RADAR BANYUWANGI — Bagi sebagian perempuan, high heels bukan sekadar pelengkap penampilan. Sepatu hak tinggi kerap menjadi bagian dari pakaian kerja, acara formal, hingga aktivitas sehari-hari. Bentuknya yang membuat kaki tampak lebih jenjang juga sering dianggap mampu meningkatkan rasa percaya diri.
Namun, ada hal yang kerap luput diperhatikan, berapa lama kaki harus bertumpu pada sepatu tersebut?
Ketika high heels digunakan selama berjam-jam dan menjadi kebiasaan setiap hari, kaki tidak lagi bekerja dalam posisi alaminya. Ketinggian tumit membuat beban tubuh bergeser ke bagian depan kaki. Kondisi ini dapat memicu rasa tidak nyaman dan, pada penggunaan berkepanjangan, berkontribusi terhadap sejumlah masalah pada kaki serta perubahan pola berjalan dan postur.
"Penggunaan sepatu hak tinggi yang berlebihan bisa menyebabkan masalah yang sangat serius, seperti rasa sakit yang panjang. Ini karena penggunaan sepatu hak tinggi memaksa kaki kamu berada dalam posisi yang tidak alami," ujar dr. Gracia Yudo dalam unggahan di akun TikTok pribadinya.
Bagian Depan Kaki Menerima Tekanan Lebih Besar
Secara alami, kaki dirancang untuk menopang tubuh ketika berdiri dan berjalan dengan telapak berada pada permukaan yang relatif rata. Penggunaan sepatu dengan tumit tinggi mengubah posisi tersebut.
Tumit yang terangkat membuat tubuh cenderung terdorong ke depan sehingga bagian depan telapak kaki dan jari-jari harus bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan. Setelah digunakan berjam-jam, kondisi tersebut dapat terasa sebagai panas, pegal, nyeri, atau munculnya kapalan akibat tekanan dan gesekan.
Masalah juga dapat terjadi pada jari kaki. Sepatu dengan ruang depan atau toe box yang sempit memberikan tekanan tambahan pada jari. Penggunaan berulang dalam kondisi tersebut dapat berkaitan dengan munculnya bunion, yaitu benjolan pada area pangkal ibu jari, maupun perubahan posisi jari seperti hammer toe.
Artinya, rasa sakit setelah seharian memakai heels tidak selalu sekadar tanda kaki lelah. Jika keluhan berulang atau semakin berat, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Betis dan Tendon Achilles Ikut Menyesuaikan
Dampak pemakaian sepatu hak tinggi juga tidak berhenti pada telapak dan jari.
Ketika tumit terus berada dalam posisi lebih tinggi, otot betis dan tendon Achilles bekerja dalam posisi yang berbeda dibandingkan saat seseorang berjalan tanpa heels atau menggunakan alas kaki bertumit rendah.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, jaringan di sekitar betis dan tendon Achilles dapat menjadi kaku. Tak heran jika sebagian orang merasakan ketidaknyamanan ketika sepatu dilepas dan kaki kembali menapak rata.
Perubahan ini juga dapat memengaruhi cara seseorang berjalan. Tubuh harus terus melakukan penyesuaian agar keseimbangan tetap terjaga selama mengenakan sepatu bertumit tinggi.
Postur Tubuh Bisa Ikut Berubah
Ketika tubuh terdorong ke depan, mekanisme keseimbangan melibatkan lebih dari sekadar kaki. Pinggul dan tulang belakang turut melakukan kompensasi untuk mempertahankan posisi tubuh.
Dalam jangka panjang, kebiasaan berdiri dan berjalan dengan pola tersebut dapat berkontribusi terhadap perubahan postur dan keluhan pada bagian tubuh lain, termasuk punggung dan leher.
Dr. Gracia Yudo juga menyoroti perubahan postur yang dapat terjadi akibat penggunaan sepatu hak tinggi.
"Postur tubuh kamu jadinya enggak seimbang, kamu bisa lebih bungkuk atau bahkan cara berjalan kamu berubah yang akhirnya menyebabkan leher dan punggung kamu sakit. Ini bikin kamu terlihat lebih tua daripada usia kamu yang sebenarnya," tegas dr. Gracia Yudo.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan penggunaan heels bukan hanya mengenai kenyamanan kaki. Ketika cara berjalan dan posisi tubuh berubah, bagian tubuh lain dapat ikut menerima beban kompensasi.
Jika Harus Memakai Heels, Perhatikan Durasi Penggunaan
Tidak semua orang yang menggunakan high heels akan mengalami masalah dengan tingkat keparahan yang sama. Faktor seperti tinggi tumit, bentuk sepatu, ukuran sepatu, kondisi kaki, aktivitas, serta lamanya penggunaan turut berpengaruh.
Bagi perempuan yang memang harus menggunakan sepatu hak tinggi untuk bekerja atau menghadiri kegiatan tertentu, salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah mengurangi durasi pemakaiannya ketika situasi memungkinkan.
Sepatu dengan ruang jari yang cukup juga dapat membantu mengurangi tekanan pada bagian depan kaki. Saat tidak sedang membutuhkan heels, alas kaki yang lebih nyaman dan memberikan ruang gerak bagi jari dapat digunakan.
Selain itu, jangan mengabaikan kondisi kaki setelah sepatu dilepas.
Perawatan Kaki Setelah Seharian Menggunakan Heels
Setelah berjam-jam berada di dalam sepatu, kaki dapat mengalami keringat, kelembapan, tekanan, dan gesekan. Perawatan sederhana dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan sekaligus memberikan rasa nyaman.
Kaki dapat dibersihkan menggunakan sabun berbahan lembut, termasuk pada sela-sela jari. Setelah dicuci, keringkan dengan baik, terutama area yang mudah lembap.
Untuk kulit yang mengalami penebalan atau kapalan, eksfoliasi ringan dapat dilakukan secara berkala. Foot scrub atau batu apung bisa digunakan dengan lembut, tetapi sebaiknya tidak menggosok kulit secara berlebihan karena dapat menyebabkan iritasi atau luka.
Setelah kaki benar-benar kering, pelembap khusus kaki dapat digunakan untuk membantu menjaga kondisi kulit. Produk dengan kandungan seperti urea atau shea butter dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjaga kelembapan kulit.
Merendam kaki dalam air hangat selama beberapa menit juga dapat memberikan sensasi rileks setelah beraktivitas. Jika menggunakan garam Epsom, penggunaannya sebaiknya tidak dianggap sebagai pengobatan untuk cedera atau penyakit tertentu.
Kapan Nyeri Kaki Sebaiknya Diperiksa?
Rasa pegal yang muncul setelah berdiri atau berjalan seharian dapat terjadi. Namun, keluhan yang menetap, berulang, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari patut mendapat perhatian lebih.
Begitu pula jika muncul pembengkakan, perubahan bentuk jari, nyeri yang tidak membaik setelah beristirahat, kesulitan berjalan, atau keluhan pada kaki, betis, punggung, maupun leher yang terus berulang.
Dalam kondisi seperti itu, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.
High heels tetap dapat menjadi bagian dari gaya berpakaian. Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara kebutuhan penampilan dan kondisi tubuh. Sepatu yang membuat penampilan lebih menarik tidak seharusnya membuat rasa sakit menjadi sesuatu yang dianggap normal setiap hari.
Editor : Lugas Rumpakaadi