Sering Ngemil Manis Tanpa Sadar? Ini yang Bisa Terjadi pada Tubuh

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 11:44 WIB
Kebiasaan menikmati camilan dan minuman manis dapat membuat asupan gula bertambah tanpa disadari. Pembatasan porsi dan frekuensi konsumsi menjadi salah satu langkah menjaga pola makan tetap seimbang. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Kebiasaan menikmati camilan dan minuman manis dapat membuat asupan gula bertambah tanpa disadari. Pembatasan porsi dan frekuensi konsumsi menjadi salah satu langkah menjaga pola makan tetap seimbang. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Camilan manis sering dianggap sebagai makanan kecil yang tidak terlalu berpengaruh terhadap kesehatan. Satu permen, sepotong kue, atau segelas minuman manis terasa sederhana. Masalahnya, konsumsi dapat terus berlanjut karena rasa manis membuat seseorang ingin mengambil porsi berikutnya.

Pengalaman tersebut dirasakan Naufal. Ia mengaku kerap tidak menyadari jumlah makanan manis yang sudah dikonsumsi ketika sedang ngemil.

“Tapi kalau makan makanan manis gitu, nyemil makanan manis tuh enggak kerasa tiba-tiba habis banyak gitu. Kayak bikin candu aja gitu, nagih banget,” ujar Naufal.

Kebiasaan seperti itu patut diperhatikan, terutama jika makanan atau minuman berpemanis dikonsumsi hampir setiap hari. Persoalannya bukan satu kali makan makanan manis kemudian seseorang langsung mengalami penyakit, melainkan akumulasi asupan gula dan energi yang berlangsung dalam jangka panjang.

Rasa manis dapat membuat seseorang ingin mengonsumsi lagi

Makanan dengan rasa manis memberikan sensasi menyenangkan yang berkaitan dengan sistem penghargaan di otak. Sejumlah penelitian mengenai psikologi dan saraf menunjukkan bahwa konsumsi makanan manis dapat merangsang pelepasan dopamin, zat kimia yang berperan dalam mekanisme penghargaan dan rasa senang.

Mekanisme tersebut menjadi salah satu alasan makanan manis mudah menjadi bagian dari kebiasaan. Ketika seseorang terbiasa memperoleh sensasi menyenangkan setelah mengonsumsi makanan tertentu, keinginan untuk mengulanginya dapat muncul kembali.

Karena itu, istilah seperti “nagih” cukup sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun, keinginan kuat mengonsumsi makanan manis tidak otomatis berarti seseorang mengalami kecanduan dalam pengertian diagnosis medis.

Ahli Gizi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan RI, Dwi Setyarini, SKM, M.Gz, RD, juga menjelaskan mengenai hubungan konsumsi gula dengan pengaturan nafsu makan. Gangguan respons tubuh terhadap hormon yang berkaitan dengan rasa kenyang dapat membuat pengendalian asupan makanan menjadi lebih sulit.

Pada saat yang sama, makanan yang kaya karbohidrat sederhana dapat dicerna dan diserap relatif cepat. Kenaikan kadar glukosa darah setelah makan kemudian diikuti proses pengaturan kembali oleh tubuh. Pada sebagian orang, perubahan energi tersebut dapat dirasakan sebagai tubuh yang kembali lelah atau mengantuk.

Bukan hanya soal berat badan

Gula merupakan salah satu sumber energi bagi tubuh. Yang menjadi persoalan adalah ketika asupannya terlalu tinggi dan berlangsung terus-menerus, terlebih jika berasal dari makanan dan minuman yang tinggi kalori tetapi rendah zat gizi lainnya.

Asupan energi yang melebihi kebutuhan tubuh dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kelebihan berat badan dan obesitas meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

Spesialis Endokrinologi Anak sekaligus profesor di University of California, Dr. Robert Lustig, telah lama menyoroti dampak konsumsi gula, terutama fruktosa, terhadap metabolisme. Ia menggunakan istilah “racun kronis” untuk menggambarkan kekhawatirannya terhadap konsumsi gula berlebihan dalam jangka panjang.

Namun, istilah tersebut merupakan karakterisasi Lustig dan tidak sebaiknya dipahami sebagai kesimpulan bahwa seluruh konsumsi gula bersifat racun. Tubuh tetap menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Risiko terutama berkaitan dengan jumlah, sumber, pola konsumsi, serta kondisi kesehatan seseorang.

Penelitian Neuenschwander dan kolega pada 2022 turut menunjukkan hubungan antara pola makan, metabolisme glukosa, dan risiko gangguan kesehatan. Paparan terhadap kondisi metabolik yang tidak sehat secara terus-menerus dapat berkontribusi terhadap munculnya resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel tubuh tidak merespons insulin secara efektif.

Ketika resistensi insulin berkembang, tubuh dapat membutuhkan lebih banyak insulin untuk membantu mengendalikan kadar glukosa darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2.

Hati juga perlu diperhatikan

Kelebihan energi yang tidak digunakan tubuh dapat disimpan dalam bentuk lemak. Dalam kondisi tertentu, penumpukan lemak juga dapat terjadi di hati dan berhubungan dengan penyakit hati berlemak nonalkohol atau Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD).

Konsumsi gula tambahan dalam jumlah tinggi merupakan salah satu faktor pola makan yang perlu diperhatikan dalam persoalan tersebut. Namun, kesehatan hati tidak ditentukan oleh gula saja. Berat badan, aktivitas fisik, keseluruhan pola makan, serta faktor metabolik lainnya juga berperan.

Karena itu, mengurangi minuman dan camilan tinggi gula sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari pola hidup sehat secara keseluruhan, bukan sebagai satu-satunya cara mencegah penyakit.

Risiko juga menyentuh jantung dan gigi

Konsumsi gula tambahan yang tinggi juga menjadi perhatian dalam pencegahan penyakit kardiovaskular. Profesor Nutrisi dan Epidemiologi Harvard T.H. Chan School of Public Health, Dr. Frank Hu, melalui ulasan kesehatan Harvard, membahas kaitan konsumsi gula berlebihan dengan sejumlah faktor risiko, termasuk peningkatan trigliserida, tekanan darah, dan proses peradangan.

Hubungan tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan. Risiko penyakit jantung tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja.

Berbeda dengan jantung, dampak makanan manis terhadap gigi lebih mudah dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Bakteri di dalam mulut dapat memanfaatkan gula dan menghasilkan asam. Paparan asam yang berulang dapat merusak enamel dan meningkatkan risiko karies atau gigi berlubang, terutama jika kebersihan mulut tidak terjaga.

Mengapa minuman manis perlu mendapat perhatian?

Salah satu persoalan dalam konsumsi gula adalah jumlahnya yang terkadang tidak terasa. Ketika gula hadir dalam bentuk minuman, seseorang dapat mengonsumsi banyak kalori tanpa merasa kenyang seperti setelah makan makanan padat.

Segelas minuman berpemanis yang diminum beberapa kali sehari, misalnya, dapat menambah asupan gula secara signifikan. Jika masih ditambah kue, biskuit, permen, atau camilan lainnya, total konsumsi harian semakin mudah melampaui kebutuhan.

Inilah alasan masyarakat perlu memperhatikan bukan hanya gula yang ditambahkan secara langsung ke teh atau kopi, tetapi juga gula yang sudah terdapat dalam makanan dan minuman kemasan maupun sajian siap konsumsi.

Berapa banyak gula yang dianjurkan?

Kementerian Kesehatan RI memberikan panduan pembatasan konsumsi gula maksimal 50 gram per hari atau sekitar empat sendok makan.

Angka tersebut perlu dipahami sebagai batas konsumsi gula secara keseluruhan dalam sehari, bukan jatah empat sendok makan gula yang boleh ditambahkan secara bebas ke dalam makanan atau minuman.

Masyarakat juga perlu memperhatikan bahwa gula dapat berasal dari berbagai sumber. Minuman berpemanis, makanan ringan, kue, saus, produk olahan, hingga makanan yang dikonsumsi sehari-hari dapat menyumbang asupan gula.

Membaca label kandungan gizi pada produk kemasan dapat menjadi langkah sederhana untuk mengetahui seberapa banyak gula yang dikonsumsi.

Tidak perlu menunggu sakit untuk mengurangi gula

Mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis tidak harus dilakukan secara ekstrem. Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengurangi frekuensi minuman berpemanis, memilih air putih sebagai minuman utama, memperkecil porsi camilan manis, serta tidak menjadikan makanan manis sebagai camilan setiap kali merasa bosan atau membutuhkan hiburan.

Bagi masyarakat Banyuwangi, kebiasaan tersebut relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun ketika berkumpul bersama keluarga dan teman.

Yang perlu diubah bukan semata-mata keberadaan makanan manis, tetapi pola konsumsinya. Sesekali menikmati makanan manis berbeda dengan menjadikannya bagian dari menu berkali-kali dalam sehari.

Bahaya konsumsi gula berlebih lebih banyak terletak pada pola yang berlangsung terus-menerus. Apa yang tampak sebagai camilan kecil hari ini dapat menjadi tambahan asupan yang signifikan ketika dilakukan berulang setiap hari.

Karena itu, mengenali kebiasaan makan sendiri dan mulai mengurangi gula secara bertahap menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan metabolisme, berat badan, jantung, hati, dan gigi dalam jangka panjang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
makanan manis konsumsi gula diabetes tipe 2 kesehatan banyuwangi