Anak dan Remaja Tak Luput dari Ancaman Diabetes, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya Sejak Dini

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:03 WIB
Aktivitas fisik dan pola makan seimbang perlu dibiasakan sejak dini sebagai bagian dari upaya menurunkan risiko diabetes pada anak dan remaja. (ChatGPT)
Aktivitas fisik dan pola makan seimbang perlu dibiasakan sejak dini sebagai bagian dari upaya menurunkan risiko diabetes pada anak dan remaja. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Kasus diabetes di Indonesia tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut.

Anak-anak dan remaja kini turut menghadapi risiko gangguan metabolisme tersebut, terutama diabetes tipe 2 yang berkaitan erat dengan perubahan pola hidup.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kebiasaan makan dan aktivitas sehari-hari pada usia muda dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.

Berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang disampaikan dalam materi rujukan, sekitar 15 persen dari rata-rata penderita diabetes di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 20 tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pencegahan perlu dilakukan sejak masa kanak-kanak, bukan menunggu hingga seseorang memasuki usia dewasa.

Diabetes tipe 1 pada anak dapat berkaitan dengan faktor genetik dan proses autoimun.

Sementara itu, meningkatnya diabetes tipe 2 pada usia muda banyak dikaitkan dengan pola hidup yang kurang sehat.

Konsumsi makanan olahan dan minuman tinggi gula, rendahnya aktivitas fisik, penggunaan gawai secara berlebihan, serta masalah berat badan menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin.

Kebiasaan sehari-hari memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.

Anak yang terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman manis, tetapi jarang bergerak, berpotensi memiliki pola hidup yang kurang mendukung kesehatan.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas dan gangguan pengaturan gula darah.

Praktisi kesehatan sekaligus Kepala IGD, dr. Gia Pratama, menekankan bahwa pencegahan diabetes perlu dimulai dari perubahan gaya hidup.

Menurutnya, pengendalian asupan gula harus berjalan beriringan dengan aktivitas fisik untuk membentuk massa otot yang memadai.

“Ketika kita meningkatkan massa otot lewat aktivitas fisik, otot menjadi tempat penampungan gula utama tubuh. Semakin baik massa otot seseorang, respons tubuh terhadap insulin juga semakin bagus,” jelas dr. Gia Pratama dalam sesi edukasi kesehatan di akun YouTube Raditya Dika.

Selain memperhatikan konsumsi gula, aktivitas fisik menjadi bagian penting dalam pencegahan diabetes.

Orang tua dapat membangun kebiasaan sederhana dengan mengajak anak berjalan kaki, bersepeda, bermain di luar rumah, atau melakukan olahraga yang sesuai dengan usia dan kondisi fisiknya.

Rutinitas tersebut juga dapat membantu mengurangi waktu sedentari yang terlalu panjang akibat penggunaan gawai.

Orang tua juga perlu mengenali tanda-tanda awal diabetes pada anak dan remaja.

Beberapa gejala yang patut diperhatikan antara lain rasa haus yang berlebihan, frekuensi buang air kecil yang meningkat, mudah merasa lapar, serta penurunan berat badan secara tiba-tiba.

Gejala tersebut tidak sebaiknya diabaikan karena diabetes yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi kondisi yang serius.

Dalam sejumlah kasus, diabetes pada anak dan remaja baru diketahui setelah muncul komplikasi akut, termasuk ketoasidosis diabetikum.

Karena itu, pengenalan gejala dan pemeriksaan kesehatan menjadi langkah penting, terutama pada anak yang memiliki faktor risiko seperti obesitas atau riwayat keluarga dengan diabetes.

Upaya pencegahan dapat dimulai dari lingkungan keluarga.

Asupan harian anak perlu diperhatikan dengan membatasi makanan ultra-proses dan minuman tinggi gula, sekaligus memperbanyak pilihan makanan bergizi seimbang.

Kebiasaan bergerak secara rutin juga perlu dijadikan bagian dari kegiatan sehari-hari, bukan sekadar aktivitas sesekali.

Imbauan IDAI dan Kemenkes dalam informasi rujukan juga menekankan pentingnya aktivitas fisik setidaknya 30 menit setiap hari serta pemantauan kadar gula darah secara berkala bagi anak yang memiliki faktor risiko tertentu.

Pemeriksaan dapat menjadi sarana deteksi dini sehingga gangguan kesehatan dapat ditangani sebelum berkembang lebih jauh.

Bagi keluarga di Banyuwangi, pencegahan diabetes pada anak dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah.

Mengurangi minuman manis, menyediakan makanan yang lebih seimbang, membatasi waktu duduk dan penggunaan gawai, serta mengajak anak aktif bergerak merupakan langkah yang dapat dilakukan secara konsisten.

Ancaman diabetes pada usia muda tidak hanya menyangkut angka kasus, tetapi juga masa depan kualitas hidup generasi berikutnya.

Semakin dini pola hidup sehat dibentuk, semakin besar peluang anak tumbuh dengan kebiasaan yang mendukung kesehatan metabolik hingga dewasa.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : YouTube Raditya Dika
diabetes anak