Sering Menahan Kencing? Dokter Ungkap Dampaknya bagi Kandung Kemih hingga Ginjal

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 17:29 WIB
Sering menahan buang air kecil dapat mengganggu pengosongan kandung kemih dan meningkatkan risiko ISK. (Pexels/Miriam Alonso)
Sering menahan buang air kecil dapat mengganggu pengosongan kandung kemih dan meningkatkan risiko ISK. (Pexels/Miriam Alonso)

RADAR BANYUWANGI – Sedang bekerja, berkendara, rapat, atau berada di tempat yang sulit menemukan toilet, banyak orang memilih menahan buang air kecil.

Sesekali mungkin sulit dihindari.

Namun, jika kebiasaan tersebut terlalu sering dilakukan, proses pengosongan kandung kemih dapat terganggu.

Dorongan untuk buang air kecil merupakan sinyal alami tubuh ketika kandung kemih mulai terisi.

Ketika sinyal tersebut terus diabaikan, kandung kemih harus menampung urine dalam jumlah lebih banyak.

Dalam kondisi tertentu, hal itu dapat membuat urine tidak keluar secara optimal saat seseorang akhirnya berkemih.

Spesialis urologi dari FKUI-RSCM Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U, menjelaskan bahwa kandung kemih memiliki kapasitas tertentu.

Ketika urine terus ditahan, volumenya dapat meningkat hingga melampaui kapasitas yang seharusnya.

"Kapasitas kandung kemih itu misalnya 400 cc, kalau ditahan bisa sampai 600 cc. Saat kencing, kandung kemih jadi tidak kuat memompa habis, sehingga tersisa kencing di dalam. Sisa kencing inilah yang menjadi tempat subur berkembangnya kuman," terang Nur Rasyid dalam wawancara di Jakarta, Senin (17/3).

Urine yang tersisa di dalam kandung kemih menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan.

Jika pengosongan kandung kemih tidak optimal dan kondisi tersebut berulang, bakteri dapat lebih mudah berkembang sehingga meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK).

ISK dapat menimbulkan sejumlah keluhan, seperti rasa perih atau terbakar ketika buang air kecil, lebih sering ingin kencing, serta urine yang berubah bau atau tampak keruh.

Jika infeksi tidak ditangani dan berkembang ke bagian saluran kemih yang lebih tinggi, ginjal juga dapat terdampak.

Masalah akibat kebiasaan menahan kencing tidak berhenti pada risiko infeksi.

Kandung kemih yang terlalu sering mengalami peregangan dan tidak dikosongkan dengan baik dapat mengalami gangguan dalam proses pengosongan urine.

Dalam kondisi tertentu, urine yang tidak keluar sepenuhnya juga dapat berkaitan dengan terbentuknya batu kandung kemih.

Mineral yang terdapat dalam urine dapat mengendap dan membentuk kristal.

Endapan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi batu yang mengganggu aliran urine.

"Jika dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang, kebiasaan ini bahkan dapat memicu terbentuknya batu di kandung kemih dan merusak jaringan ginjal," lanjut Nur Rasyid.

Gangguan aliran urine yang berat juga dapat menyebabkan urine tertahan pada saluran kemih dan dalam kondisi tertentu berhubungan dengan hidronefrosis, yakni pembengkakan pada ginjal akibat terganggunya aliran urine.

Namun, hidronefrosis tidak berarti otomatis terjadi hanya karena seseorang pernah menahan kencing.

Kondisi tersebut dapat disebabkan berbagai gangguan yang menghambat aliran urine sehingga memerlukan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebabnya.

Gangguan fungsi kandung kemih juga dapat membuat seseorang mengalami masalah dalam mengontrol keluarnya urine.

Salah satu bentuknya adalah inkontinensia urin, ketika urine keluar tanpa dapat dikendalikan secara optimal.

Karena itu, menahan kencing sesekali karena keadaan tertentu tentu berbeda dengan menjadikannya kebiasaan sehari-hari.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang berulang kali mengabaikan rasa ingin buang air kecil atau mulai mengalami perubahan dalam pola berkemih.

Tidak semua keluhan setelah menahan kencing berarti seseorang mengalami kerusakan organ.

Namun, beberapa gejala sebaiknya tidak diabaikan.

Pemeriksaan medis diperlukan apabila seseorang mengalami nyeri atau rasa terbakar ketika buang air kecil, urine berdarah, demam, nyeri di bagian pinggang, kesulitan mengeluarkan urine, aliran urine melemah, atau merasa kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong setelah buang air kecil.

Keluhan berupa urine yang keluar tanpa dapat dikendalikan atau keinginan buang air kecil yang semakin sering juga patut diperhatikan, terutama jika berlangsung terus-menerus.

Menjaga kebiasaan berkemih secara teratur merupakan langkah sederhana untuk membantu mempertahankan fungsi saluran kemih.

Jika tubuh sudah memberikan sinyal ingin buang air kecil, jangan menjadikannya kebiasaan untuk terus menunda ke toilet.

Sebab, persoalannya bukan sekadar rasa ingin kencing yang tertahan.

Pada sebagian orang, gangguan pengosongan urine yang berlangsung berulang dapat berkembang menjadi masalah saluran kemih yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Editor : Lugas Rumpakaadi
menahan kencing