RADAR BANYUWANGI – Tali pusat bayi bukan tempat untuk mencoba berbagai ramuan. Justru, semakin banyak bahan yang dioleskan, semakin besar pula risiko kuman masuk dan memicu infeksi. Karena itu, RSUD Blambangan Banyuwangi memperkuat edukasi kepada keluarga bayi agar melakukan perawatan tali pusat secara bersih, kering, dan sesuai standar medis sejak hari pertama kehidupan.
Edukasi tersebut diberikan kepada keluarga sebelum ibu dan bayi diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pencegahan infeksi sekaligus membekali orang tua agar mampu merawat tali pusat secara mandiri di rumah.
Tali pusat merupakan bagian tubuh bayi yang masih rentan terhadap paparan kuman. Perawatannya pun sebenarnya tidak rumit. Prinsip utama yang ditekankan tenaga kesehatan adalah menjaga area tersebut tetap bersih dan kering.
Keluarga juga diingatkan untuk tidak mengoleskan berbagai bahan seperti minyak, bedak, daun, abu, maupun ramuan tradisional lainnya. Kebiasaan yang masih ditemukan di masyarakat tersebut kerap dilakukan dengan harapan tali pusat lebih cepat lepas.
Padahal, praktik tersebut justru dapat membawa risiko. Bahan yang tidak steril berpotensi menjadi media masuknya bakteri sehingga memicu infeksi dan mengganggu proses penyembuhan alami tali pusat.
Kepala Ruang Sayu Wiwit RSUD Blambangan, Tika Rahmayanti, S.Keb., Bdn, mengatakan edukasi sebelum pasien pulang menjadi bagian penting agar keluarga tidak ragu ketika melakukan perawatan di rumah.
“Dengan edukasi yang benar dan tepat sebelum pasien pulang, kami berharap keluarga dapat melakukan perawatan tali pusat secara mandiri di rumah dengan cara yang benar,” ujar Tika.
Menurut dia, tujuan utama edukasi tersebut adalah mencegah infeksi akibat kesalahan dalam merawat tali pusat. Pengetahuan yang diberikan secara langsung juga diharapkan meningkatkan kepercayaan diri, khususnya bagi ibu yang baru pertama kali memiliki bayi.
Dengan memahami cara perawatan yang sesuai standar medis, orang tua tidak mudah mengikuti kebiasaan yang belum tentu aman. Mereka juga memiliki bekal untuk memantau kondisi tali pusat setelah bayi berada di rumah.
Plt Direktur RSUD Blambangan, dr. Asiyah, menambahkan keluarga memiliki peran penting dalam mencegah infeksi sejak bayi lahir. Edukasi tidak hanya berkaitan dengan cara merawat tali pusat, tetapi juga kemampuan orang tua mengenali tanda-tanda bahaya.
Beberapa kondisi yang perlu segera diperhatikan antara lain kemerahan yang semakin meluas, pembengkakan, keluarnya nanah, munculnya bau tidak sedap dari area tali pusat, hingga bayi mengalami demam.
Pengenalan tanda bahaya tersebut penting karena kondisi bayi dapat berubah dengan cepat. Ketika gejala infeksi mulai muncul, keluarga diharapkan tidak menunggu kondisi semakin parah dan segera membawa bayi untuk mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Upaya RSUD Blambangan ini sekaligus memperkuat pendekatan promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan. Keluarga tidak hanya menjadi penerima layanan ketika bayi sakit, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian dari upaya pencegahan sejak awal.
Hal tersebut sejalan dengan arahan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani agar layanan kesehatan semakin diperkuat pada aspek promotif dan preventif, termasuk pemantauan kesehatan bayi secara aktif.
Sebab, menjaga kesehatan bayi tidak selalu dimulai ketika muncul keluhan. Dalam banyak kasus, pencegahan justru dimulai dari hal sederhana di rumah—termasuk memastikan tali pusat dirawat dengan cara yang tepat, tanpa tambahan bahan yang tidak diperlukan. (*)
Editor : Ali Sodiqin