Nasi Hangat atau Dingin, Mana yang Lebih Cepat Menaikkan Gula Darah? Ini Penjelasannya

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Senin, 31 Agustus 2026 | 11:57 WIB
Nasi putih yang didinginkan mengalami perubahan sebagian struktur pati menjadi pati resisten. Kondisi ini membuat indeks glikemiknya dapat lebih rendah dibandingkan nasi yang masih hangat, meski kandungan karbohidrat dan kalorinya tetap ada. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Nasi putih yang didinginkan mengalami perubahan sebagian pada struktur pati menjadi pati resisten. Kondisi ini membuat indeks glikemiknya dapat lebih rendah dibandingkan dengan nasi yang masih hangat, meski kandungan karbohidrat dan kalorinya tetap ada. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Bagi banyak orang, nasi yang baru matang dan masih hangat terasa lebih nikmat disantap.

Namun, kebiasaan tersebut mulai diubah oleh sebagian orang yang berupaya menjaga kadar gula darah.

Salah satunya adalah Miriyanto, yang kini memilih mendinginkan nasi sebelum memakannya.

Keputusan itu tidak serta-merta mudah diambil.

Miriyanto mengaku sebelumnya terbiasa menikmati nasi dalam kondisi hangat, tetapi kemudian mencoba mengubah kebiasaan tersebut setelah mengetahui adanya perbedaan respons gula darah antara nasi hangat dan nasi yang telah didinginkan.

"Aku mulai membiasakan diri makan nasi yang sudah didinginkan setelah mendengar nasi hangat cepat bikin gula darah melonjak. Awalnya terasa aneh karena terbiasa makan yang hangat-hangat, tapi demi menjaga gula darah tetap stabil ya dijalani aja," ujar Miriyanto.

Kebiasaan sederhana tersebut ternyata memiliki penjelasan dari sisi ilmu pangan dan kesehatan.

Nasi putih yang telah matang kemudian didinginkan mengalami perubahan pada sebagian struktur patinya.

Proses ini dikenal sebagai retrogradasi.

Menurut penjelasan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), sebagian pati pada nasi yang didinginkan dapat berubah menjadi pati resisten atau resistant starch.

Jenis pati ini lebih sulit dicerna oleh tubuh dibandingkan dengan pati yang lebih mudah diurai.

Perubahan tersebut berkaitan dengan respons gula darah setelah makan.

Pati yang lebih sulit dicerna dapat membuat proses pemecahan dan penyerapan karbohidrat berlangsung lebih lambat.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) juga menjelaskan bahwa nasi putih yang masih hangat memiliki indeks glikemik lebih tinggi dibandingkan nasi yang telah didinginkan.

Indeks glikemik berkaitan dengan seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat meningkatkan kadar glukosa darah.

Dengan indeks glikemik yang lebih rendah, nasi dingin berpotensi menyebabkan kenaikan gula darah yang lebih bertahap.

Halodoc juga menjelaskan bahwa pembentukan pati resisten dapat memperlambat pelepasan glukosa ke dalam aliran darah, sehingga lonjakan gula darah setelah makan dapat berkurang.

Namun, ada satu hal yang sering disalahpahami.

Nasi dingin tidak berarti memiliki kandungan kalori dan karbohidrat yang lebih sedikit.

Alodokter menjelaskan bahwa jumlah kalori dan karbohidrat pada nasi hangat dan nasi dingin pada dasarnya tetap sama.

Perubahan yang terjadi terutama berkaitan dengan struktur sebagian pati, bukan hilangnya kandungan karbohidrat dari nasi tersebut.

Karena itu, seseorang tidak bisa menganggap nasi dingin sebagai makanan yang bebas risiko bagi kadar gula darah.

Jumlah nasi yang dikonsumsi tetap menjadi faktor penting.

Porsi Tetap Menjadi Kunci

Bagi orang yang sedang mengendalikan gula darah, mengganti nasi hangat dengan nasi yang telah didinginkan sebaiknya tidak berdiri sendiri.

Porsi makan tetap perlu diperhatikan, demikian pula komposisi makanan secara keseluruhan.

Nasi yang sudah didinginkan tetap mengandung karbohidrat.

Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, asupan karbohidrat yang masuk ke tubuh tetap dapat memengaruhi kadar glukosa darah.

Karena itu, nasi sebaiknya dikonsumsi dalam porsi yang sesuai kebutuhan dan disertai makanan lain yang seimbang.

Pengaturan pola makan juga perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing, terutama bagi orang yang telah didiagnosis diabetes.

Dengan kata lain, manfaat potensial dari pati resisten tidak berarti nasi dingin dapat menggantikan pengaturan makan, aktivitas fisik, maupun pengobatan yang telah dianjurkan tenaga kesehatan.

Jangan Abaikan Cara Menyimpan Nasi

Selain persoalan gula darah, ada aspek lain yang tidak kalah penting ketika seseorang memilih menyimpan nasi untuk dimakan kemudian, yakni keamanan pangan.

Nasi matang yang dibiarkan atau disimpan dengan cara yang tidak tepat dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri tertentu.

Karena itu, nasi yang hendak didinginkan perlu ditangani secara higienis dan disimpan dengan benar.

Penggunaan wadah yang bersih dan tertutup serta penyimpanan dalam lemari pendingin dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan nasi sebelum dikonsumsi kembali.

Nasi juga sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang.

Artinya, kebiasaan makan nasi dingin tidak cukup hanya dengan menunggu nasi menjadi dingin.

Cara setelah nasi matang hingga waktu dikonsumsi kembali juga perlu diperhatikan.

Bukan Sekadar Memilih Nasi Hangat atau Dingin

Bagi masyarakat Banyuwangi yang terbiasa menjadikan nasi sebagai sumber karbohidrat utama, perubahan kecil seperti mendinginkan nasi sebelum dikonsumsi mungkin terlihat sederhana.

Namun, kebiasaan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks pola makan secara keseluruhan.

Nasi yang telah didinginkan memang dapat memiliki indeks glikemik lebih rendah karena sebagian patinya berubah menjadi pati resisten.

Kondisi itu berpotensi membuat kenaikan glukosa darah berlangsung lebih lambat.

Tetapi, kandungan kalori dan karbohidratnya tidak otomatis berkurang.

Porsi tetap harus dikendalikan dan keamanan penyimpanan harus diperhatikan.

Bagi penderita diabetes, keputusan mengubah pola makan juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Tidak ada satu jenis nasi atau satu kebiasaan makan yang dapat menjadi solusi tunggal untuk mengendalikan diabetes.

Persoalannya bukan sekadar memilih nasi hangat atau nasi dingin.

Yang lebih penting adalah bagaimana nasi tersebut menjadi bagian dari pola makan yang porsinya terukur, komposisinya seimbang, serta diolah dan disimpan dengan aman.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Rumah Sakit Pusat Pertamina, Halodoc, Alodokter
nasi dingin indeks glikemik pati resisten diabetes gula darah