Sering Mager dan Kebanyakan Duduk? Ini Dampaknya bagi Kesehatan Tulang

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 16:00 WIB
Aktivitas fisik seperti berjalan kaki dan menaiki tangga dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari untuk mendukung kesehatan tulang. (ChatGPT)
Aktivitas fisik seperti berjalan kaki dan menaiki tangga dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari untuk mendukung kesehatan tulang. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Rebahan setelah seharian beraktivitas memang terasa menyenangkan. Namun, jika duduk dan rebahan menjadi kebiasaan sehari-hari, tubuh bisa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan aktivitas fisik yang dibutuhkan, termasuk untuk membantu menjaga kesehatan tulang.

Kebiasaan malas bergerak atau yang populer disebut mager tidak serta-merta menyebabkan osteoporosis. Namun, pola hidup yang terlalu banyak duduk dan minim aktivitas fisik dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kesehatan tulang dan risiko patah tulang.

Osteoporosis sendiri merupakan kondisi ketika tulang menjadi rapuh dan lebih mudah mengalami patah. Masalah ini memang lebih banyak dikaitkan dengan pertambahan usia, tetapi kesehatan tulang juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk gaya hidup, aktivitas fisik, nutrisi, dan kondisi tertentu.

Dalam video yang diunggah akun TikTok MetroTV, pembicara menjelaskan bahwa kurang bergerak dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

“Salah satu penyebabnya adalah kurang gerak alias mager. Gaya hidup terlalu banyak duduk atau tidak aktif secara fisik dapat meningkatkan risiko tulang menjadi lemah,” ujar pembicara dalam video tersebut.

Mengapa Tulang Membutuhkan Aktivitas Fisik?

Tulang bukanlah jaringan yang statis. Di dalam tubuh, tulang terus mengalami proses pembentukan dan penguraian. Aktivitas fisik memberikan beban atau rangsangan mekanis pada sistem tulang dan otot.

Berjalan kaki, menaiki tangga, maupun melakukan latihan fisik membuat tubuh tetap aktif sekaligus memberikan rangsangan pada tulang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memasukkan aktivitas fisik sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan tulang dan fungsi tubuh.

Dalam video MetroTV tersebut juga disebutkan, “Tulang perlu stres mekanis dari gerakan olahraga agar tetap kuat.”

Karena itu, persoalannya bukan sekadar seseorang sesekali memilih rebahan. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kurang bergerak menjadi pola hidup dalam jangka panjang.

WHO mengategorikan duduk, berbaring, atau melakukan aktivitas dengan pengeluaran energi yang rendah ketika terjaga sebagai perilaku sedentari. Kurangnya aktivitas fisik juga dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan yang kurang baik.

Osteoporosis Tidak Hanya Berkaitan dengan Mager

Kurang aktivitas fisik bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan kesehatan tulang.

WHO mencatat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko patah tulang akibat kerapuhan, antara lain usia yang lebih tua, berat badan rendah, pola makan yang kurang baik, kekurangan kalsium dan vitamin D, kebiasaan kurang aktif secara fisik, serta beberapa kondisi dan penggunaan obat tertentu.

Artinya, seseorang tidak bisa menyimpulkan bahwa osteoporosis terjadi hanya karena jarang berolahraga. Kondisi tulang merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan.

Kalsium menjadi salah satu mineral penting bagi struktur tulang. Sementara itu, vitamin D berperan dalam proses tubuh memanfaatkan kalsium. Karena itu, menjaga kesehatan tulang juga membutuhkan perhatian terhadap pola makan dan kecukupan nutrisi.

Tidak Harus Menunggu Tua untuk Menjaga Tulang

Kesehatan tulang sebaiknya diperhatikan sejak usia muda. Kebiasaan hidup yang aktif dapat dibangun dari aktivitas sederhana sehari-hari.

Tidak semua orang harus langsung melakukan olahraga berat. Berjalan kaki, menggunakan tangga ketika memungkinkan, melakukan aktivitas rumah tangga, bersepeda, atau menyempatkan diri melakukan aktivitas fisik merupakan beberapa pilihan.

WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit dalam satu pekan, atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit, dengan tambahan latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam sepekan. Rekomendasi tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing orang.

Bagi orang yang sehari-hari banyak bekerja sambil duduk, perubahan kecil juga bisa dilakukan. Misalnya, berdiri dan berjalan sebentar setelah duduk cukup lama atau memilih berjalan kaki untuk jarak yang memungkinkan.

Jangan Kebanyakan Rebahan

Rebahan sesekali tentu bukan masalah. Tubuh tetap membutuhkan istirahat setelah menjalani aktivitas. Yang perlu dihindari adalah menjadikan duduk dan rebahan hampir sepanjang hari sebagai kebiasaan tanpa diimbangi aktivitas fisik.

Bagi masyarakat yang memiliki rutinitas padat, bergerak lebih sering tidak harus selalu dilakukan melalui olahraga formal. Aktivitas fisik juga dapat berasal dari perjalanan, pekerjaan rumah, berjalan kaki, maupun kegiatan sehari-hari lainnya.

Jadi, mager sesekali bukan berarti seseorang akan langsung mengalami osteoporosis. Namun, membangun kebiasaan hidup yang lebih aktif merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung kesehatan tulang dan tubuh secara keseluruhan.

Mulai dari hal sederhana. Kurangi waktu terlalu lama dalam posisi duduk atau rebahan, beri tubuh kesempatan untuk bergerak, dan tetap perhatikan asupan makanan yang mendukung kesehatan tulang.

Sebab, menjaga tulang bukan pekerjaan yang baru dimulai ketika usia bertambah. Kebiasaan yang dibangun sejak sekarang dapat menjadi bagian dari upaya menjaga tubuh tetap kuat dan aktif di kemudian hari.


Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi dengan dokter maupun tenaga kesehatan. Orang yang memiliki osteoporosis, riwayat patah tulang, atau kondisi medis tertentu sebaiknya berkonsultasi sebelum memulai program olahraga baru.

Editor : Lugas Rumpakaadi
mager Aktivitas Fisik gaya hidup sehat osteoporosis kesehatan tulang