RSUD Blambangan Tegaskan Komitmen Layani ODHIV Tanpa Stigma

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 17:59 WIB
PROFESIONAL: Petugas medis RSUD Blambangan melayani konseling dan pemeriksaan HIV secara aman dan rahasia. (Foto: Putri RSUD Blambangan)
PROFESIONAL: Petugas medis RSUD Blambangan melayani konseling dan pemeriksaan HIV secara aman dan rahasia. (Foto: Putri RSUD Blambangan)

RADAR BANYUWANGI – Bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHIV), layanan kesehatan bukan sekadar soal obat dan pemeriksaan. RSUD Blambangan Banyuwangi memastikan setiap pasien mendapatkan ruang yang aman, rahasia, humanis, sekaligus pendampingan berkelanjutan melalui layanan VCT dan CST. Pendekatan tersebut menyatukan kebutuhan medis, psikologis, hingga sosial pasien dalam satu layanan yang terintegrasi.

Komitmen itu diwujudkan melalui voluntary counseling and testing (VCT) serta care, support, and treatment (CST). Dua layanan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya RSUD Blambangan memberikan pelayanan HIV/AIDS yang tidak berhenti pada diagnosis, tetapi berlanjut pada pengobatan dan pendampingan.

Melalui VCT, masyarakat dapat memperoleh konseling dan pemeriksaan HIV secara aman serta rahasia. Proses tersebut didampingi dr Titah Palupi yang memberikan pelayanan profesional dengan mengedepankan kebutuhan pasien.

VCT juga menjadi pintu penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Edukasi mengenai pencegahan, deteksi dini, hingga pentingnya mengetahui status HIV diberikan sebagai bagian dari pelayanan.

Lebih dari itu, pendekatan tersebut diharapkan turut membantu mengikis stigma dan diskriminasi yang masih menjadi tantangan bagi ODHIV.

Tak Berhenti pada Pemeriksaan

Bagi pasien yang telah mendapatkan diagnosis HIV, RSUD Blambangan menyediakan layanan CST untuk memastikan proses perawatan berjalan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Pendampingan mencakup pemeriksaan serta pemantauan kondisi kesehatan, pemberian terapi antiretroviral (ARV) sesuai indikasi, edukasi mengenai kepatuhan pengobatan, hingga dukungan psikososial.

Pelayanan tersebut dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan berbagai profesi kesehatan. Dengan pola itu, kebutuhan pasien tidak ditangani secara parsial, melainkan dilihat secara utuh sesuai kondisi dan kebutuhannya.

Pendekatan humanis menjadi fondasi dalam setiap tahapan pelayanan. Martabat, privasi, kerahasiaan, serta hak pasien untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan menjadi bagian yang terus dijaga.

Artinya, pasien tidak hanya datang untuk mendapatkan pemeriksaan atau terapi. Mereka juga mendapatkan dukungan agar mampu menjalani proses perawatan tanpa harus berhadapan dengan perlakuan berbeda.

Membangun Ruang Aman bagi Semua

Plt Direktur RSUD Blambangan dr Asiyah mengatakan layanan VCT dan CST menjadi bagian dari upaya rumah sakit memperkuat peran dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Menurut dia, pelayanan kesehatan harus mampu menghadirkan ruang yang inklusif dan berorientasi pada pasien. Karena itu, aspek mutu pelayanan berjalan beriringan dengan keramahan, integrasi layanan, serta penghormatan terhadap hak pasien.

Melalui layanan tersebut, RSUD Blambangan terus mendorong terwujudnya pelayanan kesehatan yang bermutu, ramah, terintegrasi, dan berkesinambungan.

Komitmen itu juga sejalan dengan arahan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. RSUD Blambangan diharapkan menjadi ruang aman bagi setiap orang yang membutuhkan informasi, pemeriksaan, pengobatan, maupun pendampingan terkait HIV/AIDS.

Pesannya jelas: tidak boleh ada rasa takut ataupun perlakuan berbeda ketika seseorang datang untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Pada akhirnya, keberadaan VCT dan CST di RSUD Blambangan bukan hanya tentang bagaimana HIV ditangani secara medis. Lebih jauh, layanan tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan pelayanan yang melihat pasien sebagai manusia secara utuh—dengan kebutuhan kesehatan, psikologis, sosial, serta hak atas privasi dan penghormatan. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
HIV Banyuwangi Layanan VCT Layanan CST ODHIV Banyuwangi rsud blambangan