RADAR BANYUWANGI – Keamanan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banyuwangi terus diperketat. Dari total 160 dapur MBG, sebanyak 135 dapur telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan beroperasi, sementara 25 dapur lainnya masih menyelesaikan administrasi sebelum mulai beroperasi.
Pengawasan tidak berhenti setelah sertifikat diterbitkan. Dinas Kesehatan Banyuwangi memastikan dapur MBG dipantau secara berkala untuk menjaga keamanan makanan, mulai dari bahan baku, peralatan, penjamah makanan hingga proses produksi dan distribusi.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat melalui Kepala UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Banyuwangi Kusriono mengatakan, pemantauan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan makanan yang disajikan kepada penerima MBG tetap aman dikonsumsi.
“Pemantauan terhadap makanan, penjamah, peralatan, hingga bahan baku dilakukan secara berkala,” kata Kusriono.
Menurut dia, pemeriksaan terhadap berbagai aspek tersebut sebenarnya telah dilakukan saat dapur mengurus SLHS. Namun, pengawasan tetap diperlukan setelah dapur beroperasi. Khusus penjamah makanan, pemeriksaan dilakukan setiap enam bulan sekali.
Di sisi lain, Kusriono mengingatkan pengelola dapur MBG agar memperhatikan jeda antara makanan selesai diproduksi dan waktu penyajian. Makanan yang terlalu lama berada dalam kondisi tertentu berisiko menjadi tempat berkembangnya bakteri.
“Kalau bisa tidak terlalu lama. Maksimal empat jam sejak produksi, karena bakteri bisa berkembang,” ujarnya.
Karena itu, pengelolaan waktu menjadi salah satu kunci dalam distribusi makanan MBG. Makanan harus diproduksi, dikirim, dan disajikan dengan jeda waktu yang terkendali agar kualitas serta keamanannya tetap terjaga.
Untuk makanan yang membutuhkan pengendalian suhu, distribusi juga dapat menerapkan sistem rantai dingin atau cold chain. Suhu ideal yang disebut Kusriono berada pada kisaran 2–8 derajat Celsius.
“Saya belum tahu untuk pengiriman apa sudah menggunakan standar itu, tapi kualitasnya akan lebih baik jika dijaga di suhu itu,” jelasnya.
Pengawasan terhadap dapur MBG dilakukan secara berkelanjutan. Ke depan, pengecekan berkala dapat melibatkan petugas puskesmas. Sanitarian di tingkat kabupaten juga melakukan inspeksi rutin untuk memastikan standar higiene sanitasi tetap dijalankan.
“Sanitarian Puskesmas melakukan inspeksi rutin satu bulan sekali. Kita ambil sampel yang memiliki risiko penularan,” terang Kusriono.
Sampel dapat diambil dari makanan maupun bagian tertentu dalam proses produksi yang dinilai memiliki risiko kontaminasi atau penularan penyakit. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan sekaligus deteksi dini apabila terdapat persoalan dalam pengelolaan makanan.
Kusriono menegaskan, pengawasan bukan ditujukan semata-mata untuk mencari kesalahan pengelola dapur. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kualitas makanan MBG tetap memenuhi standar keamanan pangan.
Namun, apabila ditemukan persoalan serius, termasuk dugaan keracunan makanan, operasional unit terkait dapat dihentikan sementara atau di-suspend untuk dilakukan evaluasi.
“Kalau ada temuan keracunan tetap bisa di-suspend,” pungkasnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin