RADAR BANYUWANGI - Cegukan merupakan kondisi yang umum dialami hampir semua orang. Biasanya, gangguan ini hanya berlangsung beberapa menit dan kemudian menghilang tanpa memerlukan penanganan khusus.
Namun, kondisi berbeda perlu diperhatikan ketika cegukan muncul terus-menerus selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Dalam keadaan tersebut, cegukan tidak sebaiknya dianggap sebagai gangguan ringan semata karena bisa berkaitan dengan masalah kesehatan tertentu.
Secara medis, cegukan atau singultus terjadi ketika otot diafragma mengalami kontraksi secara tiba-tiba. Diafragma merupakan lapisan otot yang berada di antara rongga dada dan perut serta berperan penting dalam proses pernapasan.
Kontraksi tersebut kemudian diikuti oleh penutupan pita suara secara refleks. Proses inilah yang menghasilkan suara khas yang terdengar saat seseorang mengalami cegukan.
Dokter umumnya membedakan cegukan berdasarkan lamanya berlangsung. Cegukan yang bertahan lebih dari tiga jam dapat dikategorikan sebagai cegukan persisten. Sementara itu, apabila berlangsung lebih dari dua hari, kondisi tersebut disebut sebagai cegukan kronis.
Semakin lama cegukan berlangsung, semakin penting pula penyebabnya untuk diketahui. Cegukan berkepanjangan dapat berhubungan dengan gangguan pada sejumlah bagian tubuh, termasuk tenggorokan, kerongkongan, lambung, paru-paru, hingga otak.
Beberapa kondisi medis juga disebut dapat berkaitan dengan cegukan yang berlangsung lama. Di antaranya gangguan pada sistem saraf pusat, gangguan pencernaan, diabetes, gagal ginjal, serta kondisi tertentu yang berhubungan dengan jantung.
“Cegukan yang berlangsung lama bukan sekadar mengganggu kenyamanan, tetapi perlu diperiksa untuk memastikan penyebabnya dan mencegah komplikasi yang lebih serius,” demikian pesan yang perlu menjadi perhatian ketika cegukan tidak kunjung berhenti.
Dampak cegukan berkepanjangan juga tidak sebatas rasa tidak nyaman. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat mengganggu pola tidur dan membuat seseorang mengalami kesulitan saat makan.
Dalam kondisi tertentu, cegukan kronis juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan malnutrisi. Refluks asam lambung ke kerongkongan pun dapat muncul sebagai salah satu masalah yang menyertai cegukan berkepanjangan.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung khawatir setiap kali mengalami cegukan. Sebagian besar kasus cegukan tetap bersifat ringan dan tidak berbahaya.
Pemicu yang lebih umum justru dapat berasal dari kebiasaan sehari-hari. Makan terlalu banyak atau terlalu cepat, misalnya, dapat memicu munculnya cegukan. Begitu pula dengan konsumsi makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin.
Kebiasaan menelan udara ketika makan serta terlalu banyak mengonsumsi minuman bersoda juga termasuk pemicu yang umum.
Cegukan sendiri bukan kondisi yang hanya dialami orang dewasa. Bayi bahkan dapat mengalami cegukan ketika masih berada di dalam kandungan.
Yang perlu menjadi perhatian adalah durasinya. Ketika cegukan tidak berhenti selama berjam-jam hingga berhari-hari, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebab yang mendasarinya.
Editor : Lugas Rumpakaadi