Sering Tertidur di Sofa Sambil Main HP? Hati-Hati, Kebiasaan yang Terasa Nyaman Ini Bisa Picu Nyeri Leher, Punggung, Gangguan Tidur, hingga Kesemutan

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 12:55 WIB
Tertidur di sofa sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Posisi tidur yang terbatas dapat memicu ketegangan otot, menurunkan kualitas istirahat, serta meningkatkan paparan debu dan tungau. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Tertidur di sofa sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Posisi tidur yang terbatas dapat memicu ketegangan otot, menurunkan kualitas istirahat, serta meningkatkan paparan debu dan tungau. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Sofa kerap menjadi tempat paling nyaman untuk bersantai. Sambil bermain ponsel, menonton televisi, atau sekadar melepas lelah, seseorang bisa tanpa sadar terlelap. Masalahnya, kebiasaan itu dapat berubah menjadi rutinitas tidur hingga pagi yang justru membawa sejumlah risiko kesehatan.

Tidur di sofa tidak sama dengan beristirahat di kasur yang memang dirancang untuk menopang tubuh saat tidur. Posisi tubuh yang tidak ideal selama berjam-jam dapat membuat leher, punggung, hingga bagian tubuh lain bekerja dalam posisi yang kurang nyaman.

Dalam penjelasan yang dikutip dari KlikDokter, dr. Arina Heidyana menerangkan bahwa tidur di sofa berpotensi membuat tulang belakang berada dalam posisi tidak sejajar. Struktur sofa yang dirancang untuk aktivitas duduk dapat memicu ketegangan pada otot leher dan punggung ketika digunakan sebagai tempat tidur dalam waktu lama.

Keluhan tersebut dirasakan Rahma, 16, seorang pelajar yang mengaku beberapa kali ketiduran di sofa setelah bermain ponsel.

“Awalnya cuma mau santai sambil main HP di sofa karena nyaman banget. Tapi malah keasyikan sampai tiba-tiba ketiduran, dan pas bangun-bangun leher rasanya kaku terus badan sakit semua,” ungkapnya.

Bukan hanya soal postur. Ruang gerak yang terbatas di atas sofa juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Mengutip pembahasan Kompas.com, kondisi sofa yang sempit membuat tubuh tidak leluasa mengubah posisi ketika tidur. Akibatnya, seseorang lebih mudah terbangun pada malam hari tanpa menyadarinya.

Kebiasaan tersebut juga berkaitan dengan kebersihan permukaan sofa. Material berbahan kain dapat menyimpan debu, tungau, maupun kotoran yang berasal dari aktivitas sehari-hari. Pada orang yang sensitif, kondisi itu berpotensi memicu gangguan pernapasan atau iritasi pada kulit.

Ada sejumlah risiko yang patut diperhatikan ketika tidur di sofa menjadi kebiasaan.

Pertama, nyeri punggung dan leher. Posisi tubuh yang melengkung atau tidak sejajar dapat memberi tekanan pada tulang belakang serta memicu ketegangan, kram, dan nyeri otot.

Kedua, kualitas tidur dapat menurun. Sofa di ruang yang lebih terbatas membuat pergerakan alami saat tidur terganggu. Tidur yang sering terputus pun bisa membuat tubuh terasa tetap lelah ketika pagi tiba.

Ketiga, muncul risiko alergi dan iritasi kulit. Debu serta tungau yang menempel pada permukaan sofa dapat menjadi pemicu keluhan tertentu, khususnya bagi mereka yang sensitif terhadap alergen.

Keempat, sirkulasi darah dapat terganggu. Posisi kaki atau tubuh yang terlalu lama tertekuk karena keterbatasan ruang berpotensi membuat aliran darah tidak optimal, ditandai dengan sensasi kesemutan atau kebas.

Karena itu, sofa sebaiknya tetap digunakan sesuai fungsinya sebagai tempat duduk dan bersantai. Ketika rasa kantuk mulai datang, berpindah ke kasur merupakan pilihan yang lebih tepat untuk menjaga posisi tubuh dan memperoleh waktu istirahat yang lebih berkualitas.

Kebiasaan sederhana tersebut juga dapat menjadi langkah untuk mencegah keluhan yang muncul berulang akibat posisi tidur yang tidak ideal. Nyaman sesaat di sofa jangan sampai berubah menjadi masalah kesehatan karena dilakukan setiap hari.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : KlikDokter, Kompas.com
kualitas tidur tertidur di sofa risiko tidur di sofa nyeri leher dan punggung kesehatan