Bukan Cuma Fisik, Pemkab Banyuwangi Perkuat Deteksi Mental Ibu Hamil

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 08:00 WIB
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kehamilan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Di balik kondisi fisik yang tampak sehat, seorang ibu bisa saja menyimpan kecemasan, kesedihan, atau tekanan psikologis. Karena itu, Pemkab Banyuwangi mulai memperkuat layanan kesehatan jiwa bagi ibu hamil dan pascapersalinan dengan mengintegrasikannya ke pelayanan kesehatan primer di 45 Puskesmas.

Langkah tersebut menempatkan kesehatan mental sebagai bagian tak terpisahkan dari kesehatan ibu. Pemeriksaan kehamilan tidak lagi berhenti pada tekanan darah, kondisi janin, maupun indikator fisik lainnya, tetapi juga diarahkan untuk mengetahui kondisi psikologis dan dukungan sosial yang diterima ibu.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan kesehatan ibu harus dipandang secara utuh. Kondisi psikologis selama kehamilan hingga masa setelah melahirkan turut menentukan kesehatan ibu, bayi, dan keluarga.

“Kita ingin setiap ibu di Banyuwangi tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga merasa aman, didengar, dihargai, dan didukung. Kesehatan mental ibu berpengaruh terhadap bayi, keluarga, dan kualitas generasi yang kita bangun ke depan,” ujar Ipuk.

Penguatan tersebut salah satunya dilakukan melalui On-the-Job Training (OJT) Dukungan Kesehatan Jiwa bagi Ibu Hamil dan Pascapersalinan dalam Program HER Way/SEKAR. Program itu diimplementasikan Yayasan Project HOPE dengan dukungan Kimberly-Clark Corporation bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi.

Tak Selalu Terlihat dari Fisik

Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat menuturkan, kesehatan jiwa ibu hamil dan pascapersalinan perlu mendapat perhatian khusus. Sebab, persoalan psikologis dapat muncul ketika secara kasatmata kondisi fisik ibu terlihat baik-baik saja.

WHO mencatat sekitar 10 persen perempuan hamil dan 13 persen perempuan setelah melahirkan mengalami gangguan mental, terutama depresi. Angkanya diperkirakan lebih tinggi di negara berkembang, yakni 15,6 persen selama kehamilan dan 19,8 persen setelah persalinan.

Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat. Dinkes Banyuwangi sukses menurunkan stunting hingga 2,44 persen lewat program konvergensi. Raih SoJ Award 2026.
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

“Di antara ibu hamil yang setiap hari datang ke fasilitas kesehatan, mungkin secara fisik terlihat baik, tetapi sebagiannya sedang mengalami kecemasan, kesedihan, atau bahkan tekanan psikologis. Inilah yang harus kita ungkap lebih dini,” kata Amir.

Karena itu, pelayanan kesehatan ibu didorong tidak berjalan dalam sekat-sekat. Aspek fisik, mental, dan sosial harus ditangani sebagai satu kesatuan.

Dampaknya pun tidak berhenti pada kondisi ibu. Kesehatan jiwa ibu dapat memengaruhi interaksi dengan bayi, pola pengasuhan, hingga tumbuh kembang anak.

“Kesehatan jiwa harus terintegrasi dalam Antenatal Care (ANC), pelayanan nifas, kunjungan rumah, Posyandu, dan pelayanan kesehatan keluarga. KIA dan kesehatan jiwa harus bekerja sebagai satu tim,” tegas Amir.

Tiga Momentum Penting

Dalam penguatan layanan tersebut, skrining kesehatan jiwa ibu dilakukan pada tiga periode penting. Yakni trimester pertama, trimester ketiga, serta masa nifas pada hari ke-8 hingga ke-28 setelah persalinan.

Salah satu instrumen yang digunakan adalah EPDS (Edinburgh Postnatal Depression Scale). Skrining ini berjalan beriringan dengan standar pelayanan kehamilan minimal enam kali ANC.

Namun, Amir mengingatkan bahwa skrining bukanlah garis akhir. Hasil identifikasi harus diikuti dengan tindakan yang jelas.

Ibu yang teridentifikasi memiliki risiko perlu memperoleh intervensi awal, dukungan psikososial, pemantauan, hingga rujukan apabila dibutuhkan.

“Jangan berhenti pada skrining. Harus jelas siapa yang memberikan dukungan awal, kapan keluarga dilibatkan, kapan ibu harus dirujuk, dan siapa yang memastikan tindak lanjutnya. Prinsipnya sederhana: satu ibu, satu kebutuhan, satu tim yang terintegrasi,” jelas Amir.

Karena itu, setiap Puskesmas diminta memastikan sedikitnya lima hal. Pertama, mengintegrasikan skrining dalam ANC dan pelayanan nifas. Kedua, meningkatkan kompetensi petugas. Ketiga, memastikan jejaring rujukan berjalan.

Keempat, melibatkan keluarga dalam proses pendampingan. Kelima, melakukan monitoring hasil secara terukur.

Ukuran keberhasilan pun tidak cukup hanya dilihat dari jumlah tenaga kesehatan yang telah mengikuti pelatihan. Dinkes ingin melihat berapa ibu yang telah menjalani skrining, berapa yang teridentifikasi berisiko, berapa yang mendapat intervensi, serta berapa yang benar-benar memperoleh tindak lanjut.

45 Puskesmas Jadi Ruang Aman

Bagi Pemkab Banyuwangi, penguatan kesehatan jiwa ibu merupakan bagian dari perubahan pendekatan layanan kesehatan. Perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai pasien yang datang ketika memiliki keluhan, tetapi juga sebagai individu yang perlu didengar dan didampingi sejak masa kehamilan.

Ipuk berharap integrasi tersebut membuat pelayanan kesehatan di Banyuwangi semakin antisipatif, komprehensif, dan berpusat pada kebutuhan perempuan.

“Kita ingin 45 Puskesmas di Banyuwangi menjadi ruang aman bagi setiap perempuan. Ibu tidak hanya diperiksa kehamilannya, tetapi juga didengar, dipahami, didampingi, dan ketika ditemukan masalah segera mendapatkan pertolongan,” pungkas Ipuk. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Puskesmas Banyuwangi Kesehatan Ibu depresi ibu ibu hamil kesehatan jiwa