika

Menahan bersin mungkin terasa sebagai tindakan kecil ketika seseorang sedang berada di ruang rapat, kendaraan umum, restoran, atau tempat ramai.

Namun, refleks tersebut memiliki fungsi fisiologis dan sebaiknya tidak dihentikan secara paksa dengan menutup seluruh jalan keluarnya udara.

Penelitian primer menunjukkan bahwa aliran bersin memang memiliki kecepatan cukup tinggi, tetapi kecepatannya tidak sama pada setiap orang.

Penelitian pada 10 partisipan sehat mendapatkan kecepatan maksimum sekitar 15,9 meter per detik, sementara penelitian lain terhadap 35 kejadian bersin menemukan rata-rata kecepatan tetesan sekitar 2–5,4 meter per detik.

Jadi, tidak perlu percaya pada angka sensasional mengenai kecepatan bersin.

Yang lebih penting adalah memahami mekanismenya, ketika bersin muncul, biarkan udara keluar tanpa menutup hidung dan mulut secara rapat.

Dengan menggunakan tisu atau bagian dalam siku, bersin tetap dapat berlangsung secara alami sekaligus membantu menjaga kebersihan dan kenyamanan orang di sekitar.

Bersin bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

Yang perlu dihindari adalah memaksa tubuh menghentikan refleks tersebut dengan cara menutup jalan keluarnya udara.

Komplikasi serius memang dapat terjadi, tetapi bukti medis menunjukkan bahwa kasus seperti itu sangat jarang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kesehatan telinga menahan bersin bahaya menahan bersin risiko menahan bersin bersin