Kerupuk Rebus Jadi Favorit di Seblak, Mitos Usus Buntu dan Risiko yang Sebenarnya

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 11:56 WIB
Seblak dengan kerupuk rebus menjadi jajanan yang digemari karena teksturnya yang kenyal dan cita rasa pedas. Konsumsi tetap perlu memperhatikan kebersihan, porsi, dan keseimbangan gizi. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Seblak dengan kerupuk rebus menjadi jajanan yang digemari karena teksturnya yang kenyal dan cita rasa pedas. Konsumsi tetap perlu memperhatikan kebersihan, porsi, dan keseimbangan gizi. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Seblak dengan kerupuk rebus menjadi salah satu jajanan yang menarik perhatian pencinta makanan pedas. Tekstur kerupuk yang kenyal setelah direbus berpadu dengan kuah gurih dan pedas, menciptakan sensasi berbeda dibandingkan kerupuk yang digoreng.

Bagi sebagian anak muda, tekstur tersebut justru menjadi daya tarik utama. Kerupuk yang semula keras berubah menjadi lunak dan kenyal setelah dimasak, kemudian dapat dipadukan dengan berbagai bahan lain dalam semangkuk seblak.

Risa, termasuk salah satu orang yang lebih menyukai kerupuk rebus. Ia merasa kerupuk yang digoreng kurang nyaman ketika disantap.

“Aku lebih suka kerupuk yang direbus gitu sih, soalnya kalau yang digoreng itu kayak bikin seret gitu loh di tenggorokan. Jadi aku lebih suka yang direbus gitu dibikin banyak olahan, misal seblak atau apa gitu,” ujar Risa.

Popularitas kerupuk rebus juga diikuti sejumlah anggapan mengenai dampaknya bagi kesehatan. Salah satu yang cukup sering beredar adalah anggapan bahwa kerupuk yang kenyal setelah direbus sulit dicerna, bahkan dapat menyumbat saluran pencernaan dan menyebabkan usus buntu.

Anggapan tersebut perlu diluruskan.

Benarkah kerupuk rebus bisa menyebabkan usus buntu?

Dokter spesialis pencernaan RSCM, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, menjelaskan bahwa sistem pencernaan manusia memiliki kemampuan untuk mengolah makanan dengan berbagai tekstur, termasuk makanan yang terasa kenyal ketika dikunyah.

Dengan demikian, tekstur kenyal pada kerupuk rebus tidak secara otomatis membuat makanan tersebut berhenti atau menyumbat saluran pencernaan.

Usus buntu sendiri merupakan kondisi yang berkaitan dengan peradangan pada apendiks. Karena itu, menyebut kerupuk rebus sebagai penyebab langsung usus buntu merupakan penyederhanaan yang tidak tepat.

Dalam hal makanan, kebersihan pengolahan justru menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan. Makanan atau bahan pangan yang tidak higienis berpotensi membawa mikroorganisme penyebab infeksi dan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Ketua Umum PERGIZI, Prof. Hardinsyah, MS, juga menjelaskan bahwa bahan dasar kerupuk basah pada dasarnya tidak berbeda jauh dari kerupuk yang biasa digoreng. Komponen utamanya adalah pati atau tepung aci yang dapat dicerna tubuh.

Jadi, persoalan kerupuk rebus bukan semata-mata karena teksturnya yang kenyal.

Kerupuk rebus memang lebih rendah minyak, tetapi bukan berarti bebas risiko

Ada satu perbedaan yang cukup jelas antara kerupuk rebus dan kerupuk goreng. Kerupuk yang dimasak dengan cara direbus tidak melalui proses penggorengan sehingga secara umum memiliki paparan minyak yang lebih rendah.

Namun, cara memasaknya tetap perlu diperhatikan. Air yang digunakan harus bersih dan bahan perlu dimasak hingga matang sempurna.

Selain itu, kerupuk rebus tidak otomatis menjadi makanan dengan kandungan gizi lengkap hanya karena tidak digoreng.

Kerupuk berbahan tepung aci pada dasarnya lebih banyak menyumbang karbohidrat, sedangkan kandungan protein, serat, vitamin, dan mineralnya relatif terbatas. Kandungan natrium juga perlu diperhatikan, terutama apabila kerupuk disantap bersama bumbu atau kuah yang banyak mengandung garam dan penyedap.

Pakar gizi klinis dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, Sp.GK dan dr. Tan Shot Yen menyoroti persoalan tersebut. Jika dikonsumsi terlalu sering dan tidak disertai makanan dengan zat gizi yang lebih beragam, kerupuk aci kurang ideal dijadikan bagian utama dari pola makan sehari-hari.

Justru kuah pedas yang perlu diperhatikan

Ketika kerupuk rebus masuk ke dalam semangkuk seblak, perhatian terhadap kesehatan tidak cukup hanya diarahkan pada kerupuknya.

Seblak umumnya dikenal dengan cita rasa pedas yang berasal dari cabai. Pada sebagian orang, makanan yang sangat pedas dapat memicu rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan, seperti perih, kembung, atau sensasi panas di perut.

Capsaicin, senyawa yang memberikan rasa pedas pada cabai, dapat menimbulkan keluhan berbeda pada setiap orang. Mereka yang memiliki lambung sensitif atau sudah mengalami gangguan pencernaan tertentu dapat lebih mudah merasakan ketidaknyamanan setelah mengonsumsi makanan yang sangat pedas.

Karena itu, tidak tepat jika seluruh risiko kesehatan pada seblak hanya diarahkan kepada kerupuk rebus. Komposisi hidangan, tingkat kepedasan, jumlah garam, porsi, frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan masing-masing orang juga perlu diperhitungkan.

Bagaimana menikmati seblak dengan lebih bijak?

Bagi masyarakat Banyuwangi yang gemar menyantap seblak, kerupuk rebus tetap dapat menjadi bagian dari pilihan jajanan. Tidak ada alasan untuk menghindarinya hanya karena teksturnya yang kenyal.

Namun, ada beberapa hal sederhana yang dapat diperhatikan.

Pertama, pilih penjual yang menjaga kebersihan bahan, peralatan, air, dan lingkungan pengolahan makanan.

Kedua, pastikan kerupuk dan bahan lainnya dimasak hingga matang.

Ketiga, perhatikan tingkat kepedasan. Jika setelah menyantap makanan pedas muncul keluhan berulang seperti nyeri perut, rasa terbakar, mual, atau keluhan asam lambung, sebaiknya kurangi konsumsi dan pertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Keempat, jangan menjadikan kerupuk sebagai satu-satunya komponen utama makanan. Tambahan protein, sayuran, dan bahan pangan lain dengan kandungan gizi yang lebih beragam dapat membuat satu porsi makanan menjadi lebih seimbang.

Kelima, perhatikan porsinya. Makanan yang kandungan gizinya terbatas tetap dapat menjadi jajanan sesekali, tetapi konsumsi berlebihan dan terlalu sering bukan pilihan yang baik untuk pola makan jangka panjang.

Bukan soal kenyalnya, tetapi pola konsumsinya

Kerupuk rebus dalam seblak pada dasarnya tidak perlu dicap sebagai makanan yang dapat menyebabkan usus buntu. Sistem pencernaan mampu mencerna makanan berbahan pati tersebut, sedangkan tekstur kenyal setelah direbus bukan berarti makanan akan menyumbat usus.

Hal yang lebih patut diperhatikan adalah kebersihan pengolahan, kandungan natrium, keterbatasan zat gizi, ukuran porsi, serta banyaknya bumbu pedas yang menyertai makanan.

Bagi pencinta seblak di Banyuwangi, menikmati kerupuk rebus secara sesekali dengan porsi wajar dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih bijak. Yang penting, jangan sampai mitos membuat masyarakat takut terhadap kerupuk rebus, tetapi juga jangan menjadikan klaim “aman” sebagai alasan untuk mengonsumsinya tanpa batas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kesehatan pencernaan kerupuk rebus seblak Banyuwangi makanan pedas Usus Buntu