RADAR BANYUWANGI – Capek mental bisa datang diam-diam. Bukan sekadar tubuh yang terasa lelah, kondisi ini dapat ditandai sulit fokus, kehilangan energi untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai, mudah tersinggung, hingga mengalami gangguan tidur. Ketika mulai mengganggu aktivitas, hubungan sosial, dan kualitas hidup, kelelahan mental perlu mendapat perhatian dan tidak seharusnya ditanggung sendirian.
Psikolog RSUD Genteng Ratna Azkia Rakhmandari SPsi MPsi Psikolog mengatakan, kelelahan mental atau mental fatigue dapat dialami siapa saja ketika pikiran dan emosi terus-menerus berada dalam tekanan.
Masalahnya, tanda-tanda capek mental sering dianggap sebagai kelelahan biasa. Padahal, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari maupun kondisi emosional dapat menjadi sinyal bahwa seseorang sedang membutuhkan jeda atau dukungan.
“Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain sulit fokus, merasa tidak memiliki energi untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai, mudah marah atau tersinggung karena hal-hal kecil, serta mengalami kesulitan tidur,” ujar Ratna.
Ingin Menjauh dari Lingkungan Juga Bisa Jadi Tanda
Selain perubahan emosi dan pola aktivitas, kelelahan mental juga dapat membuat seseorang merasa ingin menghilang atau menjauh sejenak dari lingkungan tanpa alasan yang jelas.
Keinginan menarik diri karena interaksi sosial terasa melelahkan, menurut Ratna, juga patut diperhatikan. Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang sedang tidak ingin bersosialisasi. Bisa jadi, energi mentalnya sedang terkuras sehingga interaksi dengan orang lain terasa lebih berat.
Karena itu, mengenali perubahan pada diri sendiri menjadi langkah penting. Termasuk ketika seseorang mulai kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan, lebih mudah tersulut emosi, atau pola tidurnya berubah.
Ratna menegaskan, mengalami capek mental bukan berarti seseorang lemah. Sebaliknya, kesadaran untuk mengenali perubahan kondisi diri merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.
“Jangan menganggap semua keluhan sebagai hal yang harus ditanggung sendiri. Ketika kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas, hubungan sosial, maupun kualitas hidup, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional,” jelasnya.
Dukungan Orang Terdekat Bisa Membantu
Perhatian terhadap kesehatan mental juga tidak hanya ditujukan kepada diri sendiri. Keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam membantu seseorang yang sedang menghadapi masa sulit.
Dukungan sederhana, seperti mendengarkan tanpa menghakimi dan memberi ruang untuk beristirahat, dapat menjadi bagian dari proses seseorang untuk kembali menjalani aktivitas dengan lebih baik.
Namun, ketika keluhan terus berlangsung dan mulai berdampak pada kehidupan sehari-hari, bantuan profesional menjadi langkah yang layak dipertimbangkan.
Masyarakat yang membutuhkan dukungan profesional terkait berbagai keluhan psikologis dapat memanfaatkan layanan Poli Psikolog RSUD Genteng.
Layanan konsultasi tersedia Senin–Kamis pukul 07.00–14.00 WIB, Jumat pukul 07.00–10.30 WIB, dan Sabtu pukul 07.00–12.30 WIB.
Menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan kondisi tubuh. Pikiran dan emosi juga membutuhkan perhatian. Mengenali tanda capek mental sejak awal, memberi ruang untuk beristirahat, serta mencari bantuan ketika keluhan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh. (*)
Editor : Ali Sodiqin