RADAR BANYUWANGI – Gagal ginjal kini bukan lagi ancaman yang identik dengan usia lanjut. Di Banyuwangi, 28 orang berusia di bawah 30 tahun tercatat harus menjalani hemodialisis atau cuci darah sepanjang 2026. Temuan tersebut menjadi alarm serius di tengah perubahan gaya hidup generasi muda yang dinilai semakin jauh dari pola hidup sehat.
Secara keseluruhan, lebih dari 300 pasien gagal ginjal saat ini rutin menjalani cuci darah di empat rumah sakit di Banyuwangi. Namun, masuknya puluhan pasien usia muda menjadi perhatian tersendiri bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi.
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, munculnya kasus gagal ginjal pada kelompok usia muda tidak bisa dilepaskan dari sejumlah kebiasaan hidup yang kurang sehat.
Salah satu yang paling banyak ditemukan, kata Amir, adalah rendahnya konsumsi air putih. Padahal, kecukupan cairan menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi tubuh, termasuk ginjal.
“Meningkatnya kasus gagal ginjal pada usia muda tidak lepas dari pola hidup yang kurang sehat. Salah satu faktor utama yang paling banyak kami temukan di lapangan adalah kebiasaan kurang mengonsumsi air putih,” ungkap Amir.
Menurut dia, orang dewasa idealnya mengonsumsi air putih minimal sekitar dua liter atau setara delapan gelas per hari. Kekurangan cairan yang berlangsung dalam waktu panjang dinilai dapat membuat fungsi ginjal bekerja lebih berat.
Namun, persoalan tidak berhenti pada kebiasaan malas minum air putih. Pola konsumsi makanan generasi muda juga menjadi perhatian.
Dari Minuman Manis hingga Jajanan Instan
Alih-alih memenuhi kebutuhan cairan dengan air putih, sebagian anak muda justru lebih sering mengonsumsi minuman manis. Kebiasaan tersebut berjalan beriringan dengan pola makan yang didominasi makanan instan dan jajanan tinggi garam.
Dinkes Banyuwangi menyoroti konsumsi mi instan, seblak, cireng, dan berbagai makanan kekinian lainnya. Di sisi lain, konsumsi buah dan sayur dinilai masih kurang.
“Sudah nutrisi yang masuk ke dalam tubuh kurang, ditambah lagi gempuran makanan instan, mi instan, lalu seblak, cireng, dan sejenisnya. Anak-anak sekarang juga sangat kurang mengonsumsi buah dan sayur,” beber Amir.
Pola makan tersebut semakin berisiko ketika tidak diimbangi aktivitas fisik. Gaya hidup sedentari atau minim gerak kini menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda.
Waktu yang panjang dihabiskan di depan layar gawai. Aktivitas fisik yang seharusnya menjadi bagian dari rutinitas justru semakin berkurang.
Padahal, olahraga dan aktivitas fisik berperan dalam menjaga kebugaran serta membantu mengendalikan berbagai faktor risiko penyakit kronis.
Hipertensi Jadi Alarm Berikutnya
Kekhawatiran Dinkes Banyuwangi semakin kuat setelah melihat hasil program cek kesehatan gratis yang dilakukan pemerintah daerah. Sekitar 20 persen penduduk yang menjalani pemeriksaan diketahui mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Bagi Dinkes, temuan tersebut tidak boleh dianggap sepele. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan serius.
“Hipertensi itu pintu masuknya penyakit-penyakit metabolik; mulai jantung, stroke, termasuk berujung pada gagal ginjal,” tegas Amir.
Karena itu, pencegahan harus dimulai jauh sebelum seseorang mengalami gangguan fungsi ginjal. Perubahan pola hidup menjadi salah satu langkah yang didorong Dinkes, terutama bagi kelompok usia muda.
Masyarakat diminta memperhatikan keseimbangan nutrisi, mencukupi kebutuhan cairan, membatasi makanan dan minuman yang kurang sehat, serta meningkatkan aktivitas fisik.
Merujuk rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), aktivitas fisik minimal dilakukan 150 menit dalam sepekan. Durasi tersebut dapat dibagi menjadi sekitar 30 menit per hari selama lima hari.
Bagi generasi muda Banyuwangi, munculnya 28 kasus gagal ginjal pada usia di bawah 30 tahun menjadi peringatan bahwa penyakit tersebut tidak selalu datang ketika usia telah senja. Kebiasaan yang dianggap sepele—mulai dari kurang minum, pola makan buruk, hingga minim bergerak—perlu mulai dievaluasi sebelum berubah menjadi masalah kesehatan serius.
“Kalau komitmen ini bisa dijalankan konsisten, inilah benteng utama pola hidup sehat masyarakat kita,” pungkas Amir. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin