Dokter Paru Ungkap Risiko Vape, Beralih dari Rokok Belum Tentu Lebih Aman

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 13:29 WIB
Dokter spesialis paru mengingatkan bahwa beralih dari rokok konvensional ke vape tidak otomatis menghilangkan risiko paparan nikotin dan zat lain terhadap saluran pernapasan. (ChatGPT)
Dokter spesialis paru mengingatkan bahwa beralih dari rokok konvensional ke vape tidak otomatis menghilangkan risiko paparan nikotin dan zat lain terhadap saluran pernapasan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Beralih dari rokok konvensional ke vape kerap dianggap sebagai langkah untuk mengurangi risiko kesehatan. Aroma tembakau yang menyengat memang berganti menjadi beragam pilihan rasa, mulai dari buah hingga vanila. Namun, perubahan bentuk dan aroma tersebut tidak otomatis membuat paparan nikotin maupun zat yang terhirup menjadi aman bagi tubuh.

Dokter spesialis paru dr. Jaka Pradipta, Sp.P (K) Onk, Dokter Spesialis Paru Subspesialis Onkologi Toraks, mengingatkan bahwa anggapan vape sebagai solusi merokok yang lebih sehat merupakan salah kaprah yang perlu diluruskan.

"WHO pun sudah menjelaskan bahwa vape ini berbahaya. Hipotesis awalnya kan sebenarnya vape adalah solusi gimana caranya merokok tapi sehat, tetapi sebenarnya banyak gas-gas lain yang tetap kita hisap dan berdampak pada kesehatan," jelas dr. Jaka dalam podcast yang diunggah Everest Media.

Pernyataan tersebut menyoroti persoalan mendasar pada rokok elektronik. Pengguna memang tidak membakar tembakau seperti pada rokok konvensional, tetapi tetap menghirup aerosol yang dihasilkan perangkat. Artinya, berpindah produk tidak sama dengan menghentikan paparan zat yang berpotensi mengganggu kesehatan.

Bukan hanya soal nikotin

Menurut dr. Jaka, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah mekanisme kerja perangkat vape. Cairan dipanaskan menggunakan elemen pemanas berbahan logam untuk menghasilkan aerosol yang kemudian dihirup pengguna.

Proses tersebut menjadi perhatian karena terdapat kemungkinan partikel atau senyawa tertentu yang berasal dari perangkat ikut terbawa dalam aerosol. Jika terhirup berulang kali, paparan tersebut dapat menjadi persoalan bagi kesehatan saluran pernapasan.

Karena itu, anggapan bahwa vape hanya menghasilkan "uap air" tidak tepat. Cairan vape dipanaskan dan menghasilkan aerosol yang dapat membawa berbagai komponen dari cairan maupun perangkat ke dalam saluran pernapasan.

Bahan perisa juga perlu diperhatikan

Daya tarik lain rokok elektronik adalah pilihan rasa yang sangat beragam. Aroma buah, permen, minuman, dan vanila membuat produk tersebut terasa berbeda dari rokok konvensional.

Namun, dr. Jaka mengingatkan bahwa bahan perisa yang dibuat untuk dikonsumsi melalui makanan tidak otomatis aman ketika masuk ke paru-paru melalui proses inhalasi.

Masuknya bahan-bahan tersebut ke saluran pernapasan dapat memicu iritasi dan peradangan. Dengan kata lain, standar keamanan suatu bahan ketika dikonsumsi melalui mulut tidak dapat serta-merta disamakan dengan keamanannya ketika dihirup ke paru-paru.

Salah satu istilah yang sering muncul dalam pembahasan mengenai paparan bahan kimia melalui inhalasi adalah popcorn lung atau bronkiolitis obliterans, yakni gangguan serius pada saluran udara kecil paru-paru. Kondisi tersebut dapat menyebabkan batuk dan gangguan pernapasan, serta kerusakan saluran napas yang pada kasus tertentu bersifat menetap.

Namun, istilah popcorn lung tidak seharusnya digunakan secara serampangan untuk menyatakan bahwa setiap pengguna vape pasti akan mengalami kondisi tersebut. Risiko gangguan paru perlu dilihat berdasarkan jenis zat yang terpapar, konsentrasi, durasi paparan, serta faktor kesehatan masing-masing individu.

Nikotin tetap menjadi persoalan

Selain persoalan saluran pernapasan, vape juga tidak terlepas dari persoalan ketergantungan karena banyak produk rokok elektronik mengandung nikotin.

Nikotin merupakan zat adiktif. Paparan pada usia muda menjadi perhatian khusus karena perkembangan otak masih berlangsung. Dalam materi yang disampaikan dr. Jaka, penggunaan nikotin pada generasi muda dikaitkan dengan gangguan perkembangan otak, penurunan fokus, serta risiko ketergantungan dalam jangka panjang.

Karena itu, mengganti rokok konvensional dengan perangkat elektronik tidak otomatis menyelesaikan persoalan kecanduan nikotin. Seseorang masih dapat mempertahankan ketergantungan meskipun produk yang digunakan telah berubah.

Ketika rokok dan vape digunakan bersamaan

Persoalan lain muncul ketika pengguna tidak benar-benar meninggalkan rokok konvensional. Sebagian orang justru menggunakan kedua produk tersebut dalam waktu berbeda, sebuah pola yang dikenal sebagai dual use.

Misalnya, vape digunakan ketika berada di dalam ruangan, sementara rokok konvensional tetap dikonsumsi ketika berkumpul bersama teman. Dalam situasi seperti ini, perpindahan produk tidak berarti seseorang telah berhenti merokok.

Kondisi tersebut penting diperhatikan oleh mereka yang sejak awal menggunakan vape dengan tujuan meninggalkan rokok. Jika rokok konvensional tetap dikonsumsi, paparan dari produk tembakau masih berlangsung.

Mengganti aroma bukan berarti menghilangkan risiko

Vape menawarkan pengalaman yang berbeda dari rokok konvensional. Tidak ada abu dan aroma tembakau yang kuat, sementara pilihan rasa membuat produk tersebut terlihat lebih ringan bagi sebagian pengguna.

Namun, tampilan dan pengalaman penggunaan tidak dapat dijadikan ukuran keamanan.

Bagi seseorang yang ingin benar-benar mengurangi risiko kesehatan akibat konsumsi nikotin, tujuan akhirnya bukan sekadar mengganti rokok dengan produk lain. Upaya berhenti menggunakan produk nikotin secara menyeluruh tetap menjadi pilihan yang paling sejalan dengan tujuan hidup lebih sehat.

Pesan tersebut menjadi penting terutama bagi masyarakat yang menganggap vape sebagai jalan keluar tanpa risiko dari kebiasaan merokok. Sebelum memutuskan beralih, pengguna perlu memahami bahwa hilangnya bau sangit tembakau bukan berarti hilangnya risiko terhadap tubuh.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kesehatan paru-paru nikotin rokok elektronik vape bahaya vape